Kebakaran Gambut di Kalbar Makin Meluas, BNPB Kerahkan Armada Udara dan Modifikasi Cuaca
Baca dalam 60 detik
- Luas lahan terbakar di Kalimantan Barat hingga Juni mencapai 28.680 hektare, melampaui total kebakaran sepanjang 2025.
- BNPB mengerahkan lima helikopter water bombing dan pesawat modifikasi cuaca untuk memadamkan api di Kubu Raya.
- Kepala BNPB menyebut hujan buatan menjadi andalan utama karena kondisi cuaca panas diprediksi berlanjut tiga pekan ke depan.

Pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meningkatkan operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, dengan mengerahkan tim darat serta armada udara. Langkah ini ditempuh menyusul meluasnya titik api di lahan gambut yang berpotensi menghasilkan asap tebal meskipun api di permukaan telah padam. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena dampaknya tidak hanya dirasakan warga sekitar, tetapi juga berpotensi memicu kabut asap lintas batas.
Kepala BNPB, Suharyanto, mengungkapkan bahwa kebakaran gambut memiliki karakteristik yang lebih rumit dibandingkan kebakaran lahan biasa. Bara api dapat bertahan di lapisan bawah permukaan meskipun nyala api di atas telah berhasil dipadamkan. Menurutnya, hujan merupakan cara paling efektif untuk memadamkan api di lahan gambut, namun peluang terbentuknya awan hujan di Kalimantan Barat saat ini masih sangat kecil.
"Solusi paling efektif dan efisien adalah hujan, jadi ketika ada potensi awan hujan, kami akan melakukan operasi modifikasi cuaca," ujar Suharyanto dalam keterangan resmi BNPB pada Sabtu (8/8), setelah melakukan inspeksi udara di Kubu Raya sehari sebelumnya. Operasi modifikasi cuaca ini menjadi salah satu strategi utama yang disiapkan pemerintah untuk mengatasi kebakaran yang sulit dipadamkan dari darat.
BNPB sebelumnya mengumumkan bahwa Kalimantan Barat telah memiliki tiga helikopter water bombing sejak Kamis (6/8), dengan dua unit tambahan yang dijadwalkan tiba dalam dua hari berikutnya, sehingga total armada menjadi lima unit. Selain itu, satu helikopter patroli dan satu pesawat modifikasi cuaca juga disiagakan untuk mendukung operasi pemadaman. Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani kebakaran yang diperkirakan akan semakin parah.
Suharyanto mengaitkan meluasnya kebakaran dengan kondisi cuaca ekstrem, yaitu lebih dari satu bulan tanpa hujan dan suhu udara yang sangat panas. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Kalimantan Barat akan mengalami kondisi yang lebih panas dan risiko kebakaran tinggi dalam tiga pekan ke depan. Prediksi ini menjadi dasar bagi BNPB untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mempercepat operasi pemadaman.
Kebakaran lahan gambut di Indonesia bukan persoalan baru, tetapi setiap tahunnya menimbulkan kerugian ekonomi dan lingkungan yang signifikan. Asap dari kebakaran gambut tidak hanya mengganggu kesehatan masyarakat, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas penerbangan dan memicu konflik diplomatik dengan negara tetangga. Oleh karena itu, penanganan yang cepat dan tepat menjadi kunci untuk mencegah dampak yang lebih luas.
Di sisi lain, BNPB juga melaporkan empat kebakaran hutan dan lahan di Sumatra Utara, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Jawa Barat pada periode Jumat hingga Sabtu pagi, dengan total luas 4,5 hektare. Seluruh kebakaran tersebut berhasil dipadamkan. Meskipun skalanya kecil, kejadian ini menunjukkan bahwa potensi kebakaran tidak hanya terjadi di Kalimantan, tetapi juga di wilayah lain.
Ke depan, pemerintah perlu memperkuat sistem peringatan dini dan meningkatkan kapasitas pemadaman, terutama di daerah rawan gambut. Pertanyaannya, apakah upaya yang dilakukan saat ini cukup untuk mencegah terulangnya bencana asap seperti yang terjadi pada 2015 dan 2019? Dengan prediksi cuaca yang masih kering, koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, serta partisipasi masyarakat dalam mencegah kebakaran, menjadi faktor penentu keberhasilan penanganan kebakaran tahun ini.



