Rusia Diduga Gunakan Rudal Korea Utara, Serangan Semalam Tewaskan Sembilan Warga Ukraina
Baca dalam 60 detik
- Serangan Rusia dalam 24 jam terakhir menewaskan sedikitnya sembilan orang di Ukraina, dengan Zaporizhzhia sebagai wilayah terdampak paling parah.
- Kyiv menuduh Moskow memakai rudal balistik buatan Pyongyang, menandakan eskalasi dukungan militer Korea Utara terhadap invasi Rusia.
- Zelenskyy mendesak sekutu Asia-Pasifik untuk memperkuat pertahanan udara Ukraina, terutama sistem Patriot, di tengah meningkatnya serangan rudal.

Serangan udara Rusia yang dilancarkan pada Selasa malam (11/8) merenggut nyawa sedikitnya sembilan warga sipil Ukraina dan melukai puluhan lainnya. Pemerintah Ukraina langsung menuding Moskow menggunakan rudal balistik yang dipasok Korea Utara, sebuah klaim yang semakin mempertegas meluasnya keterlibatan Pyongyang dalam perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun tersebut.
Kota Zaporizhzhia di tenggara Ukraina menjadi sasaran paling mematikan. Presiden Volodymyr Zelenskyy mengonfirmasi enam orang tewas dan 19 luka-luka di kota tersebut. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa serangan itu dirancang untuk menghancurkan infrastruktur sipil, menggunakan kombinasi rudal balistik Korea Utara, rudal Zircon, serta bom udara berpemandu. Sementara itu, tiga korban jiwa lainnya dilaporkan tewas di wilayah Dnipropetrovsk yang berdekatan akibat serangan drone dan rudal.
Di ibu kota Kyiv, sebuah rumah sakit penyakit menular ikut menjadi sasaran, dan serangan di kota-kota garis depan seperti Kherson dan Kharkiv memicu pemadaman listrik. Kementerian Kesehatan Ukraina melaporkan sebuah rumah sakit anak di Kyiv juga terkena dampak, meski beruntung seluruh pasien dan staf medis selamat karena berlindung di tempat penampungan. Rusia, melalui kementerian pertahanannya, membantah menargetkan warga sipil dan mengklaim serangan tersebut diarahkan pada perusahaan industri militer serta pusat logistik.
Klaim penggunaan rudal Korea Utara ini bukanlah hal baru. Sejak awal invasi, intelijen Barat, Ukraina, dan Korea Selatan telah berulang kali menuding Pyongyang memasok amunisi dan rudal ke Moskow. Bahkan, pada 2024, kedua negara menandatangani pakta pertahanan bersama, yang kemudian diikuti dengan pengiriman ribuan tentara Korea Utara ke wilayah Kursk untuk membantu Rusia menghalau serangan balik Ukraina. Pekan lalu, Zelenskyy kembali mengungkapkan bahwa Rusia telah menerima pasokan rudal balistik tambahan dari Korea Utara, dan mengklaim ada keputusan untuk mengerahkan 30.000 hingga 50.000 tentara Korea Utara di wilayah Rusia, meski ia tidak merinci sumber informasi atau jadwal penempatan tersebut.
Eskalasi ini terjadi di tengah meningkatnya frekuensi serangan rudal balistik Rusia dalam beberapa pekan terakhir. Rudal jenis ini terbang dengan kecepatan tinggi dan sulit dicegat, menjadikannya ancaman serius bagi pertahanan udara Ukraina. Saat ini, hanya sistem Patriot buatan Amerika Serikat yang terbukti mampu mencegat rudal semacam itu. Namun, Ukraina menghadapi kelangkaan pasokan interceptor Patriot, terutama sejak konflik AS-Israel melawan Iran dimulai pada Februari lalu, yang turut menguras stok senjata pertahanan udara di kawasan.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki resonansi yang kuat. Sebagai negara yang selama ini konsisten menyerukan perdamaian dan menolak invasi, eskalasi yang melibatkan Korea Utara menunjukkan bagaimana perang dapat menarik kekuatan-kekuatan besar di kawasan Asia-Pasifik. Indonesia, yang memiliki hubungan dagang dan diplomatik dengan kedua belah pihak, perlu mencermati bagaimana dinamika ini dapat memengaruhi stabilitas keamanan regional, terutama terkait proliferasi rudal balistik yang dapat memicu perlombaan senjata di Asia Timur.
Di sisi lain, Ukraina terus meningkatkan serangan balasan dengan drone jarak jauh ke infrastruktur minyak dan gudang e-commerce Rusia, sebagai upaya untuk menggerus logistik dan sumber pendapatan Moskow. Namun, spiral eskalasi ini telah membawa korban sipil di Ukraina ke level tertinggi sejak awal perang pada 2022, menurut PBB. Dengan meningkatnya ketergantungan Rusia pada Korea Utara, pertanyaannya kini bukan lagi apakah perang akan berakhir, melainkan seberapa jauh Pyongyang bersedia terlibat dan bagaimana respons komunitas internasional, termasuk negara-negara Asia Tenggara, dalam menekan eskalasi lebih lanjut.


