Restrukturisasi Xbox: Obsidian Masuk Bethesda, Kreativitas Studio Dipertaruhkan
Baca dalam 60 detik
- Microsoft kembali memangkas 268 pengembang dan menggabungkan Obsidian Entertainment ke bawah naungan Bethesda dalam reorganisasi besar-besaran Xbox.
- Kepala Bethesda Game Studios Jill Braff menjamin identitas kreatif Obsidian tetap terjaga, namun memo internal mengungkap fokus baru pada model franchise yang mengorbankan eksperimen.
- Langkah ini menegaskan arah Xbox yang semakin konservatif, berpotensi mengurangi keragaman game orisinal dan berdampak pada industri kreatif global, termasuk pengembang di Indonesia.

Microsoft kembali mengguncang industri game dengan mengumumkan pemutusan hubungan kerja terhadap 268 pengembang pada 22 September, sebagai bagian dari reorganisasi besar yang mengubah struktur sejumlah studio di bawah naungan Xbox. Salah satu keputusan paling mencolok adalah penggabungan Obsidian Entertainment ke dalam Bethesda, yang memicu kekhawatiran di kalangan penggemar akan masa depan kreativitas studio yang dikenal lewat Fallout: New Vegas dan The Outer Worlds.
Langkah ini merupakan kelanjutan dari gelombang PHK yang lebih besar pada awal Juli, ketika Microsoft memangkas 1.600 karyawan dan melepas beberapa studio ternama seperti Double Fine. Reorganisasi kali ini juga memindahkan waralaba Halo ke bawah Activision, menandai pergeseran signifikan dalam portofolio Xbox. Menurut memo internal yang bocor dan diperoleh IGN, Kepala Bethesda Game Studios Jill Braff menegaskan bahwa perubahan ini "terutama merupakan perubahan struktur pelaporan" dan Obsidian akan tetap mempertahankan "identitas kreatif serta kekuatan yang membuatnya berbeda."
Meski Braff berjanji Obsidian akan tetap mandiri secara operasional, memo tersebut menyiratkan bahwa studio ini akan diarahkan untuk mendukung "model berbasis franchise" yang tengah diperkuat Microsoft. CEO Xbox Asha Sharma sebelumnya menyatakan bahwa perusahaan akan fokus pada seri yang sudah ada, mengisyaratkan bahwa pengembangan intellectual property (IP) baru bukan lagi prioritas. Obsidian, yang dalam 15 tahun terakhir telah merilis beragam judul orisinal seperti Pillars of Eternity, Tyranny, Pentiment, Grounded, dan Avowed, kini menghadapi tekanan untuk lebih banyak menggarap sekuel atau lanjutan waralaba yang sudah mapan.
"Struktur ini mendukung model berbasis franchise yang telah kami perkuat, sekaligus menjaga akuntabilitas studio dan waralaba tetap jelas," tulis Braff dalam memo tersebut.
Keputusan ini memunculkan pertanyaan tentang keberlanjutan inovasi di industri game. Obsidian selama ini dikenal sebagai studio yang berani mengambil risiko kreatif, sementara Bethesda dalam periode yang sama lebih banyak merilis ulang atau sekuel, dengan Starfield sebagai satu-satunya judul non-sekuel. Penggabungan ini dikhawatirkan akan mengurangi ruang bagi eksperimen dan memperkuat dominasi formula yang sudah terbukti secara komersial.
Bagi Indonesia, restrukturisasi Xbox dapat berdampak pada ekosistem pengembangan game lokal. Banyak pengembang indie di Tanah Air yang terinspirasi oleh karya-karya Obsidian dan mengandalkan platform Xbox untuk distribusi global. Jika Microsoft semakin berhati-hati dalam mengambil risiko, peluang bagi judul-judul eksperimental dari pasar berkembang bisa menyempit. Selain itu, gelombang PHK di perusahaan teknologi besar sering kali memicu efek domino pada rantai pasok industri kreatif, termasuk di Asia Tenggara.
Ke depan, Obsidian diprediksi akan lebih banyak terlibat dalam proyek Fallout yang sedang dikerjakan, sebagaimana disebutkan dalam memo. Namun, apakah studio ini masih bisa mempertahankan semangat inovasinya di bawah bayang-bayang Bethesda? Jawabannya akan terlihat dari arah pengembangan game mereka dalam beberapa tahun mendatang, dan apakah Microsoft benar-benar menghargai kreativitas atau hanya menjadikannya alat untuk memperkuat waralaba yang sudah ada.



