Pertemuan Trump-Xi: Ketika Kemandirian Ekonomi China Mengubah Peta Dagang Global
Baca dalam 60 detik
- Pertemuan puncak Trump-Xi menjadi sorotan karena China kini lebih tahan terhadap tekanan eksternal berkat strategi swasembada.
- Defisit dagang AS-China kembali melebar akibat lonjakan permintaan komponen AI, meski tarif masih berlaku.
- Negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, menghadapi dilema antara menjadi mitra dagang atau terdampak banjir barang murah China.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu dalam pertemuan puncak kedua tahun ini, sebuah momen yang dinanti pelaku pasar global. Namun berbeda dari era sebelumnya, posisi China kini jauh lebih kokoh. Strategi swasembada yang digenjot sejak beberapa tahun terakhir membuat ekonomi terbesar kedua dunia itu tidak lagi sepenuhnya bergantung pada belas kasih Washington.
Data terbaru menunjukkan defisit dagang AS dengan China sempat menyusut ke level terendah sejak 2017 pada April lalu, tetapi kembali melebar seiring lonjakan permintaan komponen terkait kecerdasan buatan (AI). Menurut data Bea Cukai China yang diakses melalui Wind Information, impor barang teknologi dari China justru meningkat, menandakan tarif yang dikenakan pemerintahan sebelumnya tidak cukup membendung selera konsumen dan industri AS.
Yang lebih menarik, ketergantungan dunia pada barang buatan China justru semakin dalam. Presiden Kamar Dagang Eropa di China, Jens Eskelund, mencatat bahwa lebih dari 60% impor AS masih berasal dari Asia, tak berubah sejak sebelum kebijakan "Liberation Day". Ia memperkirakan separuh hingga tiga perempat lalu lintas kontainer dari China ke Asia Tenggara kemudian melanjutkan perjalanan ke tujuan lain. "Saya sebelumnya memperkirakan China akan menyumbang 40% ekspor kontainer global pada 2030, tetapi tonggak itu sudah tercapai musim panas ini," ujarnya.
Pergeseran ini tidak lepas dari krisis properti China yang mulai memburuk pada 2022. Permintaan domestik melemah, memaksa perusahaan-perusahaan China banting setir ke pasar ekspor. Eskelund menyebut ada korelasi langsung antara penurunan harga ekspor dan percepatan volume ekspor. "China bisa melakukannya karena China satu-satunya pemain," tegasnya.
Di sisi lain, perlambatan ekonomi domestik justru mendorong perusahaan China bersaing lebih agresif, baik di pasar global maupun antar-mereka sendiri. Survei Kamar Dagang Amerika di Shanghai pada September mengungkap tiga perempat responden menilai pesaing lokal China lebih unggul, dengan selisih kualitas produk menyempit 6 poin persentase dari tahun lalu. Untuk pertama kalinya sejak 2022, persaingan domestik melampaui ketegangan geopolitik sebagai tantangan utama bagi anggota kamar dagang tersebut.
"Tidak ada indikasi bahwa strategi China bergantung pada tindakan pihak lain. Ini strategi ketergantungan satu arah dari dunia terhadap China yang akan mereka senjatakan," ujar Chad Bown, senior fellow di Peterson Institute for International Economics.
Bagi Indonesia, dinamika ini menciptakan dilema tersendiri. Di satu sisi, Indonesia dapat memanfaatkan posisi sebagai mitra dagang untuk menarik investasi dari perusahaan China yang mencari basis produksi alternatif. Di sisi lain, banjir barang murah China berpotensi mengancam industri manufaktur dalam negeri, terutama tekstil dan elektronik. Pemerintah perlu memperkuat kebijakan anti-dumping dan mendorong hilirisasi agar tidak sekadar menjadi pasar.
Uni Eropa pun mulai mengikuti jejak AS dalam mengawasi ekspor asal China. Komisioner Perdagangan UE, Maroลก ล efฤoviฤ, mendesak adanya "hasil nyata" dari China sebelum Oktober dan dijadwalkan berkunjung ke Beijing bulan depan. Eskelund menambahkan UE memiliki defisit dagang terbesar dengan China dibanding ekonomi lain.
Ke depan, pertemuan Trump-Xi diperkirakan hanya menghasilkan perpanjangan gencatan senjata dagang, bukan kesepakatan besar. Ekonom Goldman Sachs, Hui Shan, menilai pembuat kebijakan China tidak merasa perlu segera melonggarkan kebijakan moneter karena masih ada subsektor yang tumbuh tinggi, seperti produksi robot industri yang naik 34,6% year-on-year pada Agustus. Namun, dengan harga rumah yang sudah turun 30% dalam enam tahun dan pasar tenaga kerja lemah, tekanan untuk berbenah tetap besar. Akankah China terus mengandalkan ekspor sebagai katup penyelamat, atau justru mempercepat reformasi domestik?



