BNPB Targetkan Dua Titik Api Bromo Padam Pekan Ini, Ancaman Asap dan Kerugian Ekologis Masih Menganga
Baca dalam 60 detik
- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menargetkan dua titik api yang tersisa di kawasan Gunung Bromo dapat dipadamkan pada Jumat, 14 Agustus 2026, menyusul upaya pemadaman yang telah menjangkau 34 titik sebelumnya.
- Keterbatasan medan ekstrem, sumber air yang jauh, dan ketiadaan potensi hujan menjadi kendala utama, sehingga BNPB menyiagakan tiga armada water bombing untuk mempercepat proses pemadaman.
- Kebakaran yang telah menghanguskan 889 hektare lahan di empat kabupaten ini berpotensi memicu kerugian ekologis jangka panjang, termasuk terganggunya ekosistem savana dan dampak asap bagi kesehatan warga sekitar.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memasang target penyelesaian pemadaman dua titik api yang masih menyala di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pada Jumat, 14 Agustus 2026. Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menyatakan bahwa dari total 34 titik api yang teridentifikasi, hanya dua yang belum berhasil dipadamkan, dan upaya maksimal tengah dilakukan untuk menuntaskannya dalam pekan ini.
Target tersebut diumumkan saat Suharyanto mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, dalam peninjauan langsung ke lokasi kebakaran di Kabupaten Probolinggo, Selasa (12/8). Kehadiran pejabat tinggi ini menggarisbawahi seriusnya penanganan bencana yang telah berlangsung selama beberapa hari terakhir, sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah pusat memantau langsung dinamika di lapangan.
Untuk mempercepat pemadaman, BNPB mengerahkan tiga unit helikopter water bombing. Namun, menurut Suharyanto, dua di antaranya akan ditarik setelah situasi di Bromo terkendali untuk dialihkan ke daerah lain yang juga membutuhkan bantuan pemadaman. "Satu unit tetap disiagakan di Bromo hingga seluruh titik api benar-benar padam," ujarnya, menegaskan komitmen untuk tidak meninggalkan kawasan ini sebelum aman.
Di balik target optimistis tersebut, sejumlah kendala signifikan masih membayangi operasi pemadaman. Pertama, medan yang sangat sulit dijangkau karena titik api berada di lereng dengan kemiringan mencapai 80 derajat. Kondisi ini memaksa tim darat untuk tidak naik ke area terdampak demi keselamatan jiwa. Kedua, keterbatasan sumber air di savana TNBTS mengharuskan petugas mengambil air dari Ranu Pani, Kabupaten Lumajang, yang jaraknya cukup jauh. Ketiga, faktor cuaca menjadi penghambat utama; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan belum ada potensi awan hujan yang dapat dimanfaatkan untuk operasi modifikasi cuaca (OMC).
BMKG justru memprediksi adanya potensi hujan pada 14โ16 Agustus 2026. Jika prediksi ini terealisasi, hujan dapat menjadi faktor penentu yang mempercepat pemadaman secara alami. Namun, ketidakpastian cuaca tetap menjadi variabel yang tidak bisa dikendalikan, sehingga upaya manual dan teknologi tetap menjadi andalan utama.
Kebakaran hutan dan lahan di kawasan TNBTS ini bukan sekadar bencana lokal. Lebih dari 889 hektare savana dan hutan yang terbakar tersebar di empat kabupaten, mengancam keanekaragaman hayati khas Bromo, termasuk flora endemik dan habitat satwa liar. Bagi masyarakat sekitar, asap yang ditimbulkan dapat memicu gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), yang kerap melonjak saat karhutla melanda. Sektor pariwisata yang menjadi penopang ekonomi warga Tengger juga berpotensi terganggu, mengingat Gunung Bromo merupakan salah satu destinasi wisata unggulan nasional.
Menanggapi situasi ini, pemerintah pusat melalui Kemenko PMK dan BNPB menunjukkan respons cepat dengan menurunkan pejabat tinggi ke lapangan. Namun, bencana ini kembali mengingatkan bahwa pengelolaan kawasan konservasi seperti TNBTS harus dibarengi dengan sistem pencegahan kebakaran yang lebih kuat, termasuk deteksi dini dan kesiapan infrastruktur pemadaman. Pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah target pemadaman pekan ini akan tercapai, dan bagaimana langkah strategis jangka panjang untuk mencegah terulangnya karhutla di masa mendatang?



