Topan Dolphin Terjang Okinawa, China Bersiap Hadapi Dampak Terburuk
Baca dalam 60 detik
- Topan Dolphin melumpuhkan Okinawa dengan angin kencang 162 km/jam, memutus listrik 44.000 bangunan dan melukai lima orang.
- China menaikkan siaga typhoon ke level tertinggi di Zhejiang, menutup pelabuhan dan bandara menjelang kedatangan topan.
- Fenomena El Niรฑo tahun ini berpotensi memperkuat intensitas topan di Pasifik Barat, meningkatkan risiko bagi negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Topan Dolphin menghantam Pulau Okinawa, Jepang, pada Sabtu (23/9) dengan kecepatan angin maksimum 162 kilometer per jam, memutus aliran listrik bagi sedikitnya 44.000 bangunan dan melukai lima warga. Badai yang dikategorikan sebagai "sangat kuat" oleh Badan Meteorologi Jepang ini kini bergerak menuju pantai timur China dan diperkirakan akan mencapai daratan pada Minggu malam atau Senin dini hari.
Dampak terparah di Jepang terkonsentrasi di kepulauan Okinawa dan Amami, wilayah paling barat daya negeri Sakura. Bandara Naha, gerbang utama Okinawa, telah ditutup sejak Jumat, memaksa pembatalan seluruh penerbangan. Pemerintah prefektur Okinawa melaporkan lima lansia mengalami cedera ringan, tiga di antaranya terjatuh akibat terjangan angin. NHK, stasiun televisi nasional Jepang, menyiarkan sejumlah pohon tumbang di Kota Nago dan sebuah mobil yang terguling di area parkir hingga mengeluarkan oli.
Di sisi lain, China tidak tinggal diam. Otoritas setempat telah menutup pelabuhan dan sekolah di Provinsi Zhejiang, serta menaikkan siaga topan pantai ke level tertinggi. Bandara Internasional Ningbo Lishe menghentikan operasionalnya mulai Sabtu pukul 23.30 waktu setempat dan membatalkan semua penerbangan pada Minggu. Langkah antisipatif ini diambil untuk meminimalkan korban jiwa dan kerugian material, mengingat wilayah pesisir China kerap menjadi langganan dampak topan tropis.
Fenomena El Niรฑo yang sedang menguat tahun ini menjadi perhatian para ahli. Menurut Badan Meteorologi Jepang, musim topan di Pasifik Barat biasanya berlangsung dari Mei hingga Oktober, dengan rata-rata 25 siklon mencapai kekuatan badai tropis setiap tahunnya. Namun, El Niรฑo cenderung meningkatkan intensitas topan, membuatnya lebih destruktif. Hal ini sejalan dengan prediksi bahwa Dolphin, yang terbentuk di barat laut Pasifik, dapat membawa dampak lebih besar daripada topan pada umumnya.
Bagi Indonesia, meskipun tidak berada di jalur langsung topan Dolphin, dinamika cuaca ekstrem ini tetap relevan. Wilayah Indonesia bagian utara, seperti Sulawesi dan Maluku, kadang merasakan dampak tidak langsung berupa cuaca buruk dan gelombang tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perlu mewaspadai potensi peningkatan aktivitas siklon tropis di Pasifik Barat yang dapat memengaruhi pola angin dan curah hujan di Indonesia. Masyarakat pesisir, khususnya nelayan, diimbau untuk memantau informasi cuaca secara berkala.
Perbedaan terminologi antara topan dan badai juga perlu dipahami. Istilah "topan" digunakan untuk siklon tropis yang terbentuk di barat laut Pasifik, sedangkan "badai" atau hurricane berlaku untuk Atlantik dan Pasifik timur. Meski demikian, keduanya sama-sama berpotensi menimbulkan kerusakan parah. Dengan intensitas yang diperkirakan meningkat akibat El Niรฑo, pertanyaannya kini bukan hanya bagaimana China dan Jepang bertahan, tetapi seberapa siap negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menghadapi musim topan yang semakin ganas di masa depan.



