Remaja Jepang Habiskan 11 Jam Sehari di Ponsel: Alarm Kecanduan Digital yang Mengkhawatirkan
Baca dalam 60 detik
- Seorang siswi SMP di Nagoya tercatat menggunakan smartphone selama 11 jam 26 menit dalam sehari, dua kali lipat rata-rata nasional.
- Psikiater anak menyoroti peningkatan kasus ketergantungan media digital di kalangan remaja, dengan tanda-tanda seperti kesulitan berhenti dan mudah marah saat dibatasi.
- Fenomena ini memicu kekhawatiran akan dampak jangka panjang pada kesehatan mental generasi muda, termasuk di Indonesia yang tingkat penetrasi internetnya terus meningkat.

Nagoya โ Seorang remaja perempuan berusia 14 tahun di Jepang menghabiskan waktu hingga 11 jam 26 menit dalam sehari untuk bermain smartphone, sebuah rekor yang menggambarkan betapa parahnya kecanduan gawai di kalangan pelajar. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat rata-rata waktu online siswa SMP di Negeri Sakura yang mencapai 5 jam 24 menit per hari, berdasarkan survei Badan Anak dan Keluarga setempat. Fenomena ini bukan lagi sekadar kebiasaan, melainkan alarm sosial yang menuntut perhatian serius.
Remaja yang disamarkan namanya sebagai Shiori ini awalnya adalah siswi aktif dengan banyak teman saat masih duduk di bangku SD. Namun, setelah masuk SMP, ia mulai mengalami konflik dengan wali kelasnya. Kondisi psikisnya memburuk menjelang liburan musim panas, dengan gejala berbicara aneh dan tiba-tiba kabur dari rumah. Seiring meningkatnya ketidakhadiran di sekolah, Shiori semakin larut dalam dunia maya, menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah sambil menonton video dansa dan seni kuku yang ia sukai.
Menurut pengakuannya, ia sebenarnya menggunakan ponsel untuk belajar, tetapi rasa bosan membuatnya terjebak dalam aktivitas tanpa tujuan yang jelas. Sang ibu mengaku kewalahan menghadapi kondisi anaknya. Berbagai aturan waktu layar telah diterapkan, namun semuanya gagal. Barang-barang pribadi Shiori seperti alat rias dan buku pelajaran kerap berserakan di ruang keluarga, dan ia enggan membereskannya meski sudah diminta.
Di balik layar, Shiori sebenarnya menyadari masalahnya. Ia berusaha memperbaiki diri dengan mandi pukul tujuh malam dan mengonsumsi obat tidur agar ritme hariannya kembali normal. Namun, perjuangan melawan kecanduan digital tidaklah mudah. Klinik Mental Meieki Sako di Nagoya, tempat Shiori menjalani perawatan, mencatat peningkatan pasien anak dengan masalah ketergantungan media sosial. Direktur klinik, psikiater anak Ryohei Niwa, menyebutkan tanda-tanda bahaya seperti tidak mampu berhenti meski ingin, dan menjadi mudah tersinggung saat penggunaan dibatasi.
Fenomena serupa juga mengemuka di Indonesia. Berdasarkan laporan We Are Social dan Hootsuite, pengguna internet di Indonesia menghabiskan rata-rata 7 jam 42 menit per hari untuk mengakses internet, dengan sebagian besar waktu digunakan untuk media sosial. Anak-anak dan remaja menjadi kelompok yang rentan mengalami dampak negatif, seperti gangguan tidur, penurunan prestasi akademik, dan masalah kesehatan mental. Psikolog anak di Jakarta, Ratih Zulhaqqi, menilai bahwa kecanduan gawai pada remaja sering kali merupakan gejala dari masalah yang lebih dalam, seperti tekanan sosial atau keluarga.
โKecanduan digital bukan sekadar masalah kemauan, tetapi bisa menjadi pelarian dari masalah yang tidak terselesaikan,โ ujar Ratih, yang kerap menangani kasus serupa.
Pemerintah Indonesia sebenarnya telah berupaya merespons dengan berbagai regulasi, seperti pembatasan penggunaan gawai di sekolah dan kampanye literasi digital. Namun, efektivitasnya masih dipertanyakan. Banyak orang tua yang merasa kewalahan dan tidak memiliki strategi yang tepat untuk mengawasi anak-anak mereka di ruang digital. Peran sekolah dan komunitas juga dinilai belum optimal dalam memberikan edukasi tentang penggunaan teknologi yang sehat.
Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya pada individu, tetapi juga pada ekosistem digital yang dirancang untuk membuat pengguna betah berlama-lama. Apakah Indonesia siap menghadapi gelombang kecanduan digital yang lebih besar? Atau akankah kita membiarkan generasi muda tenggelam dalam layar tanpa solusi yang komprehensif?



