Iran Pasang Syarat Baru untuk Buka Selat Hormuz: Kompensasi Perang dan Penghentian Agresi
Baca dalam 60 detik
- Teheran menuntut kompensasi perang dan penghentian agresi terhadap sekutunya sebelum Selat Hormuz dibuka kembali, mempersulit negosiasi dengan Oman.
- Serangan terhadap kapal tanker di selat tersebut meningkat, dengan 15 kapal ADNOC diserang sejak perang dimulai, mengancam pasokan energi global.
- Pembukaan selat yang tertunda berpotensi memicu gejolak harga minyak dan rantai pasok, berdampak langsung pada ekonomi Indonesia yang bergantung pada impor energi.

Teheran secara resmi mengaitkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan serangkaian tuntutan politik dan finansial, termasuk kompensasi atas kerusakan perang dan penghentian agresi terhadap sekutu-sekutunya. Langkah ini mempersulit upaya mediasi yang tengah berlangsung dan menambah ketidakpastian bagi pasar energi global yang telah lama bergantung pada kelancaran jalur pelayaran strategis tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa diskusi dengan Oman mengenai tata kelola selat telah "mendekati tahap akhir". Namun, ia menegaskan bahwa pembukaan kembali Hormuz "tergantung pada kondisi lain dan kompensasi atas pelanggaran" terhadap kesepakatan Juni. Sikap ini dipertegas oleh kepala keamanan Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, yang merinci daftar tuntutan, mencakup penghentian "perang dan agresi terhadap Iran dan sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak", pencabutan blokade angkatan laut AS, penghentian sanksi, pembebasan aset beku, serta kompensasi atas kerusakan perang.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) bahkan mengambil sikap lebih keras, menyatakan bahwa pembukaan Hormuz "tidak ada hubungannya dengan negosiasi antara Iran dan Oman" dan bahwa "musuh dipaksa untuk menerima kondisi Iran". Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi selat tersebut. Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) mengutuk serangan rudal yang menargetkan kapal tanker milik ADNOC, sementara UKMTO melaporkan insiden serupa di lepas pantai Oman. ADNOC sendiri mencatat 15 kapalnya telah diserang sejak perang dimulai, termasuk tiga kapal dalam sepekan terakhir.
Konteks Indonesia: Situasi ini memiliki implikasi langsung bagi Indonesia, yang merupakan salah satu importir minyak mentah terbesar di Asia. Selat Hormuz adalah jalur transit bagi sekitar 20% pasokan minyak global, dan gangguan di sana berpotensi memicu lonjakan harga energi dan inflasi di dalam negeri. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini dalam merumuskan kebijakan energi dan menjaga stabilitas harga BBM di tengah tekanan global.
Di sisi lain, Oman, yang bertindak sebagai mediator, menyatakan bahwa negosiasi mengenai pengaturan navigasi di Selat Hormuz "berlangsung dalam suasana positif dan konstruktif". Namun, serangan yang terus berlanjut telah menggagalkan gencatan senjata April lalu, dan para mediator mendesak kedua belah pihak untuk kembali pada kesepakatan Juni. Sebelum perang, selat ini bebas dilintasi tanpa hambatan, namun kini Iran menargetkan kapal-kapal yang dituduh menghindari rute yang ditetapkannya, menyebabkan penurunan signifikan volume transit.
Dalam perkembangan terpisah, Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menyatakan harapannya agar Mesir bergabung dengan perjanjian pertahanan bersama antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan. Perjanjian ini dirancang untuk menstabilkan kawasan dan menegaskan bahwa serangan terhadap salah satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap semua. Langkah ini menunjukkan upaya membangun poros keamanan baru di Timur Tengah di tengah ketidakstabilan yang meluas.
Ke depan, pertanyaan krusial adalah apakah Iran akan melunakkan tuntutannya demi menghindari isolasi ekonomi lebih lanjut, atau justru memperketat blokade untuk menekan lawan-lawannya. Bagi Indonesia, ketidakpastian ini menjadi pengingat akan pentingnya diversifikasi sumber energi dan penguatan kerja sama regional untuk mengantisipasi guncangan pasokan. Apakah komunitas internasional mampu menekan Iran untuk mematuhi hukum internasional, atau akankah krisis ini berlarut-larut dengan konsekuensi global yang semakin dalam?



