Rekonstruksi Mutilasi Depok: Pelaku Incar Korban via Aplikasi Kencan, Polisi Buka Kemungkinan Korban Lain
Baca dalam 60 detik
- Kepolisian menggelar reka ulang pembunuhan mutilasi di Depok, mengungkap 30 adegan utama yang memperlihatkan perencanaan matang tersangka.
- Tersangka tunggal, Saepuloh, aktif mencari korban melalui aplikasi kencan Hornet dengan motif menguasai harta korban, bukan sekadar pembunuhan spontan.
- Polisi masih mendalami kemungkinan adanya korban lain dan mencari potongan tubuh korban yang belum ditemukan, seraya mengimbau masyarakat melapor.

Polda Metro Jaya menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan berencana yang diikuti mutilasi di Cipayung, Depok, Selasa (11/8/2026), mengungkap bagaimana tersangka tunggal, Saepuloh (26), menjerat korban melalui aplikasi kencan daring sebelum mengeksekusi dan memutilasi tubuhnya. Reka ulang yang melibatkan 30 adegan utama ini menjadi kunci untuk mencocokkan keterangan tersangka dengan fakta di lapangan, sekaligus mempertegas jerat hukum yang menantinya.
Dalam rekonstruksi tersebut, penyidik dari Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya memeragakan secara detail alur kejahatan yang terjadi pada 23 Juli 2026. Kanit 1 Resmob, Kompol Dimitri Mahendra, menjelaskan bahwa pelaku secara proaktif mencari korban melalui aplikasi Hornet, dengan motif awal mencuri harta benda milik target. "Pelaku ini adalah orang yang pertama kali memulai mencari korban, yaitu menggunakan aplikasi Hornet. Kemudian, dia berniat untuk mengambil barang dari target," ujarnya kepada wartawan.
Komunikasi antara pelaku dan korban terjadi pada hari yang sama dengan eksekusi. Pelaku menggunakan iming-iming dan janji manis untuk membujuk korban datang ke lokasi. Menurut Dimitri, pelaku diduga mengalami disorientasi seksual dan aktif di beberapa komunitas, yang menjadi celah untuk melancarkan aksinya. "Kami duga ada disorientasi seksual dari si pelaku sendiri, di mana pelaku ini juga tergabung beberapa komunitas lainnya," tambahnya.
Rekonstruksi mengungkapkan bahwa niat awal pelaku adalah mencuri, namun ia telah menyiapkan pisau dapur sejak awal. Saat korban tiba, niat tersebut berubah menjadi pembunuhan berencana. Adegan 15 menunjukkan penusukan fatal, diikuti mutilasi pada adegan 17, dan pembuangan potongan tubuh pada adegan 22 dan 24. Dimitri menegaskan bahwa seluruh aksi dilakukan dalam kondisi sadar penuh, tanpa pengaruh zat apa pun. "Murni karena niat dia untuk menguasai barang milik korban," tegasnya.
Kasus ini sempat memunculkan spekulasi tentang keterlibatan orang lain, terutama rekan pelaku berinisial J yang sempat berada di lokasi. Namun, polisi memastikan J hanya saksi dan tidak terlibat. J justru ketakutan saat melihat darah di tempat kejadian dan segera pergi. "Kami pastikan di sini bahwa temannya ini tidak terlibat. Murni pelaku dilakukan oleh satu orang," urai Dimitri.
Penyidik juga menemukan obat-obatan yang diduga kuat sebagai obat HIV yang dibawa pelaku. Hingga kini, polisi masih mendalami berapa lama tersangka mengidap penyakit tersebut. Temuan ini menambah kompleksitas kasus, namun tidak mengubah status pelaku sebagai eksekutor tunggal.
Polisi membuka kemungkinan adanya korban lain mengingat rekam jejak pelaku yang lama aktif di aplikasi kencan. Dimitri mengimbau masyarakat yang mengetahui atau menjadi korban untuk melapor. "Masih kami lakukan pendalaman. Apabila mungkin ada masyarakat yang mengetahui, atau apabila si pelaku ini pernah melakukan di tempat lain, tolong laporkan ke kami," pungkasnya.
Kasus mutilasi ini menyoroti bahaya kejahatan yang difasilitasi aplikasi kencan, terutama bagi kelompok rentan. Pertanyaannya, apakah platform seperti Hornet akan meningkatkan verifikasi pengguna dan sistem keamanan untuk mencegah modus serupa? Atau justru aparat perlu memperketat pengawasan siber untuk mengungkap potensi predator lain yang masih berkeliaran?



