Investasi Asing di Malaysia Dikritik: Menteri Peringatkan Risiko Matikan Industri Lokal
Baca dalam 60 detik
- Menteri Perdagangan Malaysia, Johari Abdul Ghani, menegaskan investasi asing harus melengkapi, bukan menggusur, industri dalam negeri.
- Defisit dagang Malaysia dengan China mencapai RM146 miliar tahun lalu, memicu kekhawatiran akan dominasi produk impor.
- Pemerintah Malaysia akan memperketat evaluasi lisensi manufaktur dan mendorong kemitraan ala Proton-Geely untuk melindungi pelaku usaha lokal.

Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia, Datuk Seri Johari Abdul Ghani, mengeluarkan peringatan tegas: investasi asing yang masuk ke negeri jiran tidak boleh menjadi bumerang bagi industri lokal. Dalam pidatonya di hadapan para pengusaha pada Minggu (9/8), ia menegaskan bahwa tanpa pengawasan ketat, Malaysia berisiko berubah menjadi sekadar pasar bagi produk-produk impor, mengikis capaian industrialisasi yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang gempuran produk asing, terutama dari China. Johari menggarisbawahi bahwa kompetisi dengan perusahaan asing yang memiliki skala ekonomi raksasa—China dengan pasar domestik 1,45 miliar jiwa—sangat timpang bagi pelaku usaha lokal yang beroperasi di pasar yang jauh lebih kecil. Ia mencontohkan sektor besi dan baja dalam negeri yang kesulitan bersaing dengan pemain asing yang memproduksi dalam jumlah jauh lebih besar. "Ketika perusahaan Malaysia memproduksi 100.000 unit sementara perusahaan asing memproduksi tiga juta unit, struktur biayanya sangat berbeda. Sangat sulit untuk bersaing dalam kondisi seperti itu," ujarnya.
Data yang dipaparkan Johari cukup memprihatinkan. Defisit perdagangan Malaysia dengan China mencapai RM146 miliar pada tahun lalu. Sementara itu, surplus perdagangan global Malaysia menyusut menjadi RM153 miliar dari sebelumnya RM257 miliar beberapa tahun lalu, seiring melonjaknya impor. Angka-angka ini menjadi sinyal bahwa ketergantungan pada produk asing semakin dalam, dan jika dibiarkan, dapat menggerus daya saing industri nasional.
Menanggapi situasi ini, Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri (MITI) berkomitmen untuk mengevaluasi secara ketat setiap permohonan lisensi manufaktur. Johari menegaskan bahwa investasi asing yang masuk harus membawa teknologi baru, menjalin kemitraan dengan perusahaan lokal, dan memperkuat rantai pasok domestik. "Di mana perusahaan lokal telah membangun bisnis yang sukses, investor baru tidak boleh bersaing dengan cara yang menyebabkan perusahaan-perusahaan itu tutup," tegasnya. Ia mencontohkan kemitraan antara Proton dan Geely sebagai model ideal kolaborasi asing yang saling menguntungkan.
Peringatan Johari ini relevan tidak hanya bagi Malaysia, tetapi juga bagi Indonesia yang memiliki struktur ekonomi serupa. Indonesia juga bergulat dengan isu serupa: bagaimana menarik investasi asing untuk mendorong pertumbuhan tanpa mengorbankan industri dalam negeri. Kebijakan hilirisasi yang digalakkan pemerintah Indonesia, misalnya, bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, sejalan dengan semangat yang disuarakan Johari. Namun, tantangannya adalah bagaimana menyeimbangkan daya tarik investasi dengan perlindungan terhadap pelaku usaha lokal, terutama UMKM.
Para pengamat menilai bahwa langkah Malaysia untuk memperketat evaluasi lisensi manufaktur adalah langkah berani yang bisa menjadi preseden bagi negara-negara ASEAN lainnya. Namun, kebijakan ini juga berisiko mengurangi daya tarik Malaysia sebagai tujuan investasi asing. Pertanyaannya, apakah negara-negara tetangga seperti Indonesia akan mengambil langkah serupa, atau justru memanfaatkan celah ini untuk menarik investor yang merasa dibatasi di Malaysia?
Ke depan, keberhasilan kebijakan ini akan sangat bergantung pada konsistensi implementasi dan dialog yang berkelanjutan antara pemerintah, pelaku industri, dan investor asing. Apakah Malaysia mampu menjaga keseimbangan antara keterbukaan ekonomi dan perlindungan industri nasional? Atau justru sebaliknya, kebijakan protektif ini akan membuat investor asing berpaling ke negara lain? Waktu yang akan menjawab, tetapi yang jelas, langkah ini menandai perubahan arah dalam strategi investasi Malaysia yang patut dicermati.



