Pare: Sayur Pahit Warisan Ayurveda yang Kini Menjadi Sorotan Riset Diabetes
Baca dalam 60 detik
- Pare, buah pahit dari keluarga Cucurbitaceae, telah digunakan dalam pengobatan tradisional India dan China selama berabad-abad, dan kini diteliti potensinya untuk diabetes.
- Senyawa aktif seperti momordisin dan charantin diyakini berperan dalam efek antidiabetes, namun bukti klinis pada manusia masih terbatas dan beragam.
- Di Indonesia, pare tetap menjadi bahan pangan dan jamu populer, namun perlu kewaspadaan bagi ibu hamil dan pengguna obat gula darah.

Pare, buah yang kerap dihindari karena rasa pahitnya yang ekstrem, menyimpan sejarah panjang sebagai obat tradisional dan kini menjadi fokus penelitian ilmiah untuk pengelolaan diabetes. Di tengah meningkatnya prevalensi diabetes di Indonesia, tanaman merambat dari suku labu-labuan ini menawarkan potensi yang belum sepenuhnya terbukti, namun tetap relevan untuk dikaji.
Secara botani, pare (Momordica charantia) adalah buah, tetapi dalam kuliner sehari-hari ia diperlakukan sebagai sayur, serupa dengan tomat dan terong. Tanaman ini tumbuh subur di daerah tropis dan subtropis, dan telah menjadi bagian dari dapur dan apotek tradisional di Asia Selatan, Asia Timur, Afrika, hingga Karibia. Di Indonesia, pare tidak asing: ia hadir dalam tumisan, lalapan, hingga jus, dan dikenal dalam tradisi jamu sebagai ramuan untuk menjaga kesehatan.
Kepahitan pare, yang menjadi ciri khasnya, berasal dari senyawa triterpenoid tipe kukurbitan, terutama momordisin dan momordikosida. Konsentrasi senyawa ini paling tinggi saat buah masih muda dan hijau, dan menurun seiring kematangan buah, yang ditandai dengan perubahan warna kulit menjadi jingga dan munculnya aril merah manis di sekitar biji. Meski sering dihindari, kepahitan ini justru menjadi kunci potensi kesehatannya.
Sejarah pemanfaatan pare sebagai obat sudah tercatat sejak ribuan tahun lalu. Dalam praktik Ayurveda di India, pare digunakan untuk menyeimbangkan gula darah, meredakan gangguan pencernaan, dan mengobati luka kulit. Dari India, pare menyebar ke China pada abad ke-14, di mana ia dipercaya memiliki sifat mendinginkan tubuh dan digunakan untuk mengatasi batuk serta infeksi saluran pernapasan. Melalui jalur perdagangan dan migrasi, pare kemudian tiba di Jepang, Asia Tenggara, dan dibawa oleh pekerja migran India ke Karibia pada masa kolonial.
Di Indonesia, pare telah lama menjadi bagian dari tradisi jamu, meskipun catatan tertulis spesifik dalam manuskrip kuno masih terbatas. Masyarakat Jawa, Sunda, dan daerah lain telah mengenalnya secara turun-temurun sebagai bahan pangan dan herbal. Hingga kini, pare tetap menjadi menu harian di banyak rumah tangga, diolah dengan cara direbus, ditumis, atau dijadikan jus, sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan secara alami.
Riset modern mulai menguak mekanisme di balik efek antidiabetes pare. Senyawa seperti charantin, polipeptida-p, dan vicine diduga mampu meningkatkan penyerapan glukosa oleh sel otot, menghambat produksi glukosa di hati, dan mendukung fungsi sel beta pankreas. Namun, tinjauan sistematis terhadap uji klinis pada manusia menunjukkan hasil yang beragam, dengan tingkat kepastian bukti yang rendah. Artinya, meskipun potensinya menjanjikan, pare belum bisa diklaim sebagai pengganti obat diabetes, melainkan hanya sebagai pendamping yang perlu dikaji lebih lanjut.
Bagi masyarakat Indonesia, pare bukan sekadar sayur pahit, melainkan warisan budaya yang berpotensi mendukung kesehatan. Namun, perlu kehati-hatian: ibu hamil disarankan menghindari konsumsi ekstrak pekat pare karena diduga dapat merangsang kontraksi rahim, dan pengguna obat penurun gula darah harus waspada terhadap risiko hipoglikemia jika mengonsumsi pare secara berlebihan. Bagi umum, pare aman dikonsumsi dalam jumlah wajar sebagai bagian dari menu harian.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah: akankah pare menjadi bagian dari terapi diabetes berbasis bukti di Indonesia? Dengan meningkatnya minat pada pengobatan herbal dan kebutuhan akan alternatif yang terjangkau, pare menawarkan peluang yang menarik. Namun, penelitian lebih lanjut dengan desain uji klinis yang ketat sangat diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanannya. Sampai saat itu tiba, pare tetap layak dinikmati sebagai sayur yang menyehatkan, dengan segala kepahitannya yang khas.



