Kapten Air India Positif Ganja Usai Penerbangan Nyaris Celaka: Investigasi Mengarah ke Kebijakan Narkoba Penerbangan
Baca dalam 60 detik
- Tes laboratorium mengonfirmasi pilot utama Air India rute Phuket-Delhi menggunakan ganja, menyusul insiden penurunan mendadak yang melukai 17 orang.
- Kementerian Penerbangan Sipil India memanggil CEO Campbell Wilson, menandakan pengawasan ketat terhadap maskapai yang mayoritas sahamnya dimiliki Tata Group.
- Kasus ini memicu kembali perdebatan tentang efektivitas skrining narkoba di industri penerbangan, dengan implikasi bagi maskapai yang beroperasi di kawasan Asia.

Kapten penerbangan Air India yang pekan lalu mengalami guncangan hebat di udara dinyatakan positif menggunakan ganja dalam uji laboratorium lanjutan. Hasil ini muncul di tengah penyelidikan resmi yang tengah berjalan, dan memicu pertanyaan serius tentang prosedur pengawasan pilot di maskapai pelat merah tersebut.
Insiden yang terjadi pada rute Phuket-Delhi itu menyebabkan pesawat kehilangan ketinggian sekitar 90 meter secara tiba-tiba. Tiga belas penumpang dan empat awak kabin dilaporkan mengalami luka-luka. Meski pesawat akhirnya mendarat dengan selamat di Delhi, kejadian ini langsung menjadi sorotan otoritas penerbangan India.
Kementerian Penerbangan Sipil India telah memanggil CEO Air India, Campbell Wilson, untuk memberikan klarifikasi. Langkah ini diambil setelah otoritas membuka investigasi beberapa hari sebelumnya. Pesawat jenis Airbus A320neo itu mengangkut 137 penumpang dan delapan awak, dan tengah terbang di atas wilayah Odisha ketika gangguan ketinggian terjadi.
Hasil tes pendahuluan terhadap kapten pada akhir pekan lalu menunjukkan adanya indikasi zat psikoaktif, yang kemudian memerlukan konfirmasi melalui tes laboratorium. Air India sendiri mengaku belum menerima hasil resmi tersebut. Maskapai ini mayoritas dimiliki oleh Tata Group, dengan Singapore Airlines memegang sekitar 25 persen saham.
Bagi industri penerbangan Asia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketat terhadap penggunaan zat terlarang di kalangan personel penerbangan. Meskipun Air India belum memberikan komentar resmi, pemanggilan CEO oleh kementerian mengindikasikan bahwa regulator tidak akan tinggal diam. Langkah ini sejalan dengan upaya global untuk memperketat standar keselamatan penerbangan, terutama setelah sejumlah insiden serupa di berbagai belahan dunia.
Di Indonesia, regulasi terkait narkoba bagi pilot dan awak pesawat sudah sangat ketat, dengan sanksi tegas hingga pencabutan lisensi. Namun, kasus ini menyoroti bahwa pengawasan tidak hanya bergantung pada tes rutin, tetapi juga pada budaya pelaporan dan transparansi maskapai. Apakah maskapai di kawasan ini sudah cukup proaktif dalam mendeteksi potensi penyalahgunaan zat?
Menurut analis penerbangan, insiden seperti ini dapat mempengaruhi kepercayaan publik terhadap maskapai, terutama di tengah persaingan ketat industri penerbangan Asia. Air India, yang baru saja melakukan transformasi besar-besaran di bawah kepemilikan Tata Group, kini menghadapi ujian kredibilitas. Pertanyaan besarnya adalah: apakah ini kasus terisolasi atau indikasi masalah yang lebih sistemik dalam manajemen sumber daya manusia di maskapai tersebut?
Ke depan, regulator India kemungkinan akan memperketat prosedur tes narkoba, tidak hanya untuk pilot tetapi juga untuk seluruh awak kabin. Sementara itu, publik menanti hasil investigasi lengkap yang diharapkan dapat mengungkap apakah ada kelalaian prosedur yang lebih luas. Apakah maskapai lain di kawasan ini akan mengikuti jejak dengan meningkatkan frekuensi tes mendadak?



