Pertemuan Trump-Xi: Pintu Masuk Mobil China ke AS Jadi Taruhan Besar Industri Otomotif
Baca dalam 60 detik
- Pertemuan Trump-Xi memicu kekhawatiran bahwa produsen mobil China akan mendapat akses ke pasar AS, yang selama ini tertutup bagi mereka.
- Industri otomotif AS dan politisi bipartisan menyerukan pembatasan tetap diberlakukan, sementara ekspansi mobil China di Eropa dan Amerika Latin terus meningkat.
- Jika kesepakatan membuka pintu, produsen mobil China berpotensi membanjiri pasar global dan menekan harga, dengan implikasi bagi Indonesia sebagai pasar potensial dan mitra dagang China.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bertemu pekan ini, dan salah satu isu paling sensitif yang mengintai adalah kemungkinan dibukanya pasar otomotif AS bagi produsen mobil China. Langkah itu, menurut kalangan industri dan pembuat kebijakan, bisa menjadi kotak Pandora yang mengubah lanskap persaingan global.
Beberapa minggu lalu, Trump menyatakan mungkin tidak masalah jika produsen mobil China masuk ke AS asalkan mereka memproduksi kendaraan di dalam negeri. Pernyataan itu memicu reaksi keras dari konsorsium asosiasi perdagangan otomotif yang mewakili hampir seluruh spektrum industri—dari pabrikan, dealer waralaba, hingga pemasok komponen. Lebih dari dua lusin anggota parlemen dari Partai Demokrat juga mengirim surat yang mendesak Trump mempertahankan pembatasan yang ada.
“Ini bukan lagi isu partisan,” kata Senator Elissa Slotkin dari Michigan kepada wartawan, Rabu (23/9). “Ini tentang apakah kita ingin membuat mobil di Amerika dan memiliki basis manufaktur yang bisa beradaptasi saat dibutuhkan. Jika ya, kita tidak boleh membiarkan mereka masuk.”
Tekanan ini muncul saat produk China semakin agresif menguasai pasar di luar negeri, terutama Eropa, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. Pangsa pasar merek China secara global melonjak hampir 70% dari 2020 hingga 2025, menurut lembaga riset GlobalData. Di Uni Eropa, pangsa mereka yang nyaris nol pada 2020 kini mencapai 12% per Agustus, berdasarkan data dari Dataforce yang berbasis di Jerman.
Michael Dunne, pakar industri otomotif China dan mantan eksekutif General Motors, memperingatkan bahwa Eropa sudah kebanjiran kendaraan China dan hal serupa bisa terjadi di AS. “Puluhan produsen mobil China saat ini terlibat perang harga sampai mati di dalam negeri,” tulisnya dalam sebuah unggahan, Senin. “Darah di mana-mana. Akses ke AS, pasar mobil paling menguntungkan di dunia, seperti tabung oksigen raksasa.”
Dunne menilai kekhawatiran itu tidak berlebihan. Menurutnya, produsen China akan “dengan cepat melumpuhkan industri otomotif Amerika, seperti yang kini mereka lakukan di Eropa.” Ia juga menyoroti perbedaan mendasar antara China dan sekutu AS seperti Jepang atau Korea Selatan. “Seperti yang sering disinggung Xi Jinping, tujuan China adalah membuat negara lain semakin bergantung pada China dan China semakin tidak bergantung pada negara lain. Itu bukan sikap bersahabat,” ujarnya.
Ketegangan ini juga terlihat dari dinamika di dalam negeri AS. CEO GM Mary Barra dikabarkan akan hadir dalam jamuan kenegaraan untuk Xi, bersama sejumlah eksekutif lain termasuk CEO Tesla Elon Musk. Namun, Ford menolak mengungkap apakah CEO Jim Farley akan hadir setelah Departemen Transportasi mengkritik hubungan perusahaan dengan China, termasuk lisensi dengan CATL. Sementara itu, Stellantis menyatakan CEO Antonio Filosa sedang berada di luar negeri dan tidak berencana hadir.
Bagi Indonesia, perkembangan ini bukan sekadar tontonan. China adalah mitra dagang utama dan investor besar di sektor hilirisasi, termasuk baterai kendaraan listrik. Jika produsen mobil China semakin terdesak di pasar Barat dan beralih ke pasar Asia Tenggara, Indonesia bisa menjadi salah satu tujuan ekspansi. Di satu sisi, konsumen berpotensi menikmati harga lebih murah; di sisi lain, industri otomotif nasional dan rantai pasok lokal menghadapi tekanan kompetisi yang belum tentu seimbang.
Pemerintah Indonesia perlu mencermati arah kebijakan AS ini karena dapat memengaruhi arus investasi dan perdagangan di kawasan. Jika AS menutup pintu, China akan semakin agresif menggarap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Sebaliknya, jika AS membuka akses terbatas, preseden itu bisa melemahkan posisi negara-negara yang selama ini membatasi impor mobil China dengan alasan industri strategis.
Yang jelas, pertemuan Trump-Xi bukan hanya soal diplomasi dagang. Ia menjadi ujian apakah kekhawatiran akan dominasi industri China mampu mengubah arah kebijakan ekonomi AS—dan bagaimana gema kebijakan itu akan terasa hingga ke pasar otomotif Indonesia.



