Gaya Hidup Ganda Profesional Berpendidikan di Singapura: Kecanduan Narkoba di Balik Kesuksesan
Baca dalam 60 detik
- Jumlah narapidana dengan pendidikan tinggi di pusat rehabilitasi Singapura meningkat 44% dalam empat tahun terakhir.
- Para profesional ini sering menggunakan narkoba untuk meningkatkan produktivitas dan mengatasi stres, bukan sekadar pelarian.
- Tantangan terbesar setelah bebas adalah membangun kembali karier dan identitas diri yang sempat hancur.

Di balik kesuksesan karier dan pendidikan tinggi, sejumlah profesional di Singapura menyembunyikan kecanduan narkoba yang telah menggerogoti hidup mereka. Fenomena ini terungkap melalui kisah Cornelyus Tan, mantan manajer pemasaran yang harus menjalani rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Narkoba Penjara Changi setelah bertahun-tahun memakai metamfetamin. Data resmi menunjukkan peningkatan signifikan jumlah narapidana berpendidikan tinggi, memicu pertanyaan tentang efektivitas pencegahan narkoba di kalangan kelas menengah atas.
Menurut statistik Dinas Penjara Singapura, pada 2025 terdapat 293 narapidana dengan pendidikan tersier atau lebih tinggi di pusat rehabilitasi, naik dari 204 orang pada 2021. Mereka kini mewakili sekitar satu dari sepuluh narapidana baru, meningkat dari 8,8 persen. Kisaran pendidikan mereka mulai dari diploma politeknik hingga doktor. Badan Narkotika Pusat (CNB) menyebut tren ini sejalan dengan meningkatnya tingkat pendidikan penduduk Singapura, di mana proporsi penduduk berusia 25 tahun ke atas dengan pendidikan tersier naik dari 42,9 persen menjadi 54,5 persen dalam satu dekade.
Para konselor yang menangani pecandu menegaskan bahwa kecanduan tidak mengenal status sosial. Gopal Mahey, konselor senior di Centre for Psychotherapy, mengatakan bahwa pengguna narkoba tidak lagi terbatas pada mereka yang kurang berpendidikan atau pengangguran. Faktor pendorongnya antara lain meluasnya pasar narkoba global, meningkatnya ketersediaan narkoba sintetis, serta kemudahan akses melalui teknologi. Tham Yuen Han, direktur eksekutif We Care Community Services, mencontohkan saluran Telegram yang menjual narkoba secara terbuka, sehingga pengguna tidak perlu lagi memiliki koneksi pribadi dengan pengedar.
Bagi sebagian profesional, narkoba awalnya terasa seperti solusi, bukan masalah. Tan mengaku metamfetamin memberinya efek 'Superman' yang membuatnya lebih produktif dan kreatif. Ia pertama kali mencoba narkoba pada 2014 saat masih menjadi fotografer mode. Namun, kecanduan itu akhirnya menghancurkan kariernya. Ia dipecat pada Juni 2022 karena kinerja buruk, lalu overdosis dan koma. Setelah pulih, ia tetap memakai narkoba hingga digerebek CNB pada September 2022. Kisah serupa dialami John, mantan guru sekolah menengah, yang menyembunyikan kecanduannya selama setengah tahun sambil mengajar. Ia mulai bolos mengajar dan akhirnya diminta cuti tanpa gaji sebelum menjalani rehabilitasi di Thailand.
Para ahli menilai bahwa kecanduan di kalangan profesional sering kali dipicu oleh tekanan pekerjaan dan keinginan untuk selalu tampil sempurna. Samuel Chua, konselor utama di Institute of Mental Health, mengatakan bahwa mereka sama seperti pecandu lainnya, ingin melarikan diri dari rasa sakit dan stres. Namun, karena percaya diri pada kemampuan mereka, mereka cenderung menganggap bisa mengendalikan pemakaian narkoba. Hal ini membuat mereka lebih sulit mengakui masalah dan mencari bantuan.
Setelah menjalani rehabilitasi, tantangan terbesar adalah membangun kembali karier. Banyak dari mereka tidak bisa kembali ke profesi semula, dan terpaksa menerima pekerjaan di bawah kualifikasi. Anderson Neo, kepala aftercare di Singapore Anti-Narcotics Association, mengatakan bahwa hal ini memengaruhi harga diri mereka. Organisasi seperti Yellow Ribbon SG membantu mantan narapidana mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka, termasuk di bidang profesional dan manajerial. Namun, proses reintegrasi tetap berat, terutama bagi mereka yang pernah membangun identitas diri dari prestasi.
Bagi Tan, pemulihan berarti menghadapi masa kecil yang sulit dengan ibu yang kasar. Ia tumbuh merasa tidak aman dan menganggap kesuksesan sebagai jalan menuju keamanan. Sementara bagi John, akar masalahnya adalah kesepian. Ia kesulitan dalam situasi sosial dan mendambakan koneksi, yang sering membuatnya kembali memakai narkoba. Tan kini bekerja sebagai manajer komunikasi strategis di HCSA Community Services, sebuah lembaga amal yang membantunya menemukan kembali tujuan hidup. Ia bercerita tentang kerentanan dan harapan, serta menjadi sukarelawan di rumah singgah untuk mantan narapidana.
Fenomena ini juga relevan bagi Indonesia, yang menghadapi tantangan serupa dengan meningkatnya kasus narkoba di kalangan profesional muda. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan bahwa narkoba tidak hanya menyasar kalangan ekonomi lemah, tetapi juga pekerja kantoran dan selebritas. Kemudahan akses melalui media sosial dan aplikasi pesan instan menjadi celah yang perlu diwaspadai. Upaya pencegahan yang selama ini berfokus pada edukasi bahaya narkoba tampaknya belum cukup untuk menjangkau kelompok ini. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap menghadapi tren peningkatan pengguna narkoba dari kalangan terdidik, dan bagaimana strategi rehabilitasi yang efektif bagi mereka?



