Polisi Ciduk Penembak PNS di Yahukimo, Amunisi 5,56 mm Jadi Petunjuk
Baca dalam 60 detik
- Satgas Damai Cartenz-2026 menangkap NB, terduga anggota KKB Batalyon Yamue, di Distrik Dekai, Yahukimo.
- Penangkapan mengungkap tiga butir amunisi kaliber 5,56 mm yang memperkuat dugaan keterlibatan dalam dua aksi penembakan pada 27 April 2026.
- Penyidik masih menelusuri kemungkinan jaringan dan keterkaitan NB dengan kasus lain di wilayah Yahukimo.

Tim gabungan Satgas Operasi Damai Cartenz-2026 bersama Polres Yahukimo menangkap NB, pria yang diduga kuat sebagai pelaku penembakan terhadap seorang pegawai negeri sipil (PNS) konsultan Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) berinisial RK. Korban tewas setelah proyektil bersarang di leher sebelah kirinya dalam insiden yang terjadi di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua.
Penangkapan berlangsung pada Selasa (22/9) sekitar pukul 16.26 WIT di area pertokoan Ruko Blok A dan B, Distrik Dekai. Dari tangan tersangka, aparat menyita tiga butir amunisi kaliber 5,56 mm โ jenis peluru yang lazim digunakan pada senapan serbu standar militer. Temuan ini dinilai memperkuat dugaan bahwa NB bukan sekadar warga sipil yang kebetulan berada di lokasi, melainkan bagian dari jaringan bersenjata yang selama ini beroperasi di pegunungan tengah Papua.
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Pol Yusuf Sutejo, mengungkapkan bahwa NB diduga merupakan salah satu personel Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Batalyon Yamue, Kodap XVI Yahukimo, yang berada di bawah komando Kopi Tua Heluka. KKB adalah istilah yang digunakan aparat keamanan untuk merujuk pada milisi bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM). "Yang bersangkutan diamankan berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan terkait dugaan penembakan yang terjadi di wilayah Yahukimo," ujar Yusuf dalam keterangan resmi, Rabu (23/9).
Berdasarkan hasil penyidikan, NB ditetapkan sebagai tersangka dalam dua peristiwa penembakan yang terjadi pada hari yang sama, 27 April 2026. Insiden pertama menimpa mobil Grand Max van putih di Jembatan Kali Biru. RK, yang saat itu berada di dalam kendaraan, terkena tembakan di leher kiri dan meninggal dunia di tempat. Beberapa saat setelahnya, aksi serupa menyasar sebuah Toyota Fortuner silver di sekitar Jembatan Kali Biru, Jalan Kurima. Meski tidak dilaporkan menimbulkan korban jiwa pada peristiwa kedua, pola serangan menunjukkan target yang terencana terhadap kendaraan yang melintas di jalur tersebut.
Penangkapan NB menjadi babak baru dalam penanganan konflik bersenjata di Yahukimo, salah satu kabupaten dengan intensitas gangguan keamanan tertinggi di Papua. Selama bertahun-tahun, wilayah pegunungan tengah menjadi medan operasi kelompok bersenjata yang kerap menyerang aparat, pekerja proyek, hingga warga sipil. Kehadiran Satgas Damai Cartenz โ operasi gabungan TNI-Polri yang dibentuk untuk menangani kelompok kriminal bersenjata โ menandakan bahwa pendekatan keamanan masih menjadi pilar utama, meski pendekatan kesejahteraan terus digaungkan.
Dari perspektif kebijakan nasional, penangkapan ini menyoroti dua hal. Pertama, aliran logistik senjata dan amunisi ke kelompok bersenjata di Papua masih menjadi celah yang belum sepenuhnya tertutup. Kaliber 5,56 mm yang disita menunjukkan bahwa pasokan tidak hanya berasal dari sisa konflik lama, tetapi mungkin juga dari jalur penyelundupan yang lebih terorganisir. Kedua, keberadaan NB di area ruko โ ruang publik yang biasanya relatif aman โ mengindikasikan bahwa kelompok bersenjata mampu berbaur dengan aktivitas ekonomi warga, sehingga menyulitkan deteksi dini.
"Penyidik masih mendalami barang bukti yang ditemukan serta kemungkinan keterkaitan NB dengan kasus penembakan lain di wilayah Yahukimo," ujar Kombes Pol Yusuf Sutejo.
Bagi masyarakat di Yahukimo dan kabupaten sekitar, penangkapan ini bisa menjadi sinyal bahwa aparat bergerak lebih agresif memburu pelaku. Namun, tantangan sesungguhnya terletak pada pencegahan agar insiden serupa tidak berulang. Jalan Kurima dan Jembatan Kali Biru merupakan jalur penghubung penting yang setiap hari dilalui warga, pedagang, dan pegawai pemerintah. Rasa aman di ruang publik semacam itu tidak bisa hanya dijaga dengan penangkapan sesaat, melainkan membutuhkan kehadiran keamanan yang konsisten dan pendekatan intelijen yang lebih presisi.
Ke depan, publik akan menantikan apakah penyidikan terhadap NB mampu membuka simpul jaringan yang lebih besar, termasuk pemasok amunisi dan aktor intelektual di balik dua penembakan pada April lalu. Jika hanya berhenti pada satu tersangka, persoalan akar kekerasan di Yahukimo akan tetap menjadi luka terbuka. Pertanyaannya kini: sejauh mana aparat mampu mengubah penangkapan ini menjadi titik balik penanganan konflik, bukan sekadar catatan statistik penegakan hukum?



