Nenek 78 Tahun Jadi Streamer Fortnite Tertua di Dunia, Buktikan Usia Bukan Penghalang
Baca dalam 60 detik
- Cath Bowie, perempuan Skotlandia berusia 78 tahun, dinobatkan Guinness World Records sebagai streamer Fortnite tertua di dunia.
- Dengan nama pengguna grumpygran1948, ia mengumpulkan sekitar 24.000 pengikut setelah memulai bermain pada 2017 berkat ajakan cucunya.
- Prestasinya menantang stereotip usia dalam industri game dan membuka peluang pasar baru bagi pengembang serta platform streaming.

Cath Bowie, perempuan asal Moray, Skotlandia, resmi tercatat dalam Guinness World Records sebagai streamer Fortnite tertua di dunia. Pada usia 78 tahun, ia membuktikan bahwa dunia game tidak lagi eksklusif bagi generasi muda. Pencapaian ini diumumkan dalam Guinness World Records Gamer's Edition 2027, menjadikannya simbol inklusivitas di industri yang selama ini identik dengan demografi remaja dan dewasa muda.
Perjalanan Bowie dimulai pada 2017 ketika sang cucu, yang saat itu berusia 17 tahun, memperkenalkannya pada Fortnite. Sejak itu, ia tidak hanya bermain secara rutin, tetapi juga membangun komunitas sebagai streamer dengan nama grumpygran1948. Kini, ia memiliki sekitar 24.000 pengikut yang setia menyaksikan aksinya. "Saya suka tantangannya, dan saya bermain setiap hari," ujarnya, seperti dikutip dari sumber berita.
Fortnite sendiri merupakan salah satu game battle royale paling populer di dunia, mempertemukan hingga 100 pemain dalam pertarungan bertahan hidup. Popularitas game ini melampaui batas usia, gender, dan geografi. Kehadiran Bowie di panggung streaming tidak hanya memperkaya keragaman konten, tetapi juga menantang asumsi bahwa teknologi dan gaming adalah ranah eksklusif kaum muda.
Alice Bell, editor Guinness World Records Gamer's Edition 2027, menegaskan bahwa gaming adalah untuk semua orang. "Edisi ini menampilkan gamer dari berbagai generasi dan budaya di seluruh dunia," katanya. Pernyataan ini menggarisbawahi pergeseran paradigma dalam industri game yang semakin inklusif, seiring dengan meningkatnya adopsi teknologi oleh kelompok usia lanjut.
Fenomena Bowie bukan sekadar cerita inspiratif. Ini mencerminkan tren yang lebih luas: populasi lanjut usia semakin melek digital dan aktif dalam platform online. Di Indonesia, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sekitar 10% penduduk berusia di atas 60 tahun, dan angka ini terus meningkat. Meskipun penetrasi internet di kalangan lansia masih relatif rendah, potensi pertumbuhannya besar, terutama dengan semakin terjangkaunya perangkat dan koneksi.
Bagi pasar Indonesia, kisah Bowie dapat menjadi katalis untuk mengubah persepsi merek dan pengembang game. Selama ini, kampanye pemasaran game cenderung menyasar generasi muda. Padahal, segmen lansia memiliki daya beli dan waktu luang yang signifikan. Platform streaming seperti Twitch dan YouTube Gaming juga dapat memperluas basis penonton dengan menyajikan konten yang ramah lansia, misalnya tutorial bermain game untuk pemula atau komunitas virtual khusus.
Selain itu, kisah Bowie menyoroti pentingnya literasi digital bagi semua usia. Pemerintah Indonesia melalui program literasi digital nasional dapat menjadikan contoh ini sebagai studi kasus untuk mendorong partisipasi lansia di ruang digital. Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga kreator konten yang produktif.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah industri game akan benar-benar merangkul demografi lansia sebagai segmen strategis, atau hanya menjadikan mereka sebagai cerita pemasaran sesaat. Bowie telah membuktikan bahwa usia hanyalah angka. Kini, giliran ekosistem game untuk membuktikan bahwa inklusivitas bukan sekadar slogan.



