Championing Mental Health 3: Duel Gelar WBC di UFC Fight Pass, Sorotan Baru bagi Kesehatan Mental Petinju
Baca dalam 60 detik
- 555 Media Agency menggelar event tinju amal Championing Mental Health 3 pada 26 September di Commerce Casino, Los Angeles, disiarkan global via UFC Fight Pass.
- Pertarungan utama mempertemukan Mai Soliman dan Maria Micheo Santizo dalam laga penyisihan gelar WBC Super Flyweight, sementara co-main event menampilkan perebutan sabuk WBA NABA Super Featherweight.
- Inisiatif ini menawarkan dukungan kesehatan mental bagi para petinju, sebuah pendekatan yang jarang ditemui di industri tinju profesional.

Industri tinju profesional kembali menyoroti isu kesehatan mental melalui gelaran Championing Mental Health 3 (CMH 3) yang akan berlangsung pada 26 September mendatang di Commerce Casino and Hotel, Los Angeles. Event amal ini dipromotori oleh 555 Media Agency dan akan disiarkan secara global melalui platform UFC Fight Pass, menandai debutnya di kanal streaming milik UFC tersebut.
Sejak pertama kali digelar pada Mei 2025, Championing Mental Health telah memposisikan diri sebagai promotor yang mengutamakan kesejahteraan petinju. Berbeda dari pertarungan biasa, setiap petinju yang terlibat mendapatkan akses ke sumber daya kesehatan mental, edukasi, dan dukungan psikologis. Pendekatan ini menyoroti realitas bahwa tekanan di atas ring tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mental.
Pertarungan utama malam itu akan mempertemukan Mai Soliman (10-2, 6 KO) melawan Maria Micheo Santizo (14-7-1, 8 KO) dalam laga penyisihan gelar WBC Super Flyweight. Bagi Soliman, ini menjadi debutnya di Amerika Serikat sekaligus penampilan pertamanya sejak menantang juara dunia WBO Super Flyweight, Mizuki Hiruta, di Piramida Giza, Mesir, Mei lalu. Kehadiran Soliman di atas ring diyakini akan menarik perhatian penggemar internasional, sejalan dengan misi CMH yang ingin menjangkau audiens global melalui UFC Fight Pass.
Pada pertarungan pendamping utama, gelar WBA NABA Super Featherweight akan diperebutkan antara Otar Eranosyan (17-0, 9 KO) dan Duban Zuleta (10-0-1, 8 KO). Eranosyan, petinju 33 tahun asal Akhalkalaki, Georgia, yang berlatih di Miami, datang dengan dua kemenangan KO berturut-turut. Sementara Zuleta, 28 tahun, berusaha kembali ke jalur kemenangan setelah hasil imbang melawan Aland Ramirez. Laga ini juga menjadi debut Zuleta di Amerika Serikat.
โKetika kami memulai Championing Mental Health tahun lalu, kami ingin menciptakan platform event unik yang mengutamakan petinju dan kebutuhan mereka,โ ujar Anthony Girges, Pendiri 555 Media Agency. โKami siap menyajikan event ketiga, setelah suksesnya rematch Kejuaraan Dunia Cruiserweight WBC antara Noel Mikaelian dan Badou Jack di CMH 2. Saya berterima kasih kepada para sponsor karena terus memberikan panggung bagi veteran dan kontender muda, kali ini melalui UFC Fight Pass untuk menunjukkan produk kami di panggung global.โ
Selain laga utama dan co-main, sejumlah pertarungan lain turut memeriahkan kartu, seperti Michael Bracamontes vs Eric Mondragon, Isaac Anguiano vs Jessie Mandapat, Justin Viloria vs Willie Shaw, dan Deni Davtian vs Jose Edgardo Perdomo. Ada pula Carson Crawford vs Katrina Scalzo, Jesus Diego vs Rondarius Hunter, Peter Martinez vs Giovanny Gonzalez, serta Bryan Eduardo Arias vs Benji Gomez. Nama-nama seperti Ricardo Gaspariano dan Nicolas Robledo juga dijadwalkan tampil dengan lawan yang akan ditentukan kemudian.
Bagi publik Indonesia, gelaran ini bisa menjadi cermin bagaimana isu kesehatan mental mulai diangkat di dunia olahraga, khususnya tinju. Di tanah air, diskusi mengenai tekanan psikologis atlet masih jarang terdengar, padahal para petinju nasional menghadapi beban serupa: ekspektasi publik, cedera, dan ketidakpastian karier. Inisiatif seperti CMH dapat menjadi contoh bahwa dukungan mental bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian integral dari pembinaan atlet profesional.
Ke depan, apakah model promotor yang peduli kesehatan mental ini akan diadopsi oleh ajang tinju lain, termasuk di Indonesia? Atau justru tetap menjadi ceruk yang hanya dijalankan segelintir pihak? Jawabannya akan menentukan arah industri olahraga yang lebih manusiawi.



