Pemilu Kilat Clacton: Farage Melawan Kandidat Joke, Boykot Partai Besar Warnai Kontes Politik Inggris
Baca dalam 60 detik
- Pemungutan suara di Clacton berlangsung Kamis, dengan Farage dari Reform UK bersaing melawan 33 kandidat pinggiran, termasuk Count Binface, setelah partai-partai utama memboikot pemilu.
- Analis memperkirakan Farage menang telak, namun Binface berpotensi meraup hingga 20% suara, menyoroti ketidakpuasan publik dan kritik terhadap manuver politik Farage.
- Hasil pemilu ini akan memicu penyelidikan parlemen atas keuangan Farage dan dapat mempengaruhi elektabilitas Reform UK menjelang pemilu berikutnya.

Pemungutan suara dalam pemilu sela (by-election) di daerah pemilihan Clacton, Essex, Inggris, resmi digelar Kamis (13/8) pagi waktu setempat. Kontes yang semestinya menjadi panggung pertarungan politik serius justru berubah menjadi ajang satire, setelah partai-partai besar Inggris memboikot pemilu ini. Panggung politik Clacton kini dikuasai oleh pemimpin sayap kanan Reform UK, Nigel Farage, yang harus berhadapan dengan puluhan kandidat konyol, termasuk tokoh fiktif Count Binface yang mengenakan tempat sampah di kepalanya.
Keputusan Farage untuk mencalonkan diri kembali di Clacton memicu kontroversi. Pada 7 Juli lalu, ia mengejutkan publik dengan mengundurkan diri dari kursi parlemen yang baru ia pegang sejak 2024, di tengah sorotan tajam terhadap keuangan partainya. Farage menyebut pengunduran dirinya sebagai bentuk "stitch-up" atau konspirasi, dan menantang warga Clacton untuk menjadi hakim atas tindakannya. Namun, langkah ini justru dibaca banyak pihak sebagai upaya menghindari pemeriksaan finansial yang lebih dalam.
Partai Konservatif, Buruh, dan Liberal Demokrat kompak memboikot pemilu ini, menilai Farage hanya mencari panggung politik tanpa substansi. Akibatnya, surat suara di Clacton dipenuhi oleh 33 kandidat independen dan kandidat dari partai-partai kecil, termasuk tiga kandidat dari Official Monster Raving Loony Party. Fenomena ini menjadi sorotan media, bahkan di salah satu tempat pemungutan suara, contoh surat suara yang tergantung di pintu masuk disebut lebih tinggi dari rata-rata pemilih.
Count Binface, yang merupakan alter ego komedian Jon Harvey, telah lama menjadi kandidat satire dalam politik Inggris. Meski dianggap konyol, ia berhasil merebut perhatian publik dan berpotensi meraih hingga 20 persen suara, menurut jajak pendapat. Analis politik John Curtice dari University of Strathclyde menilai kemenangan Farage hampir pasti, namun ia menggarisbawahi bahwa pemilu ini lebih merupakan cermin kegagalan Farage dalam membangun pertarungan politik yang serius. "Rencana Farage untuk mengubah pemilu sela ini menjadi pertempuran politik yang serius gagal total," ujar Stijn van Kessel, profesor politik dari Queen Mary University of London, seperti dikutip AFP. "Spektakel ini justru membuat Farage terlihat konyol."
Di balik hiruk-pikuk kandidat konyol, isu keuangan Farage tetap menjadi bayang-bayang. Komite pengawas etika parlemen (sleaze watchdog) masih menyelidiki dugaan kegagalan Farage dan wakilnya, Richard Tice, dalam mendeklarasikan hadiah finansial, termasuk donasi sebesar 5 juta poundsterling (sekitar Rp100 miliar) dari miliarder kripto Christopher Harborne. Kepolisian London juga telah membuka penyelidikan terkait donasi ke Reform UK sebelum pemilu 2024, yang menurut media Inggris berkaitan dengan dukungan finansial yang tidak dideklarasikan dari George Cottrell, sekutu lama Farage yang pernah terkonvksi penipuan.
- Farage memperoleh 46% suara pada pemilu 2024 di Clacton, dengan mayoritas 8.405 suara.
- Jumlah kandidat di Clacton mencapai 34 orang, tertinggi dalam sejarah pemilu parlemen Inggris.
- Partisipasi pemilih pada pemilu 2024 mencapai 59%, namun diperkirakan turun signifikan kali ini.
- Donasi yang bermasalah mencapai ยฃ5 juta, setara US$6,7 juta.
Kontroversi ini berimbas pada elektabilitas Reform UK yang sempat memuncaki jajak pendapat nasional selama 18 bulan, namun kini mulai merosot. Luke Tryl, direktur lembaga riset More in Common, menilai pendukung inti Farage "tampaknya tidak terpengaruh", namun pendukung baru yang sebelumnya beralih dari partai lain "mungkin mulai goyah". Fenomena ini menarik untuk dicermati, terutama di Indonesia yang juga akrab dengan politik identitas dan populisme. Meski konteksnya berbeda, dinamika elektoral di Clacton mengingatkan bahwa manuver politik yang mengabaikan transparansi dapat memicu resistensi publik, bahkan dalam bentuk satire politik.
Penghitungan suara akan dimulai segera setelah pemungutan suara ditutup pukul 22.00 waktu setempat, dengan hasil diperkirakan keluar Jumat pagi. Jika Farage menang, penyelidikan parlemen atas keuangannya akan kembali bergulir, dan ia harus menghadapi konsekuensi politik yang mungkin lebih besar daripada sekadar kursi di parlemen. Pertanyaannya, apakah kemenangan di Clacton akan menjadi batu loncatan bagi Farage untuk bangkit kembali, atau justru menjadi awal dari keruntuhan politiknya?



