Kelly Slater Kembali Guncang Teahupo'o: Wildcard Berusia 54 Tahun Ukir Skor Tertinggi di Tahiti Pro
Baca dalam 60 detik
- Legenda selancar Kelly Slater, yang sudah pensiun dari tur penuh, langsung mendominasi hari pertama Tahiti Pro 2025 dengan total skor 16.23, menegaskan kelasnya di ombak ganas Teahupo'o.
- Kemenangan ini membawanya berjumpa dengan Gabriel Medina di ronde kedua, sebuah duel yang dinanti-nantikan antara dua generasi juara dunia.
- Kondisi ombak ekstrem dengan swell besar dan angin silang menjadi ujian berat bagi para peserta, sementara Slater justru tampil nyaris sempurna dengan tube dalam yang spektakuler.

Kelly Slater, legenda hidup selancar dunia, kembali membuktikan bahwa usia hanyalah angka. Pada hari pertama Tahiti Pro, Sabtu (8/8), peselancar asal Amerika Serikat berusia 54 tahun itu mencatatkan total skor tertinggi 16.23 dari 20, mengungguli semua peserta lain di tengah kondisi ombak raksasa yang tidak bersahabat. Penampilan ini sekaligus mengirim sinyal kuat bahwa dirinya masih layak diperhitungkan di panggung tertinggi selancar dunia, meski telah pensiun dari kompetisi penuh sejak 2024.
Slater, yang mengantongi 11 gelar juara dunia, tampil sebagai wildcard di ajang ini. Ia melaju mulus ke ronde kedua dan akan berhadapan dengan Gabriel Medina, juara dunia tiga kali asal Brasil. Pertarungan ini diprediksi menjadi salah satu duel paling menarik di Tahiti Pro tahun ini, mempertemukan dua peselancar dengan gaya dan generasi berbeda. "Ini seperti naik sepeda, tapi kamu lupa betapa ganasnya Teahupo'o," ujar Slater, yang telah memenangkan ajang ini lima kali dari 20 penampilannya. "Kami tidak punya waktu untuk ombak besar minggu ini, dan tiba-tiba kamu langsung terjun ke dalamnya."
Teahupo'o, yang secara harfiah berarti "dinding tengkorak", memang dikenal sebagai salah satu ombak paling sempurna sekaligus paling berbahaya di dunia. Lokasi ini menjadi tuan rumah selancar Olimpiade Paris 2024 dan terus menjadi magnet bagi para peselancar elit. Namun, kondisi Sabtu lalu jauh dari sempurna. Swell besar yang tidak menentu dan angin kencang dari arah darat membuat tantangan di lineup semakin ekstrem. Sebelum Slater turun melawan Eli Hanneman dari Hawaii, dua peselancar lain, Matthew McGillivray dari Afrika Selatan dan Ramzi Boukhiam dari Maroko, harus menerima hantaman ombak yang brutal di heat pertama mereka.
Di tengah ombak yang tingginya mencapai tiga kali lipat overhead, Slater tampil dominan. Ia mencetak skor nyaris sempurna 9 untuk tube panjang dan dalam, lalu menambah 7.23 untuk barrel teknis yang memukau. Sementara itu, Hanneman justru menjadi sorotan karena wipeout mengerikan: ia melompat dari puncak ombak raksasa dan jatuh ke dalam kegelapan, meninggalkan papan selancarnya tertancap dengan potongan karang. "Ada ombak yang sangat intens di luar sana. Kamu harus siap," kata Slater, yang terakhir kali memenangkan event tur dunia di Pipeline, Hawaii, pada 2022.
Selain Slater, peselancar lokal Tahiti, Kauli Vaast, yang meraih medali emas Olimpiade 2024 di ombak yang sama, juga tampil mengesankan sebelum kompetisi dihentikan sementara. Ombak besar dan kuat diperkirakan masih akan datang dalam beberapa hari ke depan, yang bisa mengubah peta persaingan. Bagi Indonesia, ajang ini menjadi pengingat akan potensi besar selancar sebagai olahraga dan destinasi wisata. Dengan ombak kelas dunia seperti di Teahupo'o, Indonesia memiliki banyak spot yang tak kalah menantang, seperti di Mentawai, Banyuwangi, atau Lombok. Namun, prestasi peselancar Indonesia di kancah internasional masih perlu terus didorong, baik melalui pembinaan atlet muda maupun penyelenggaraan event bertaraf dunia.
Pertanyaan besarnya, akankah Slater mampu mempertahankan performa ini hingga final? Atau justru Medina yang akan menjadi batu sandungan? Satu hal yang pasti, duel generasi ini akan menjadi tontonan yang sayang untuk dilewatkan, tidak hanya bagi penggemar selancar, tetapi juga bagi siapa pun yang ingin menyaksikan bagaimana seorang legenda melawan waktu dan ombak.



