Spanyol Berlakukan Pemeriksaan Perbatasan untuk Warga Italia, Balas Aksi Roma
Baca dalam 60 detik
- Madrid memberlakukan pemeriksaan perbatasan terhadap pelancong dari Italia sebagai respons atas langkah serupa Roma terkait gelombang migran di Ceuta.
- Langkah ini memperdalam ketegangan antara dua negara anggota Uni Eropa, dengan masing-masing saling menuding soal kebijakan imigrasi.
- Komisioner migrasi UE menyebut pemeriksaan bersifat sementara, namun langkah ini menyoroti rapuhnya solidaritas di kawasan Schengen.

Spanyol mulai memberlakukan pemeriksaan perbatasan bagi pelancong yang datang dari Italia pada Sabtu (8/8), sebagai balasan atas langkah serupa yang diambil Roma setelah gelombang migran besar-besaran menyerbu kantong Ceuta di Afrika Utara. Langkah ini menandai eskalasi perselisihan antara dua negara anggota Uni Eropa yang juga sekutu NATO, dengan masing-masing pihak saling menuding soal kebijakan imigrasi.
Pemerintah sayap kiri Spanyol sebelumnya mengecam keputusan Italia yang pada 31 Juli memberlakukan pemeriksaan perbatasan selama satu bulan terhadap pelancong dari Spanyol, yang secara efektif menangguhkan kebebasan bergerak di kawasan Schengen. Roma beralasan langkah itu diambil untuk merespons lonjakan migran yang masuk ke Ceuta, sebuah kota otonom Spanyol yang berbatasan langsung dengan Maroko.
Lebih dari 70.000 migran dilaporkan menyeberang dari Maroko ke Ceuta pada 30โ31 Juli, meskipun sebagian besar dari mereka kembali ke Maroko dalam waktu 48 jam. Peristiwa itu memicu kekhawatiran di sejumlah negara Eropa, terutama pemerintah berhaluan kanan yang mendesak penegakan aturan yang lebih ketat terhadap migran tidak berdokumen. Namun, aturan khusus yang berlaku di Ceuta memastikan bahwa para migran tidak dapat melanjutkan perjalanan ke daratan Eropa tanpa melalui lapisan pemeriksaan perbatasan tambahan.
Ketegangan ini menyoroti keretakan di dalam Uni Eropa dalam menghadapi isu migrasi. Spanyol, yang selama ini menjadi garda depan dalam menangani arus migran dari Afrika Utara, merasa diperlakukan tidak adil oleh Italia. Sementara itu, Italia yang dipimpin pemerintahan sayap kanan pimpinan Giorgia Meloni, terus mendorong pendekatan yang lebih keras terhadap migrasi tidak teratur, sering kali bertabrakan dengan negara-negara yang lebih liberal seperti Spanyol dan Jerman.
- 70.000+ migran menyeberang dari Maroko ke Ceuta pada 30โ31 Juli.
- Italia memberlakukan pemeriksaan perbatasan terhadap Spanyol mulai 31 Juli selama satu bulan.
- Spanyol mulai memberlakukan pemeriksaan serupa terhadap Italia pada 8 Agustus.
- Komisioner migrasi UE, Magnus Brunner, menyebut pemeriksaan bersifat sementara.
Kepala kebijakan migrasi Uni Eropa, Magnus Brunner, mengatakan pada Sabtu bahwa ia telah berkomunikasi dengan menteri dalam negeri Spanyol dan Italia. Keduanya, menurut Brunner, menegaskan bahwa pemeriksaan perbatasan internal bersifat sementara. "Saya menekankan kemajuan yang telah kita capai dalam menangani migrasi ilegal dan bahwa kepercayaan antar negara anggota adalah mata uang kita yang paling berharga," tulis Brunner di platform X. Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran Brussel bahwa langkah-langkah sepihak seperti ini dapat menggerogoti prinsip solidaritas dan kepercayaan yang menjadi fondasi kawasan Schengen.
Bagi Indonesia, perselisihan ini menjadi pengingat bahwa kebijakan migrasi yang ketat dapat memicu efek domino di kawasan. Indonesia sendiri menghadapi tantangan serupa dalam mengelola arus pengungsi dan migran, terutama dari Timur Tengah dan Afrika yang kerap menjadikan negara ini sebagai titik transit. Ketegangan antara Spanyol dan Italia menunjukkan bahwa negara-negara yang merasa terbebani oleh arus migrasi cenderung mengambil tindakan unilateral, yang pada akhirnya dapat mengganggu stabilitas regional dan hubungan bilateral.
Para analis menilai bahwa langkah Spanyol ini bukan sekadar balasan simbolis, melainkan sinyal bahwa negara-negara di garis depan migrasi tidak lagi segan untuk mempertahankan kepentingan nasional mereka, bahkan jika itu berarti mengorbankan semangat integrasi Eropa. Pertanyaannya, apakah Uni Eropa mampu menemukan solusi bersama yang adil bagi semua pihak, atau justru semakin terpecah oleh isu yang sudah lama menjadi momok bagi persatuan Eropa?



