Pertarungan Holborn & St Pancras: Green Incar Kursi London Pertama, Labour Dikejar Reform
Baca dalam 60 detik
- Pemilih di Holborn and St Pancras, London, akan menentukan anggota parlemen baru pada 8 Oktober dalam pemilu sela yang digelar setelah Keir Starmer mundur dari kursi parlemen.
- Partai Hijau menargetkan kemenangan bersejarah di London, sementara Labour berusaha mempertahankan benteng tradisionalnya dari gempuran Reform UK dan Lib Dem.
- Isu perumahan, kejahatan, dan kepemimpinan nasional menjadi medan pertempuran utama yang bisa menentukan arah politik Inggris pasca-Starmer.

Warga di daerah pemilihan Holborn and St Pancras, London tengah, akan menuju bilik suara pada 8 Oktober mendatang untuk memilih anggota parlemen baru. Pemilu sela ini digelar setelah Keir Starmer meninggalkan kursi House of Commons pada awal September, tak lama setelah ia lengser dari jabatan perdana menteri. Kursi yang telah lama menjadi basis Partai Buruh itu kini menjadi medan uji paling menarik dalam lanskap politik Inggris saat ini.
Bagi Partai Hijau, kemenangan di Holborn and St Pancras akan menjadi trofi bergengsi: kursi London pertama mereka di parlemen nasional. Partai Buruh tetap yakin dapat mempertahankan wilayah yang telah mereka kuasai selama puluhan tahun, tetapi tekanan datang dari berbagai arah. Selain 13 kandidat lain, Reform UK dan Liberal Demokrat ikut memperebutkan suara di konstituensi urban yang kompleks ini.
Zack Polanski, kandidat Partai Hijau yang juga anggota London Assembly dan pemimpin partai di Inggris dan Wales, menyatakan dirinya percaya diri namun tidak jemawa. Ia berjanji akan bekerja sama secara konstruktif dengan pemerintah Buruh pada isu-isu yang disepakati, tetapi akan menjadi pengawas kritis pada kebijakan yang dinilainya mengecewakan—terutama perumahan, nasionalisasi Thames Water, dan krisis iklim. "Mengirim saya ke Parlemen adalah cara untuk menjaga pemerintah Buruh tetap terkendali," ujarnya kepada BBC London.
Polanski menyoroti keluhan warga soal mahalnya biaya hunian, kebutuhan akan perumahan dewan, kontrol sewa, dan keadilan bagi pemegang leasehold. Ia menuding pemerintah gagal menuntaskan sistem leasehold yang feodal. Ketika ditanya tentang masa lalunya sebagai kandidat Lib Dem di Camden, ia menegaskan bahwa politik bukanlah soal memilih tim sepak bola dan bertahan selamanya. Menurutnya, ia satu-satunya kandidat yang mampu mengalahkan Buruh di daerah itu.
Dari kubu Buruh, Sagal Abdi-Wali, pemimpin Dewan Camden sejak Mei, menyebut kampanye berjalan sangat baik. Ia menyadari besarnya taruhan politik: ini adalah pemilu sela pertama di bawah kepemimpinan Andy Burnham, dan lawannya adalah pemimpin Partai Hijau. "Ini ujian besar bagi partai," katanya. Abdi-Wali, yang keluarganya datang ke London dari Somalia sebagai pengungsi pada 1990-an, menekankan pentingnya mengirim wakil yang benar-benar lokal dan terlihat di komunitas. Ia mengakui krisis perumahan dan kejahatan di Camden membutuhkan respons nasional, dan memuji kontribusi Starmer selama 11 tahun mewakili daerah itu.
Kandidat Reform UK, Peter Walker, yang bertugas di Kepolisian Metropolitan selama 31 tahun, menyatakan tidak bisa lagi berdiam diri melihat kekacauan yang ditinggalkan Partai Konservatif dan Buruh. Ia mengklaim Reform terus meningkatkan perolehan suara di pemilu lokal London dan menjadi satu-satunya opsi bagi warga Holborn and St Pancras. Walker berjanji akan menekan kepala polisi dan wali kota London untuk membenahi masalah kejahatan yang menurutnya merajalela.
Patrick Stillman dari Liberal Demokrat, seorang anggota Dewan Camden, melihat pemilu sela ini sebagai peluang partainya untuk memperkenalkan diri kembali ke komunitas. Ia mengandalkan kerja lapangan dan pesan liberal yang menyentuh isu-isu sehari-hari warga. Sementara Ewan Cameron dari Partai Konservatif mengklaim sebagai satu-satunya kandidat yang serius membicarakan krisis perumahan. Ia menuduh lawan-lawannya sibuk membahas isu segregasi dan agama, padahal masalah utama adalah kurangnya rumah keluarga dan rasa aman di jalanan. Cameron menilai Buruh akan terlena jika kembali menang.
"Saya merasa percaya diri, kalau tidak saya tidak akan mencalonkan diri. Tapi saya tidak lengah." — Zack Polanski, kandidat Partai Hijau
Pemilu sela ini bukan sekadar kontes lokal. Hasilnya akan menjadi barometer bagi arah Partai Buruh pasca-Keir Starmer, sekaligus ujian bagi Partai Hijau yang ingin membuktikan diri sebagai kekuatan politik arus utama di kota-kota besar. Bagi Reform UK, perolehan suara signifikan akan memperkuat narasi bahwa mereka mampu menembus wilayah perkotaan yang secara tradisional sulit mereka masuki.
Konteks Indonesia: Meskipun peristiwa ini terjadi di Inggris, dinamika politik di Holborn and St Pancras mencerminkan tren global yang juga terlihat di Indonesia—khususnya bagaimana isu perumahan, keamanan, dan perubahan iklim menjadi medan pertarungan elektoral. Kemenangan Partai Hijau di jantung kota London dapat menginspirasi partai-partai berbasis lingkungan di Indonesia untuk memperluas basis dukungan di wilayah urban. Sebaliknya, jika Reform UK mencatat lonjakan suara, itu menandakan gelombang populisme kanan yang juga menguat di banyak negara demokrasi, termasuk potensi dampaknya pada politik identitas dan kebijakan imigrasi.
Yang paling menarik untuk dicermati adalah apakah Partai Hijau mampu mengubah kekecewaan terhadap pemerintah menjadi kursi parlemen, atau justru Buruh yang kembali unggul dengan mengandalkan mesin partai dan figur lokal. Hasil 8 Oktober nanti akan menjawab apakah lanskap politik London benar-benar bergeser, atau hanya riak kecil di tengah dominasi tradisional. Bagaimana pun, pertarungan ini akan menjadi cermin bagi masa depan politik progresif di kota-kota global.



