Kemlu Verifikasi Kabar WNI Tewas dalam Serangan Drone di Yaman: Satu ABK Luka Berat, Proses Evakuasi Berjalan
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Luar Negeri tengah memastikan status seorang WNI yang dilaporkan meninggal dalam serangan drone di Yaman, sementara dua ABK lain selamat dengan kondisi luka.
- Insiden di kapal MV Tihamah menyoroti risiko tinggi pelaut Indonesia di zona konflik, memicu evaluasi prosedur keselamatan pelayaran nasional.
- KBRI Muscat berkoordinasi intensif dengan otoritas setempat untuk evakuasi dan repatriasi, dengan harapan kepastian status korban segera diperoleh.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI masih menelusuri kebenaran kabar duka yang menimpa seorang warga negara Indonesia (WNI) yang bertugas sebagai anak buah kapal (ABK) di MV Tihamah, pasca serangan drone di perairan Yaman. Hingga berita ini diturunkan, satu dari tiga ABK WNI dilaporkan meninggal dunia oleh media internasional, sementara dua lainnya mengalami luka dengan tingkat keparahan berbeda.
Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (BHI) Kemlu, Heni Hamidah, dalam keterangan resminya, Selasa (11/8/2026), menyatakan bahwa dari tiga ABK WNI yang berada di kapal berbendera asing tersebut, satu orang mengalami luka ringan akibat serpihan dan tidak memerlukan perawatan intensif. Sementara itu, satu ABK lainnya harus menjalani perawatan di rumah sakit karena luka yang dideritanya. Adapun nasib ABK ketiga masih belum jelasโsejumlah pemberitaan asing menyebut yang bersangkutan tewas dalam insiden tersebut.
Kapal MV Tihamah yang mengangkut 11 awak ini menjadi sasaran serangan drone di wilayah Yaman, sebuah negara yang masih dilanda konflik berkepanjangan. Heni menegaskan bahwa Kedutaan Besar RI di Muscat, Oman, terus memantau perkembangan situasi dan berupaya memverifikasi informasi yang beredar. "KBRI Muscat tengah berkomunikasi dengan otoritas terkait untuk memperoleh konfirmasi resmi mengenai kondisi dan keberadaan ABK WNI yang bersangkutan," ujarnya.
Langkah evakuasi pun tengah disiapkan. Kemlu bersama KBRI Muscat berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk memastikan keselamatan para ABK dan memulangkan mereka ke Indonesia. Heni berharap, meskipun ada kabar duka, seluruh proses penyelamatan dapat berjalan lancar. "Kementerian Luar Negeri bersama KBRI Muscat akan terus berkoordinasi dengan otoritas setempat dan pihak-pihak terkait lainnya untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna memastikan perlindungan bagi ketiga ABK WNI," tambahnya.
Kabar awal mengenai tewasnya ABK WNI ini pertama kali disiarkan oleh televisi pemerintah Yaman, Al-Jumhuriya. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa dari tiga korban tewas dalam serangan itu, dua di antaranya adalah warga Pakistan dan satu warga Indonesia. Namun, data ini masih menunggu konfirmasi lebih lanjut dari pihak berwenang.
Insiden ini kembali menyoroti risiko tinggi yang dihadapi pelaut Indonesia yang bekerja di jalur pelayaran internasional, khususnya di kawasan Timur Tengah yang rawan konflik. Menurut data organisasi perburuhan internasional, Indonesia merupakan salah satu pemasok pelaut terbesar di dunia, dengan ribuan WNI bertugas di kapal-kapal asing setiap tahun. Serangan terhadap kapal dagang di Yaman, yang kerap dikaitkan dengan kelompok Houthi, menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan mereka yang bekerja di zona perang.
Di tengah ketidakpastian ini, publik Indonesia menanti kepastian resmi dari pemerintah. Pertanyaan yang mengemuka: apakah prosedur keselamatan pelayaran nasional sudah cukup ketat untuk melindungi WNI di daerah konflik? Sementara itu, keluarga korban berharap agar proses verifikasi dan evakuasi dapat dipercepat, sehingga kepastian nasib sanak saudara mereka segera terungkap.



