Gerindra: Rapor 'Oke' Prabowo Bukan Klaim Sepihak, Ini Buktinya
Baca dalam 60 detik
- Survei IPO mencatat kepuasan publik 63% terhadap pemerintahan Prabowo, menjadi dasar klaim kinerja 'oke'.
- Stabilitas ekonomi dan kinerja Danantara yang melonjak 300-400% disebut sebagai indikator utama keberhasilan.
- Gerindra menegaskan predikat 'oke' tidak boleh memicu euforia, melainkan dorongan untuk kerja lebih cepat dan terbuka pada kritik.

Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, menegaskan bahwa pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai kinerja dua tahun pemerintahannya yang dinilai "oke" bukanlah sekadar klaim sepihak. Penilaian tersebut, menurutnya, merupakan refleksi atas kerja keras seluruh jajaran pemerintahan dan sejalan dengan persepsi publik yang tercermin dalam survei Indonesia Political Opinion (IPO) yang mencatat tingkat kepuasan mencapai 63 persen per 8 Agustus 2026.
Menurut Sugiat, stabilitas politik dan soliditas tim kabinet menjadi fondasi utama dalam menjalankan program-program lintas sektor. Hal ini terbukti dari kemampuan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi domestik di tengah gejolak global. Ketika banyak negara menaikkan harga energi, Indonesia justru mempertahankan harga BBM bersubsidi untuk melindungi daya beli masyarakat dan menekan inflasi. Langkah ini, kata Sugiat, merupakan salah satu indikator nyata bahwa pemerintahan berjalan di jalur yang tepat.
Lebih lanjut, Sugiat menyoroti kinerja Badan Pengelola Investasi Danantara yang dalam satu tahun terakhir menunjukkan peningkatan finansial signifikan, mencapai 300 hingga 400 persen. Capaian ini dinilai sebagai bukti komitmen Presiden Prabowo dalam memperbaiki tata kelola dan menutup celah kebocoran anggaran. "Keberhasilan menjalankan program-program lintas sektor dalam dua tahun terakhir adalah buah dari stabilitas politik dan soliditas tim kabinet," ujarnya di Jakarta, Minggu.
Meski demikian, Sugiat mengingatkan bahwa predikat "oke" tidak boleh membuat pemerintah berpuas diri. Sebaliknya, penilaian tersebut harus menjadi momentum untuk meningkatkan kecepatan dan efektivitas kerja. Pemerintah, lanjutnya, tetap harus membuka ruang bagi kritik, masukan, dan pengawasan publik agar program-program yang dijalankan tepat sasaran. "Dua tahun ini membuktikan, ketika para pemimpin bangsa bersatu dan membuang ego politik, yang diuntungkan adalah rakyat," tegasnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo dalam sambutannya pada peluncuran 10 buku karya Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Jumat (7/8), kembali menegaskan visi pemerintahannya untuk memberdayakan kelompok masyarakat rentan. "Pemimpin bekerja agar orang yang paling lemah, orang yang kecil, orang yang paling miskin bisa senyum, bisa ketawa. Artinya, kalau orang yang sangat lemah, sangat tidak berdaya, bisa senyum dan ketawa, dia mulai punya harapan. Kita bekerja memberi harapan kepada rakyat kita yang paling tidak berdaya," kata Prabowo. Ia pun optimistis pemerintahannya berada di jalur yang benar, seraya menyatakan, "Saya kira, we will always be on the right track. Kita akan selalu berada di jalan yang benar."
Bagi masyarakat Indonesia, pernyataan ini menjadi sinyal bahwa pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan, meski tantangan global masih membayangi. Namun, pertanyaan yang muncul adalah apakah capaian tersebut dapat dipertahankan dan ditingkatkan, terutama dalam menghadapi dinamika politik dan ekonomi yang terus berubah. Publik tentu berharap agar pemerintah tidak hanya berhenti pada predikat "oke", tetapi terus berinovasi dan responsif terhadap kebutuhan rakyat.



