Bahasa Mandarin Kunci Daya Saing Global: Malaysia Dorong Pendidikan Multibahasa di Tengah Meningkatnya Peran Teknologi dan AI
Baca dalam 60 detik
- Mantan Wakil Presiden MCA, Chan Kong Choy, menyerukan agar Malaysia melampaui politik berbasis etnis dan menjadikan penguasaan bahasa Mandarin sebagai strategi nasional untuk bersaing di era teknologi dan perdagangan global.
- Departemen Studi Tionghoa Universitas Malaya mencatat lonjakan signifikan jumlah mahasiswa, dari kurang dari 30 pada 1976 menjadi lebih dari 570 saat ini, mencerminkan meningkatnya minat terhadap bahasa Mandarin.
- Dua terjemahan lengkap novel klasik 'Impian Paviliun Merah' ke bahasa Melayu diterbitkan dalam dua tahun, menandai langkah penting dalam diplomasi budaya dan pertukaran intelektual antara komunitas Tionghoa dan Melayu.

Bahasa Mandarin kini bukan lagi sekadar bahasa komunitas, melainkan instrumen strategis yang menentukan daya saing suatu bangsa di tengah derasnya arus teknologi, kecerdasan buatan, dan perdagangan global. Demikian disampaikan Tan Sri Chan Kong Choy, akademisi Universitas Malaya, dalam pidato pembukaan Konferensi Internasional Kedua tentang Penyebaran Fiksi Klasik Tionghoa di Luar Negeri, yang digelar di Kuala Lumpur. Pernyataan ini hadir di tengah meningkatnya kebutuhan akan talenta multibahasa di pasar kerja Asia, termasuk Indonesia.
Chan, yang juga mantan Wakil Presiden Partai Gerakan Rakyat Malaysia (MCA), menilai sudah saatnya Malaysia meninggalkan pendekatan politik yang berorientasi pada kepentingan kelompok etnis tertentu. Menurutnya, pendidikan bahasa Mandarin harus dipandang sebagai fondasi untuk mencetak sumber daya manusia yang berwawasan internasional, bukan sekadar tuntutan komunitas minoritas. "Negara yang berpandangan jauh ke depan tidak akan melihat ini hanya sebagai permintaan kelompok minoritas, tetapi sebagai investasi untuk membuka peluang global yang lebih luas," ujarnya.
Seruan ini sejalan dengan sikap sejumlah pemimpin regional, termasuk Premier Sarawak, Tan Sri Abang Johari Openg, yang mendorong penguasaan bahasa Inggris dan Mandarin secara bersamaan. Chan menyambut baik langkah tersebut sebagai cerminan kepemimpinan yang visioner. Ia menegaskan bahwa kemampuan berbahasa ganda akan memungkinkan Malaysia, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, untuk berkompetisi dengan percaya diri di panggung internasional.
Data yang dipaparkan Chan menunjukkan transformasi signifikan di Departemen Studi Tionghoa Universitas Malaya. Ketika ia menjadi mahasiswa pada 1976, departemen ini hanya memiliki kurang dari 30 mahasiswa. Kini, jumlahnya melonjak menjadi 215 mahasiswa sarjana, 299 mahasiswa magister, dan 56 kandidat doktor. Pertumbuhan ini, menurut Chan, adalah buah dari perjuangan para pegiat pendidikan Tionghoa selama lima dekade terakhir dan bukti bahwa bahasa serta budaya Tionghoa tetap lestari di tengah gempuran modernisasi.
Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia, di mana minat terhadap bahasa Mandarin meningkat seiring dengan menguatnya kerja sama ekonomi dengan China. Sekolah-sekolah dan kursus bahasa Mandarin di berbagai kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan terus bertambah. Namun, tantangannya adalah bagaimana mengintegrasikan penguasaan bahasa ini dengan kebijakan pendidikan nasional yang inklusif, tanpa terjebak pada sentimen etnis. Pengalaman Malaysia bisa menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia dalam merumuskan strategi pengembangan talenta global.
Dalam kesempatan yang sama, Chan juga mengenang jasa mendiang Datuk Dr. Hasan Ahmad, mantan Direktur Jenderal Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), yang berperan besar dalam modernisasi bahasa Melayu. Chan mengungkapkan bahwa Hasan dengan antusias mendukung usulannya untuk menerjemahkan novel klasik Tionghoa, 'Impian Paviliun Merah', ke dalam bahasa Melayu. Proyek terjemahan yang dimulai pada 2007 ini sempat terhenti karena Hasan wafat pada 2011, namun akhirnya membuahkan hasil dengan terbitnya dua versi lengkap dalam waktu berdekatan.
Versi pertama, berjudul Mimpi di Mahligai Merah, terbit pada 28 September 2017, diterjemahkan oleh Dr. Seng Yan Chuan dan Assoc. Prof. Dr. Khor Boon Eng, diterbitkan oleh Yayasan Karyawan bersama Asosiasi Alumni Studi Tionghoa Universitas Malaya. Versi kedua, Hikayat Mimpi Rumah Agam Merah, terbit dalam empat jilid antara 2018 dan 2019 oleh DBP, dengan tim penerjemah yang dipimpin oleh Loh Wah Ching dan editor Goh Hin San. Kehadiran dua terjemahan ini menjadi bukti nyata jembatan budaya yang dibangun melalui karya sastra.
Langkah Malaysia dalam menerjemahkan karya sastra klasik Tionghoa ke bahasa Melayu patut dicontoh Indonesia. Di tengah upaya mempererat hubungan bilateral, pertukaran budaya melalui sastra dapat menjadi medium diplomasi yang efektif. Apakah Indonesia akan mengambil langkah serupa, misalnya dengan menerjemahkan karya-karya sastra Tionghoa ke bahasa Indonesia, untuk memperkaya khazanah intelektual dan memperkuat pemahaman antarbudaya? Jawabannya ada pada kemauan politik dan visi jangka panjang para pemangku kebijakan.



