Banjir Mengancam Tambak Ikan Myanmar: Dinas Perikanan Imbau Petambak Perkuat Tanggul
Baca dalam 60 detik
- Dinas Perikanan Myanmar menginstruksikan penguatan tanggul tambak di daerah rawan banjir menyusul curah hujan tinggi dan naiknya permukaan sungai.
- Langkah preventif ini menyoroti kerentanan sektor akuakultur Asia Tenggara terhadap cuaca ekstrem, yang juga relevan bagi Indonesia sebagai produsen udang utama.
- Ke depan, adaptasi infrastruktur tambak dan sistem peringatan dini menjadi kunci mengurangi risiko kerugian ekonomi akibat banjir.

YANGON โ Dinas Perikanan Myanmar mengeluarkan imbauan mendesak kepada para pembudidaya ikan dan udang di seluruh negeri untuk segera mengambil langkah antisipasi menghadapi potensi banjir yang mengancam tambak-tambak mereka. Imbauan ini muncul di tengah musim hujan yang ekstrem dan meningkatnya debit sungai-sungai utama, sebagaimana dilaporkan harian pemerintah The Mirror.
Kementerian Pertanian, Peternakan, dan Irigasi Myanmar, melalui dinas tersebut, secara khusus meminta para petambak untuk memperkuat tanggul kolam, terutama di daerah dataran rendah yang rawan tergenang. Penggunaan karung pasir dan material pelindung lainnya direkomendasikan untuk meminimalkan risiko jebolnya tanggul yang dapat menyebabkan ikan dan udang lolos atau mati.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Sektor akuakultur Myanmar merupakan salah satu penyumbang devisa negara, dan banjir tahunan kerap kali memporak-porandakan produksi perikanan budidaya. Dalam beberapa tahun terakhir, kerugian akibat banjir di sektor ini mencapai jutaan dolar, memukul ribuan keluarga yang menggantungkan hidup pada tambak.
Selain penguatan fisik, dinas juga menginstruksikan para petambak untuk aktif memantau peringatan cuaca dan menjaga jalur komunikasi dengan otoritas setempat. Jika banjir besar tak terhindarkan, mereka diminta segera melapor ke kantor perikanan terdekat untuk mendapatkan bantuan evakuasi dan penyelamatan aset budidaya.
Konteks serupa juga relevan bagi Indonesia. Sebagai negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia dan produsen udang vaname terbesar, Indonesia menghadapi tantangan hidrometeorologis yang hampir identik. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berulang kali memperingatkan peningkatan intensitas hujan ekstrem yang dipicu fenomena La Nina, yang berpotensi membanjiri kawasan tambak di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.
Para ahli perikanan menilai bahwa langkah preventif seperti yang dilakukan Myanmar seharusnya menjadi standar operasional di Indonesia. "Penguatan tanggul dan sistem peringatan dini adalah investasi murah dibandingkan kerugian yang ditimbulkan banjir," ujar seorang akademisi perikanan dari Institut Pertanian Bogor yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan bahwa adopsi teknologi pemantauan cuaca berbasis satelit dapat membantu petambak mengambil keputusan lebih cepat.
Di sisi lain, perubahan iklim diproyeksikan akan membuat musim hujan semakin tidak menentu. Data IPCC menunjukkan bahwa intensitas siklon tropis di Samudra Hindia meningkat, yang berdampak langsung pada pola curah hujan di kawasan Asia Tenggara. Tanpa adaptasi yang memadai, sektor akuakultur di kawasan ini berisiko kehilangan produktivitas hingga 10% pada 2050.
Pemerintah Myanmar sendiri telah menunjukkan keseriusan dengan mengalokasikan dana darurat untuk perbaikan infrastruktur perikanan di daerah rawan banjir. Namun, efektivitas kebijakan ini masih bergantung pada kepatuhan petambak di lapangan dan koordinasi antar lembaga.
Bagi Indonesia, pelajaran dari Myanmar adalah pentingnya membangun ketahanan iklim di sektor perikanan budidaya. Apakah Kementerian Kelautan dan Perikanan akan mengambil langkah serupa dengan mengeluarkan imbauan resmi dan menyediakan insentif bagi petambak yang memperkuat tambaknya? Pertanyaan ini layak menjadi bahan evaluasi kebijakan ke depan.



