Longsor di Nagano Putus Satu-satunya Akses ke Resor Pemandian Air Panas, Hampir 400 Orang Terisolasi
Baca dalam 60 detik
- Bencana longsor di Prefektur Nagano, Jepang, Sabtu malam, memutus satu-satunya jalan menuju Nakabusa Onsen, mengakibatkan sekitar 390 orang terkunci di kawasan resor.
- Tidak ada korban jiwa, namun jembatan penghubung hanyut terbawa material longsor, menyulitkan evakuasi dan distribusi logistik bagi para wisatawan serta pendaki.
- Pemerintah setempat dan Badan Meteorologi Jepang masih memantau risiko longsor susulan, sementara upaya pembangunan jalur alternatif menjadi prioritas utama.

Longsor yang menerjang kawasan pegunungan di Prefektur Nagano, Jepang tengah, pada Sabtu malam (8/8) memutus satu-satunya akses darat menuju resor pemandian air panas Nakabusa Onsen di Kota Azumino. Akibatnya, sekitar 390 orang—terdiri dari tamu hotel dan pendaki yang menginap di pondok gunung—terisolasi tanpa jalur keluar yang aman.
Menurut kepolisian setempat, tidak ada laporan korban luka dalam insiden ini. Namun, material longsor dilaporkan menyapu satu jembatan di ruas jalan yang menghubungkan resor dengan pusat Kota Azumino. Jembatan tersebut merupakan bagian vital dari infrastruktur yang selama ini menjadi penopang utama aktivitas pariwisata dan pendakian di kawasan itu.
Kawasan Nakabusa Onsen bukan sekadar tujuan wisata pemandian air panas. Lokasi ini juga dikenal sebagai titik awal pendakian populer menuju pegunungan Alpen Utara Jepang. Dengan terputusnya akses, operasi penyelamatan dan distribusi kebutuhan pokok menjadi tantangan besar, terutama mengingat medan yang sulit dan cuaca yang masih berpotensi ekstrem.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat hujan deras mengguyur Azumino pada Sabtu malam, yang diduga menjadi pemicu utama longsor. Intensitas curah hujan yang tinggi di wilayah pegunungan memang kerap memicu pergerakan tanah, dan kejadian ini menjadi pengingat akan kerentanan infrastruktur di daerah rawan bencana.
Bagi Indonesia, peristiwa ini relevan mengingat banyaknya kawasan wisata pegunungan yang memiliki karakteristik serupa, seperti di sekitar Gunung Bromo, Rinjani, atau Semeru. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya sistem peringatan dini dan audit infrastruktur di daerah rawan longsor. “Kejadian di Jepang ini menunjukkan bahwa negara dengan manajemen bencana terbaik pun tetap menghadapi risiko besar ketika infrastruktur tunggal terputus,” ujarnya menanggapi insiden serupa di dalam negeri.
Pemerintah Prefektur Nagano telah mengerahkan tim penyelamat untuk membuka jalur alternatif dan mengevakuasi warga yang terjebak. Namun, proses ini diperkirakan memakan waktu karena kondisi medan yang berat dan potensi longsor susulan. Sementara itu, para korban diimbau tetap berada di lokasi aman dan menunggu instruksi resmi.
Ke depan, insiden ini memunculkan pertanyaan besar: apakah pengelola destinasi wisata pegunungan di Indonesia sudah memiliki rencana kontingensi yang matang untuk menghadapi skenario terputusnya akses tunggal? Dengan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim, mitigasi bencana di sektor pariwisata menjadi keniscayaan yang tak bisa ditunda lagi.



