Misteri Arupadhatu 1: Jasad ABK Ditemukan 340 Km dari Titik Hilang Kontak, Teka-teki Delapan Penumpang Belum Terjawab
Baca dalam 60 detik
- Polda Banten memastikan jenazah tanpa identitas yang terdampar di perairan Enggano, Bengkulu, adalah Surakman (60), anak buah kapal Arupadhatu 1.
- Titik penemuan berjarak sekitar 340 kilometer dari lokasi terakhir kapal terdeteksi di Pulau Sebesi, memicu pertanyaan soal lintasan kapal sebelum hilang.
- Operasi SAR resmi ditutup 17 September, sementara delapan orang lainnya masih belum ditemukan dan keluarga mendesak pencarian di Pulau Sertung.

Polda Banten mengungkap identitas jenazah tanpa nama yang ditemukan di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara. Setelah melalui pemeriksaan Disaster Victim Identification (DVI), jasad yang sempat disebut sebagai Mr X itu dipastikan sebagai Surakman (60), anak buah kapal (ABK) Speedboat Arupadhatu 1 yang membawa lima jurnalis peliput erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).
Kapolda Banten Irjen Pol Hengki menyatakan kepastian identitas itu diperoleh dari uji genetik yang dilakukan di RS Bhayangkara Polda Bengkulu. "Hasil identifikasi berdasarkan pemeriksaan DVI, secara genetik, jenazah teridentifikasi sebagai Surakman atau ABK Kapal," ujarnya dalam konferensi pers di Mapolda Banten, Serang, Rabu (23/9). Temuan ini menjadi titik terang pertama setelah sepuluh hari operasi pencarian yang panjang dan berakhir tanpa hasil.
Yang membuat kasus ini semakin rumit adalah lokasi penemuan jasad. Berdasarkan penelusuran citra satelit, jarak antara titik terakhir kapal Arupadhatu 1 terdeteksi di sekitar Pulau Sebesi, Lampung Selatan, dengan perairan Sawang Bengkok di Pulau Enggano mencapai sekitar 340 kilometer atau 188 mil laut. Pulau Enggano sendiri berada di Samudra Hindia, jauh di barat daya Gunung Anak Krakatau, dan termasuk salah satu pulau terluar Indonesia.
Sebelumnya, istri salah satu jurnalis, Desi, sempat meminta tim SAR memperluas pencarian ke Pulau Sertung. Ia menduga suaminya dan rekan-rekannya sempat berencana singgah di pulau yang terletak di barat Anak Krakatau itu. "Saya dapat informasi dari yang mengarahkan dia... dia nanya 'bisa enggak berhenti di Sertung, turun di Sertung bisa enggak'. Dari informasi itu feeling saya yang harus dicari ya ke Sertung," tuturnya di hadapan Gubernur Banten Andra Soni dan Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad, Rabu (9/9) malam.
Permintaan itu mengemuka karena jalur pelayaran dari Carita menuju kawasan Anak Krakatau memang melewati beberapa pulau kecil di Selat Sunda. Namun, hingga operasi SAR ditutup, tidak ada tanda-tanda keberadaan kapal maupun delapan penumpangnya. Keluarga korban kemudian menggelar tabur bunga di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau pada Jumat (18/9) sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Insiden ini bermula ketika Speedboat Arupadhatu 1 bertolak dari dermaga Carita, Pandeglang, pada Senin (7/9) untuk meliput aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Kapal tersebut membawa kapten Warta (55), ABK Surakman (60), pemandu Heriyanto (49), serta lima jurnalis: M Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudhis, Daus, dan Donal. Kontak terakhir terdeteksi di sekitar Pulau Sebesi sebelum kapal dinyatakan hilang.
Bagi industri media Indonesia, peristiwa ini menjadi pukulan telak sekaligus pengingat keras bahwa peliputan bencana alam di kawasan berisiko tinggi menuntut protokol keselamatan yang lebih ketat. Selama ini, liputan erupsi gunung berapi sering dilakukan dengan mobilitas tinggi dan persiapan minimal, terutama oleh jurnalis lepas. Kejadian ini memunculkan pertanyaan tentang standar keselamatan yang diterapkan redaksi, penyedia jasa transportasi, serta otoritas pelabuhan dalam mengizinkan pelayaran di perairan rawan.
Dari sisi pencarian dan pertolongan, kasus ini juga menyoroti tantangan koordinasi lintas wilayah. Selat Sunda berada di persimpangan tiga provinsi—Banten, Lampung, dan Bengkulu—sehingga operasi SAR harus melibatkan banyak pihak. Meski demikian, luasnya area pencarian dan kondisi arus laut yang dinamis membuat upaya pencarian menghadapi keterbatasan signifikan. Penemuan jasad Surakman di Enggano, yang berada di luar perkiraan awal, menunjukkan betapa sulitnya memprediksi pergerakan kapal atau korban di perairan terbuka.
"Kami akan terus mendalami temuan ini, termasuk kemungkinan adanya penumpang lain yang terdampar di wilayah yang sama," ujar Kapolda Banten, memberi sinyal bahwa penyelidikan belum berhenti.
Hingga kini, delapan orang lainnya masih belum ditemukan. Polda Banten menyatakan akan berkoordinasi dengan Basarnas dan pemerintah daerah untuk memantau kemungkinan temuan lanjutan di pesisir barat Sumatera. Sementara itu, keluarga korban berharap ada kejelasan lebih lanjut, terutama mengenai kronologi pasti sebelum kapal hilang kontak. Apakah penemuan jasad Surakman akan membuka jalan bagi pencarian baru, atau justru menutup harapan bagi tujuh penumpang lainnya?



