Mahershala Ali Buka Suara soal Kegagalan Blade: 'Kevin Feige Benar, Ini Kegagalan Terbesar'
Baca dalam 60 detik
- Mahershala Ali mengonfirmasi bahwa pembatalan film Blade adalah kegagalan terbesar dalam karier Kevin Feige.
- Ali mengungkapkan frustrasi karena telah menolak proyek lain dan pindah keluarga ke Atlanta demi film yang tak kunjung terwujud.
- Meski demikian, ia mengaku belajar banyak dan kini fokus membangun jalannya sendiri di industri film.

Aktor peraih dua Oscar, Mahershala Ali, secara terbuka menyatakan persetujuannya bahwa kegagalan proyek film Blade merupakan salah satu pukulan terberat dalam karier Kevin Feige, presiden Marvel Studios. Dalam wawancara dengan GQ, Ali mengaku hingga kini tidak mengetahui alasan pasti di balik batalnya film yang sempat diumumkan pada San Diego Comic-Con 2019 tersebut.
“Itu pertanyaan untuk Kevin Feige. Saya tidak tahu mengapa proyek ini gagal sampai sekarang. Saya hanya tahu bahwa Kevin mengatakan ini adalah kegagalan terbesar dalam kariernya, dan saya setuju 100 persen. Dia seharusnya merasa demikian,” ujar Ali seperti dikutip dari GQ.
Ali, yang saat itu tampil mengejutkan di atas panggung Comic-Con bersama Feige, mengungkapkan bahwa ia telah menginvestasikan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Ia mengaku harus menolak berbagai tawaran proyek lain karena jadwalnya terikat kontrak dengan Marvel. “Saya menghabiskan satu tahun berlatih, bahkan sampai lutut saya cedera. Saya benar-benar pindah dan membawa keluarga saya ke Atlanta. Kami menunggu di sana, tetapi mereka terus menunda dan menunda, hingga akhirnya tidak terjadi apa-apa,” kenangnya.
Kekecewaan Ali bukan tanpa alasan. Proyek Blade sendiri telah melalui berbagai perubahan di kursi sutradara. Bassam Tariq, yang semula ditunjuk sebagai sutradara, mundur dua bulan sebelum syuting dimulai pada September 2022. Posisinya digantikan oleh Yann Demange, namun ia pun hengkang pada Juni 2024. Sejumlah penulis skenario juga datang dan pergi selama proses pengembangan.
Feige sendiri pernah mengakui kegagalan ini dalam podcast Happy Sad Confused. “Saya merasa seperti pecundang dan gagal karena tidak bisa mewujudkan proyek ini bersama Mahershala,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa saat itu Marvel terlalu fokus pada kuantitas konten untuk Disney+, sehingga kualitas terabaikan. “Kami tidak ingin sekadar menempelkan kostum kulit dan membiarkannya membunuh vampir. Itu harus unik. Kami tidak yakin bisa membuatnya luar biasa, dan kami tidak ingin memaksakan itu pada Mahershala maupun pada kami sendiri,” tambah Feige.
“Pada akhirnya, kegagalan ini menjadi berkah tersembunyi. Itu membantuku berhenti menunggu tiket emas dan mulai membangun jalanku sendiri.” – Mahershala Ali
Meski proyek Blade kandas, Ali mengaku mengambil pelajaran berharga. Ia kini lebih fokus pada pengembangan kariernya sendiri tanpa bergantung pada satu proyek besar. “Saya tidak lagi menunggu tiket emas. Saya mulai membangun jalan saya sendiri,” tuturnya.
Bagi industri hiburan Indonesia, kisah ini menjadi cermin tentang pentingnya manajemen produksi dan ekspektasi dalam proyek film berskala besar. Kegagalan Blade menunjukkan bahwa bahkan studio sekaliber Marvel pun bisa tersandung ketika terlalu ambisius tanpa perencanaan matang. Hal ini relevan bagi rumah produksi Tanah Air yang kerap menghadapi tantangan serupa, terutama dalam mengelola jadwal dan komitmen para bintang.
Ke depan, apakah Marvel akan kembali mencoba menghidupkan Blade dengan pendekatan berbeda? Atau justru ini menjadi tanda bahwa era film superhero yang serba besar mulai kehilangan momentum? Yang jelas, bagi Mahershala Ali, babak baru telah dimulai—tanpa perlu menunggu lampu hijau dari pihak lain.



