James Acaster Akui Berbohong ke Ed Gamble soal The Celebrity Traitors, Komedian Dianggap Paling Dicurigai
Baca dalam 60 detik
- James Acaster mengaku terpaksa menutupi keikutsertaannya di The Celebrity Traitors dari Ed Gamble, sahabat sesama komedian yang menjadi host podcast pendamping acara tersebut.
- Dominasi komedian di musim kedua memicu kekhawatiran bahwa mereka akan menjadi target utama tuduhan sejak awal permainan, terutama setelah Alan Carr menang di musim perdana.
- Acara yang kembali tayang 1 Oktober ini diprediksi menghadirkan dinamika baru, dengan Acaster menilai peluangnya bertahan hingga akhir sama besarnya dengan peserta lain.

James Acaster mengungkapkan bahwa ia pernah menyembunyikan keterlibatannya dalam The Celebrity Traitors dari Ed Gamble, komedian yang juga menjalankan podcast resmi pendamping acara tersebut. Pengakuan itu muncul saat Acaster ditanya tentang kebohongan terbesar yang pernah berhasil ia lakukan.
Komedian berusia 41 tahun itu menjadi salah satu peserta musim kedua The Celebrity Traitors, spin-off BBC yang dijadwalkan tayang perdana pada 1 Oktober. Ia sengaja merahasiakan partisipasinya dari Gamble, yang dikenal sebagai host The Traitors: Uncloaked, program bincang-bincang yang membahas jalannya permainan.
"Saya tidak pandai berbohong dan tidak biasa melakukannya. Mungkin kebohongan terbesar yang pernah berhasil saya lakukan adalah mengatakan kepada Ed Gamble bahwa saya tidak ikut The Celebrity Traitors," ujar Acaster kepada BBC, seperti dikutip dari wawancara tersebut.
Acaster mengaku telah menonton musim perdana spin-off selebriti itu dan mengagumi strategi Alan Carr, yang keluar sebagai pemenang. Ia juga sempat berbicara dengan Joe Wilkinson dan Nick Mohammed, dua peserta musim sebelumnya, untuk mendapatkan gambaran tentang atmosfer permainan. Menurut Acaster, Wilkinson lebih santai, sementara Mohammed cenderung serius memecahkan kasus. Ia memperkirakan gaya bermainnya akan berada di antara keduanya.
Musim kedua ini diramaikan oleh banyak nama dari dunia komedi. Acaster menyebut komposisi tersebut sebagai "kekhawatiran" karena para komedian berpotensi dianggap sebagai ancaman kolektif. "Akan ada kecurigaan bahwa setidaknya salah satu dari kami dipilih sebagai Traitor, dan kami mungkin membentuk aliansi jika tidak dipisahkan," katanya.
Ia memperkirakan para komedian akan menjadi kelompok pertama yang disorot, terutama pada awal permainan ketika belum ada petunjuk kuat. "Anda juga harus mempertimbangkan bahwa seorang komedian menang tahun lalu dengan Alan Carr melucuti semua orang lewat lelucon. Dia telah menodai kami semua," tambahnya setengah bercanda.
Acaster juga menyoroti kemungkinan intervensi logika matematika dari Hannah Fry, peserta lain yang dikenal sebagai akademisi. Menurutnya, Fry bisa meyakinkan kelompok bahwa secara probabilitas akan ada komedian yang dipilih sebagai Traitor karena jumlah mereka yang banyak. "Meskipun bisa saja tiga orang non-komedian yang dipilih... jika matematika berbalik melawan kami, kami dalam masalah besar," ujarnya.
"Setiap kali saya menonton serial ini, tidak ada pola yang jelas. Orang yang pendiam bisa bertahan sampai akhir, begitu pula karakter besar. Siapa pun bisa sampai ke final. Anda bisa menghindari pembunuhan atau pengusiran hanya dengan tidak dianggap cukup berbahaya."
โ James Acaster
Soal peluangnya sendiri, Acaster mengaku tidak tahu apakah ia memiliki kemampuan untuk bertahan hingga akhir. Ia menilai permainan ini sangat tidak terduga: peserta pendiam bisa lolos, sementara karakter menonjol justru rentan menjadi sasaran. "Saya bisa saja dianggap tidak berbahaya. Ya, saya bisa sampai akhir. Ini permainan siapa saja," tuturnya.
Bagi industri hiburan Indonesia, fenomena The Celebrity Traitors menunjukkan bagaimana format permainan realitas berbasis strategi sosial terus menarik perhatian global. Kesuksesan spin-off selebriti ini dapat menjadi acuan bagi produser lokal yang ingin mengembangkan program serupa dengan bintang tanah air, terutama di tengah meningkatnya konsumsi konten streaming dan televisi digital. Namun, tantangan utama tetap pada kemampuan membangun narasi yang tidak hanya mengandalkan popularitas peserta, tetapi juga dinamika psikologis yang autentik.
Dengan tayangnya musim kedua pada 1 Oktober, publik akan segera menilai apakah dominasi komedian benar-benar menjadi kerugian strategis atau justru senjata tersembunyi. Akankah Acaster dan rekan-rekannya membuktikan bahwa tawa bisa menjadi tameng, atau justru sebaliknya?



