Krisis Air Lintas Batas: Limbah Gaza Lumpuhkan Desalinasi Israel
Baca dalam 60 detik
- Ledakan alga akibat limbah tak terolah dari Gaza memaksa lima dari enam pabrik desalinasi utama Israel berhenti beroperasi selama beberapa hari.
- Kerusakan 90% infrastruktur air dan sanitasi Gaza menciptakan lingkaran krisis yang kini merembet ke Israel, memicu penurunan pasokan air dan penghentian irigasi pertanian.
- Para pakar memperingatkan potensi wabah penyakit menular seperti hepatitis A yang dapat menembus batas wilayah dan mengancam stabilitas kesehatan regional.

Krisis air bersih melanda Israel setelah ledakan populasi mikroalga yang luar biasa memaksa lima dari enam pabrik desalinasi utama negara itu menghentikan operasi selama beberapa hari. Para ilmuwan menilai fenomena ini berkaitan langsung dengan hancurnya infrastruktur pengolahan air limbah di Gaza, yang mengakibatkan aliran limbah mentah dalam volume besar ke perairan Mediterania.
Menurut laporan organisasi nirlaba Zalul Environmental Association, limbah yang tidak diolah dari Jalur Gaza mengandung nitrogen dan fosfor dalam kadar tinggi. Zat-zat ini berfungsi sebagai nutrisi bagi mikroalga dan cyanobacteria, memicu pertumbuhan bloom yang panjangnya mencapai 100 kilometer. Akibatnya, filter di pabrik-pabrik desalinasi tersumbat dan kapasitas produksi air minum menurun drastis.
Profesor emeritus Jack Gilron dari Zuckerberg Institute for Water Research, Ben-Gurion University, menyatakan bahwa insiden ini mempertegas kerentanan infrastruktur air Israel terhadap ancaman eksternal. Ia menekankan perlunya langkah antisipatif untuk melindungi salah satu sumber air minum utama negara tersebut. Hingga kini, otoritas Israel mengimbau warganya menggunakan air secara bijak, sementara pasokan di wilayah selatan dikurangi dan petani diperintahkan menghentikan irigasi—keputusan yang diperkirakan akan mendorong kenaikan harga pangan.
Di sisi lain, Gaza masih terperangkap dalam krisis kemanusiaan yang parah. Laporan Médecins Sans Frontières mencatat bahwa serangan udara Israel telah menghancurkan 90% infrastruktur air dan sanitasi, termasuk sumur, jalur pipa, reservoir, dan unit desalinasi. Sebelum perang, 80% pasokan air Gaza berasal dari akuifer pesisir, namun kini air tanah tersebut telah terkontaminasi air laut dan limbah, tidak layak dikonsumsi.
Omar Shatat, wakil direktur eksekutif Coastal Municipalities Water Utility Gaza, mengungkapkan bahwa kelima pabrik pengolahan air limbah di wilayah itu tidak berfungsi. Setiap hari, sekitar 45.000 meter kubik limbah mentah dibuang ke Mediterania, sementara 15.000 meter kubik lainnya merembes ke air tanah dari lubang resapan, terutama di kamp-kamp informal al-Mawasi. "Ini situasi katastrofik, baik dari sudut lingkungan maupun kesehatan publik," ujarnya.
"Kami membawa air dengan jeriken. Kami berjalan membawa wadah berat atau mengantre berjam-jam. Banyak air yang tidak aman, dan anak-anak menderita infeksi perut berulang, diare, dan ruam kulit," kata Nas al-Barawi, 34 tahun, ibu lima anak dari Beit Lahia.
Kondisi ini diperparah dengan mewabahnya tikus di Gaza maupun di komunitas Israel dekat perbatasan. Nada Majdalani, direktur Palestine EcoPeace Middle East, memperingatkan bahwa konsekuensi perang tidak berhenti di batas wilayah. "Kami sudah melihat peningkatan hepatitis A di Gaza. Saya yakin kita berada di ambang bencana. Wabah serius di Gaza tidak serta-merta akan tetap di dalam batas Gaza," tegasnya.
Zalul dan EcoPeace mendesak Cogat, badan Israel yang mengurus administrasi Gaza, untuk memulihkan sistem limbah dan mengizinkan pengolahan air limbah di wilayah kontrol Israel. Namun, hingga berita ini diturunkan, Cogat belum memberikan tanggapan.
Bagi Indonesia, krisis ini menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan di satu wilayah dapat berdampak lintas negara, terutama di kawasan dengan ketergantungan tinggi pada sumber daya air bersama. Sebagai negara kepulauan dengan tantangan sanitasi dan pengelolaan limbah yang tak kalah kompleks, Indonesia perlu memperkuat diplomasi lingkungan dan investasi infrastruktur pengolahan air untuk mencegah skenario serupa.
Ke depan, pertanyaannya: akankah komunitas internasional mendorong solusi sanitasi lintas batas yang mengikat, ataukah krisis ini akan terus berulang setiap kali musim panas tiba?



