Anak 13 Tahun di Inggris Alami Kerusakan Kandung Kemih Akibat Ketamin, Klinik Khusus Dibuka
Baca dalam 60 detik
- Rumah Sakit Anak Alder Hey di Liverpool menerima rujukan pasien berusia 13 tahun dengan kerusakan kandung kemih akibat penyalahgunaan ketamin.
- Analisis 60 pasien pertama menunjukkan rata-rata usia 14 tahun, mayoritas perempuan, dan berasal dari daerah tertinggal.
- Pendekatan non-judgmental dan pemahaman latar belakang pasien menjadi kunci pencegahan kerusakan permanen.

Rumah Sakit Anak Alder Hey di Liverpool, Inggris, membuka klinik khusus pertama di negara itu untuk menangani anak-anak dan remaja yang mengalami kerusakan kandung kemih akibat penggunaan ketamin jangka panjang. Langkah ini diambil setelah terjadi lonjakan rujukan pasien muda dengan gangguan urologi yang berkaitan dengan penyalahgunaan obat tersebut.
Data dari 60 pasien pertama yang ditangani klinik ini mengungkap fakta mencengangkan: usia termuda mencapai 13 tahun, dengan rata-rata 14 tahun. Sekitar dua pertiga pasien adalah perempuan, dan proporsi yang sama berasal dari wilayah paling tertinggal di Inggris. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal medis Archives of Disease in Childhood.
Ketamin, yang biasanya digunakan sebagai anestesi medis, dapat menyebabkan kerusakan serius pada kandung kemih jika disalahgunakan. Zat ini dan produk metabolismenya bertahan lama di kandung kemih, merusak lapisan dan jaringan otot. Kondisi ini dikenal sebagai ketamine-induced uropathy atau kandung kemih ketamin, dengan gejala seperti sering buang air kecil, inkontinensia, dan darah dalam urine. Beberapa pasien muda bahkan harus menggunakan popok atau buang air di ember di samping tempat tidur karena kehilangan kontrol kandung kemih.
"Kerusakan yang disebabkan ketamin bisa sangat menghancurkan," ujar Harriet Corbett, konsultan urologi pediatrik di Alder Hey Children's NHS Foundation Trust. "Ini dapat mempengaruhi dinding kandung kemih, menyebabkan ulserasi dan fibrosis, dan efeknya bisa ireversibel. Pasien muda dapat mengalami nyeri kandung kemih kronis dan inkontinensia, dan dalam kasus terberat mungkin memerlukan operasi besar atau dialisis."
Analisis lebih lanjut terhadap 60 pasien mengungkap bahwa 16 di antaranya memiliki autisme atau ADHD, atau keduanya. Satu dari lima pasien pernah terlibat dalam sistem perawatan anak, dan hampir tiga perempat (72%) mengalami trauma emosional pada masa kanak-kanak. Temuan ini menunjukkan bahwa penyalahgunaan ketamin tidak berdiri sendiri, melainkan terkait erat dengan kerentanan psikososial.
Prof Rachel Isba, konsultan kesehatan publik pediatrik di Alder Hey dan profesor emerita di Universitas Lancaster, menekankan pentingnya memahami konteks kehidupan pasien. "Penggunaan ketamin tidak terjadi secara terpisah, dan analisis kami membantu mengeksplorasi berbagai faktor yang mungkin terkait dengan masalah kesehatan serius pada anak muda," ujarnya. Klinik ini menerapkan pendekatan tanpa menghakimi, memberikan ruang aman bagi pasien untuk berbicara tentang kehidupan mereka dan menyusun rencana berhenti menggunakan ketamin.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan tentang kerentanan remaja terhadap penyalahgunaan zat, terutama di kalangan mereka yang menghadapi tekanan mental dan sosial. Di Inggris, layanan kesehatan mental anak dan remaja sedang menghadapi beban besar, dan kasus-kasus seperti ini menunjukkan perlunya intervensi dini yang holistik.
Konteks Indonesia
Meskipun berita ini berasal dari Inggris, implikasinya bagi Indonesia patut dicermati. Ketamin merupakan obat yang diawasi ketat di Indonesia dan termasuk dalam golongan psikotropika. Namun, penyalahgunaannya di kalangan remaja tetap menjadi kekhawatiran, terutama di kota-kota besar. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan peningkatan penyalahgunaan obat-obatan terlarang di kalangan pelajar. Kasus kandung kemih ketamin mungkin belum banyak dilaporkan di Indonesia, tetapi kewaspadaan perlu ditingkatkan mengingat dampaknya yang permanen.
Pendekatan yang digunakan Alder Hey—memahami latar belakang pasien dan memberikan dukungan non-judgmental—dapat menjadi pelajaran bagi layanan kesehatan dan rehabilitasi di Indonesia. Kolaborasi antara dokter, psikolog, dan pekerja sosial sangat penting untuk menangani akar masalah, bukan hanya gejala.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Indonesia siap mendeteksi dan menangani kasus serupa sebelum menjadi krisis kesehatan publik. Edukasi tentang bahaya ketamin dan akses layanan kesehatan mental yang ramah remaja menjadi kunci untuk mencegah kerusakan yang tidak dapat dipulihkan.



