Hidankyo Tegaskan Komitmen Anti-Nuklir di Tengah Peringatan 70 Tahun: Jepang Masih Menolak TPPNW
Baca dalam 60 detik
- Organisasi penyintas bom atom Jepang, Nihon Hidankyo, merayakan 70 tahun berdirinya dengan pembaruan tekad melawan senjata nuklir, di tengah kekhawatiran meningkatnya belanja militer global.
- Dalam acara di Nagasaki, para pemimpin Hidankyo kembali mengkritik sikap Jepang yang belum meratifikasi Perjanjian Pelarangan Senjata Nuklir (TPNW), meski 100 negara telah bergabung.
- Perayaan ini menjadi momentum refleksi bagi dunia, termasuk Indonesia, untuk menilai kembali komitmen terhadap disarmament nuklir di tengah ketegangan geopolitik yang memanas.

Nihon Hidankyo, organisasi penyintas bom atom Jepang yang meraih Nobel Perdamaian 2024, memanfaatkan peringatan 70 tahun berdirinya untuk menegaskan kembali tekadnya melawan senjata nuklir. Acara yang digelar di Nagasaki, Sabtu (9/8/2026), sehari sebelum peringatan 81 tahun pengeboman kota itu, menjadi panggung bagi para penyintas untuk menyuarakan keprihatinan atas meningkatnya ketegangan global dan melambatnya upaya perlucutan senjata.
Didirikan pada 10 Agustus 1956, sehari setelah peringatan 11 tahun pengeboman Nagasaki, Hidankyo telah menjadi simbol perlawanan terhadap senjata pemusnah massal. Namun, di usia yang hampir mencapai delapan dekade, organisasi ini menghadapi tantangan baru: generasi penyintas yang semakin menua, sementara ancaman nuklir justru kembali mengemuka di berbagai kawasan. Sekretaris Jenderal Hidankyo, Jiro Hamasumi, menegaskan bahwa perayaan di Nagasaki, tempat organisasi ini lahir, adalah bentuk pembaruan komitmen untuk memastikan tidak akan ada lagi korban bom atom.
Acara yang dihadiri sejumlah tamu internasional ini diisi dengan momen hening, pembacaan puisi oleh pelajar SMA setempat, serta penampilan seni dari kelompok etnis Korea. Kehadiran elemen Korea menjadi pengingat bahwa banyak warga Korea yang menjadi korban bom atom, karena mereka dipekerjakan paksa di pabrik-pabrik Jepang selama Perang Dunia II. Hal ini menegaskan dimensi internasional dari tragedi nuklir, yang tidak hanya menyentuh Jepang tetapi juga negara-negara lain di Asia.
Dalam pidatonya, perwakilan Hidankyo, Shigemitsu Tanaka (86), penyintas bom Nagasaki, kembali melontarkan kritik tajam terhadap pemerintah Jepang yang hingga kini belum meratifikasi Traktat Pelarangan Senjata Nuklir (TPNW). "Saat ini 100 negara telah menandatangani dan meratifikasi traktat tersebut, namun Jepang, satu-satunya negara yang pernah mengalami bom atom dalam perang, terus berpaling dan berjalan ke arah yang berlawanan dari harapan kami," ujarnya. Kritik ini mencerminkan kekecewaan mendalam para penyintas terhadap kebijakan pemerintah yang lebih condong pada payung nuklir AS daripada komitmen global untuk melarang senjata nuklir.
Carlos Umana, direktur eksekutif Alliance for Nuclear Disarmament, sebuah jaringan masyarakat sipil yang mendesak pemerintah Spanyol untuk bergabung dengan TPNW, menegaskan bahwa senjata nuklir meracuni hubungan antarnegara dan mengikis hukum internasional. "Senjata nuklir memperkuat agresi di bawah payung impunitas," katanya. Pernyataan ini relevan dengan situasi global saat ini, di mana negara-negara besar justru meningkatkan modernisasi arsenal nuklir mereka, memicu kekhawatiran akan perlombaan senjata baru.
Di tengah perayaan, muncul kekhawatiran bahwa semangat anti-nuklir mulai memudar, terutama di kalangan generasi muda. Terumi Tanaka (94), salah satu ketua Hidankyo, menegaskan bahwa pekerjaan organisasi ini belum selesai. "Kami tidak bisa hanya berbahagia dengan ulang tahun ke-70," ujarnya. Pernyataan ini merespons meningkatnya seruan untuk menambah belanja pertahanan di Jepang, yang menurut para penyintas justru mengarah pada normalisasi senjata nuklir.
Bagi Indonesia, komitmen Hidankyo menjadi pengingat akan pentingnya mendukung upaya perlucutan senjata nuklir. Sebagai negara yang pernah menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika dan aktif dalam gerakan non-blok, Indonesia memiliki posisi strategis untuk mendorong dialog disarmament di kawasan. Namun, tantangan geopolitik yang semakin kompleks, termasuk ketegangan di Laut China Selatan dan Semenanjung Korea, menuntut Indonesia untuk lebih vokal dalam memperjuangkan dunia yang bebas nuklir.
Perayaan 70 tahun Hidankyo bukan sekadar seremoni, melainkan panggilan untuk bertindak. Di tengah meningkatnya ketegangan global dan ancaman penggunaan senjata nuklir yang kembali menghantui, pertanyaannya adalah: apakah dunia akan belajar dari sejarah, atau mengulang kesalahan yang sama? Hidankyo telah memberikan contoh bahwa perdamaian adalah perjuangan tanpa henti, dan Indonesia, sebagai bagian dari komunitas global, memiliki tanggung jawab untuk ikut serta dalam perjuangan tersebut.



