Bitcoin Bangkit dari Titik Terendah Sesi Asia, Harga Minyak Anjlok Jadi Katalis Baru
Baca dalam 60 detik
- Bitcoin berhasil keluar dari tekanan pagi setelah menyentuh level terendah sesi Asia di kisaran US$85.000 dan kembali diperdagangkan mendekati US$86.000.
- Penurunan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di bawah US$90 per barel meredakan kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar.
- Arus masuk hampir US$1 miliar ke ETF Bitcoin spot AS pada Senin menjadi sinyal permintaan institusional yang kembali menguat.

Bitcoin berhasil bangkit dari titik terendah sesi perdagangan Asia dan kembali mendekati level US$86.000, didorong oleh penurunan harga minyak mentah yang meredakan tekanan inflasi global. Mata uang kripto terbesar itu sempat tertekan ke kisaran US$85.000 sebelum akhirnya berbalik arah, menandai rebound yang mengukuhkan tren bullish setelah sebelumnya menembus level tertinggi Mei.
Indeks CoinDesk 20 (CD20) yang melacak kinerja kripto utama tercatat naik 2,2% dalam 24 jam terakhir, mencerminkan pemulihan yang merata di seluruh pasar. Lonjakan ini tidak lepas dari aksi beli investor institusional melalui produk ETF Bitcoin spot yang terdaftar di Amerika Serikat. Pada Senin, ETF tersebut menyerap hampir US$1 miliar dana segarโjumlah terbesar dalam satu hari sejak Oktober tahun lalu. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa minat institusi terhadap aset digital kembali menggeliat setelah beberapa bulan lesu.
Penurunan harga minyak menjadi pemicu utama perubahan sentimen. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) anjlok lebih dari 2% ke bawah US$90 per barel, melanjutkan koreksi dari puncak US$106. Penurunan ini terjadi setelah laporan Kyodo yang menyebutkan Iran bersedia membuka kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari jika Amerika Serikat melonggarkan blokade. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga meredanya ketegangan di kawasan tersebut langsung menekan harga minyak.
Dampak lanjutannya terasa pada ekspektasi kebijakan moneter. Harga minyak yang lebih rendah berpotensi meredam tekanan inflasi, yang pada gilirannya melemahkan argumen untuk kenaikan suku bunga Federal Reserve lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang. Hal ini menjadi angin segar bagi aset berisiko seperti kripto, yang selama ini sensitif terhadap kebijakan suku bunga.
"Pasar kripto bergerak naik seiring dengan lonjakan indeks Nasdaq. Penurunan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS, kenaikan pasar saham global, serta optimisme terhadap negosiasi AS-China turut mendukung selera risiko," ujar Alex Kuptsikevich, kepala analis pasar di The FxPro, dalam keterangan tertulisnya.
Selain Bitcoin, pasar kripto secara keseluruhan juga menunjukkan kekuatan. Token-token alternatif mencatat kenaikan signifikan, dengan PEPE, DOGE, dan SHIB masuk dalam jajaran 10 kripto berkinerja terbaik dalam 24 jam terakhir. Lonjakan tajam pada memecoin sering dianggap sebagai indikator meningkatnya selera spekulatif di pasar. Fenomena ini bisa menjadi pedang bermata dua: di satu sisi menandakan likuiditas yang melimpah, namun di sisi lain juga mengisyaratkan risiko koreksi tajam jika sentimen berbalik.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini menawarkan beberapa implikasi penting. Pertama, pelemahan harga minyak dunia dapat mengurangi beban subsidi energi dan defisit anggaran, memberikan ruang fiskal yang lebih longgar. Kedua, arus modal global yang kembali ke aset berisiko berpotensi mengalir ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, meskipun tetap bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah. Ketiga, bagi pelaku pasar kripto dalam negeri, rebound Bitcoin bisa menjadi katalis positif untuk aktivitas perdagangan di bursa kripto lokal seperti Indodax dan Pintu, yang selama ini masih didominasi investor ritel.
Meski demikian, risiko eksternal masih membayangi. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah bisa kembali memanas jika negosiasi AS-Iran tidak berjalan mulus. Selain itu, data inflasi AS yang akan dirilis dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi penentu arah kebijakan The Fed. Jika inflasi tetap tinggi, ekspektasi penurunan suku bunga bisa menguap dan menekan kembali aset kripto.
Pertanyaannya, apakah reli Bitcoin kali ini didorong oleh fundamental yang solid atau sekadar euforia jangka pendek? Dengan arus masuk institusional yang besar dan sentimen makro yang membaik, peluang untuk melanjutkan tren positif masih terbuka. Namun, investor perlu mencermati apakah kenaikan memecoin yang agresif menandakan puncak spekulasi yang biasanya mendahului koreksi.



