Sekolah Rakyat: Teddy Dorong Siswa Berani Bermimpi Besar, Target 265 Sekolah pada 2026
Baca dalam 60 detik
- Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya memotivasi siswa Sekolah Rakyat di Curug, Tangerang, untuk berani bercita-cita tinggi.
- Program ini menyasar anak putus sekolah dan tidak mampu, dengan total 165 sekolah pada 2025 dan tambahan 100 pada 2026.
- Pemerintah menekankan pendidikan karakter dan nilai Pancasila, bukan hanya akademik, sebagai bekal hidup siswa.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menanamkan pesan berani bermimpi kepada para siswa Sekolah Rakyat saat meninjau kesiapan gedung rintisan program di Kawasan Sekolah Penerbangan Curug, Kabupaten Tangerang, Sabtu. Di hadapan anak-anak yang sebagian besar berasal dari keluarga prasejahtera, ia menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar mengejar nilai, melainkan juga membentuk mentalitas untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Kunjungan kerja yang dilakukan bersama Menteri Sosial Saifullah Yusuf itu menjadi momen dialog langsung antara pemerintah dan penerima manfaat program. Teddy tidak hanya menyapa, tetapi juga menggali latar belakang dan harapan para siswa. Salah satunya Tika Pertiwi, siswi asal Jakarta Selatan yang bercita-cita menjadi psikolog, meski harus berjuang melawan keterbatasan ekonomi setelah ibunya meninggal dunia dan ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan.
Kisah serupa datang dari Rizki Saputra Gonzales, remaja asal Jakarta Utara yang sempat putus sekolah. Ia mengaku ingin membahagiakan kedua orang tuanya yang telah tiada dan bercita-cita menjadi anggota TNI. Menanggapi kondisi kesehatan Rizki yang mengalami gangguan penglihatan, Teddy memastikan akan ada penanganan medis, termasuk pemberian kacamata jika diperlukan. Respons cepat ini menunjukkan bahwa Sekolah Rakyat tidak hanya menyentuh aspek pendidikan, tetapi juga kesehatan dasar siswa.
Di luar aspek akademik, Teddy menekankan pentingnya pendidikan karakter. Ia mengingatkan siswa untuk menghormati guru dan orang tua, menyayangi teman, serta membiasakan diri mengucapkan kata "tolong" dan "terima kasih". Menurutnya, nilai-nilai etika dan sopan santun adalah bekal yang tak kalah penting dibanding ilmu pengetahuan. "Insya Allah adik-adik di sini tidak hanya diajari ilmu pengetahuan, tetapi juga diajari bagaimana hidup yang baik, beretika yang baik," ujarnya, seperti dikutip dalam keterangan resmi.
Program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto ini dirancang sebagai jawaban atas masalah anak tidak sekolah dan putus sekolah. Hingga 2025, pemerintah telah membentuk 165 sekolah, dan pada 2026 ditargetkan tambahan 100 sekolah baru. Dengan demikian, total akan mencapai 265 sekolah yang tersebar di berbagai daerah. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah memperluas akses pendidikan bagi kelompok marginal.
Bagi Indonesia, perluasan Sekolah Rakyat memiliki implikasi strategis. Selain menekan angka putus sekolah, program ini berpotensi mengurangi kesenjangan sosial dengan memberikan kesempatan kedua bagi mereka yang terpinggirkan. Namun, tantangan terbesar terletak pada konsistensi pendanaan dan kualitas pengajar di daerah terpencil. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap sekolah memiliki standar fasilitas dan tenaga pendidik yang memadai, bukan sekadar jumlah yang bertambah.
Kehadiran tokoh seperti Teddy yang langsung turun ke lapangan memberikan sinyal bahwa program ini mendapat perhatian serius dari lingkaran istana. Dialog dengan siswa seperti Tika dan Rizki menjadi bukti bahwa pemerintah berusaha mendengar kebutuhan riil di lapangan. Pertanyaannya, akankah program ini mampu bertahan dan berkembang setelah euforia awal meredup? Keberhasilan Sekolah Rakyat pada akhirnya akan diukur dari seberapa banyak anak yang berhasil menyelesaikan pendidikan dan mengubah hidup mereka.



