21 Tahun 'Pegasus': Ketika Battlestar Galactica Menemukan Monster yang Lebih Menakutkan dari Cylon
Baca dalam 60 detik
- Episode 'Pegasus' yang tayang 23 September 2005 menghadirkan Battlestar kedua yang selamat dari serangan Cylon, membawa harapan baru bagi armada manusia.
- Kemunculan Admiral Helena Cain justru mengungkap sisi gelap militer: penyiksaan tahanan Cylon dan eksekusi tanpa pengadilan yang mencerminkan kontroversi Abu Ghraib dan Guantanamo.
- Konflik antara Adama dan Cain menjadi cermin dilema moral: mempertahankan kemanusiaan di tengah kehancuran peradaban, relevan hingga kini.

Dua puluh satu tahun lalu, tepatnya 23 September 2005, serial Battlestar Galactica menayangkan episode yang mengubah arah cerita secara radikal: “Pegasus”. Episode ini bukan sekadar kejutan plot, melainkan sebuah perenungan kelam tentang harga kemanusiaan ketika peradaban runtuh. Setelah satu setengah musim meyakinkan penonton bahwa Galactica adalah satu-satunya kapal perang yang tersisa, tiba-tiba sebuah Battlestar lain muncul dari kejauhan—lebih besar, lebih modern, dan dipimpin Admiral Helena Cain (Michelle Forbes). Momen itu terasa seperti keajaiban, tetapi segera berubah menjadi mimpi buruk.
Bagi penonton setia, kehadiran Pegasus menawarkan harapan: masih ada armada militer lain yang selamat dari serangan Cylon yang memusnahkan Dua Belas Koloni. Namun, di balik disiplin dan kekuatan tempurnya, Pegasus menyimpan rahasia mengerikan. Awaknya melakukan penyiksaan dan kekerasan seksual terhadap tahanan Cylon, sebuah cerminan langsung dari skandal Abu Ghraib dan Guantanamo Bay yang saat itu mendominasi berita internasional. Produser eksekutif Ronald D. Moore bahkan mengakui dalam buku panduan resmi serial bahwa ia terinspirasi oleh laporan penyiksaan tahanan pada masa itu.
Konflik memuncak ketika Letnan Alastair Thorne, interogator utama Pegasus, mencoba melecehkan Sharon, tahanan Cylon milik Galactica. Helo dan Chief Tyrol yang mengetahui hal itu segera bertindak, dan Thorne tewas dalam perkelahian. Tanpa proses hukum, Admiral Cain menjatuhkan hukuman mati kepada keduanya. Di titik inilah Commander William Adama (Edward James Olmos) melanggar hierarki militer yang selama ini ia junjung tinggi. “Saya akan membawa pulang anak buah saya,” tegasnya kepada Cain. Ia mengerahkan marinir dan Viper untuk mengeksekusi penyelamatan, sementara Cain menyiagakan tempurannya. Episode berakhir dengan ketegangan menggantung yang memaksa penonton menunggu lebih dari tiga bulan hingga kelanjutannya pada Januari 2006.
Yang membuat “Pegasus” bertahan dalam ingatan bukan hanya sosok Cain yang kejam, tetapi posisinya sebagai cermin bagi Adama. Keduanya adalah komandan militer yang berusaha menegakkan ketertiban setelah pemerintahan sipil yang memberi makna pada ketertiban itu lenyap. Adama memilih bergabung dengan armada sipil, yang membuat segalanya lebih rumit: ia harus melindungi warga sipil, mengelola sumber daya terbatas, dan tunduk pada otoritas politik yang bisa menantangnya. Kru Galactica berantakan, emosional, dan kadang tidak patuh. Namun justru itu yang membuat mereka tetap manusia. Cain, sebaliknya, mengorbankan kemanusiaan demi efisiensi militer. Ia adalah bayangan yang mengerikan dari apa yang bisa menjadi Adama jika pandangannya diekstremkan.
“Saya akan membawa pulang anak buah saya.” — Commander William Adama
Bagi penonton Indonesia, dilema yang diangkat “Pegasus” terasa akrab. Negara ini pernah mengalami masa kelam pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu, dan hingga kini masih bergulat dengan isu penegakan hukum serta perlakuan terhadap tahanan. Serial ini mengingatkan bahwa ketika institusi kehilangan legitimasi moral, kekuasaan cenderung menjadi tirani. Pertanyaan yang dihadirkan—apakah tujuan menghalalkan cara—tetap relevan dalam diskursus politik dan sosial kita.
Dua dekade lebih setelah penayangan perdananya, “Pegasus” masih menjadi salah satu episode paling berpengaruh dalam sejarah televisi. Ia tidak memberikan jawaban mudah, melainkan menuntut penonton merenungkan batas antara kelangsungan hidup dan kemanusiaan. Ketika tontonan fiksi ilmiah mampu membedah luka nyata peradaban, kita diingatkan bahwa cerita tentang masa depan sering kali adalah cermin bagi masa kini. Akankah kita, seperti Galactica, tetap mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan bahkan ketika dunia di sekitar kita runtuh?



