Ismi Ulfaida, Siswi Sekolah Rakyat Pertama yang Tembus Paskibraka, Bukti Program Prioritas Prabowo Berbuah
Baca dalam 60 detik
- Ismi Ulfaida, siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi 22 Polewali Mandar, menjadi siswa pertama dari sekolah tersebut yang lolos seleksi Paskibraka tingkat nasional untuk bertugas di Istana Merdeka pada HUT ke-81 RI.
- Keberhasilannya menembus seleksi ketat dari tingkat sekolah hingga pusat menandai terobosan baru bagi program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto, sekaligus menunjukkan potensi siswa dari daerah terpencil.
- Pencapaian ini membuka peluang lebih luas bagi siswa Sekolah Rakyat lainnya untuk berprestasi di tingkat nasional, sekaligus menjadi indikator awal keberhasilan program prioritas pemerintah dalam bidang pendidikan.

Ismi Ulfaida, siswi kelas 11 Sekolah Rakyat Terintegrasi 22 Polewali Mandar, Sulawesi Barat, mencatat sejarah sebagai siswa pertama dari sekolah tersebut yang lolos menjadi calon anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) untuk bertugas pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, 17 Agustus mendatang. Di tengah lapangan latihan di Depok, Jawa Barat, yang sengaja disulap menyerupai halaman Istana, Ismi berdiri tegap, membawa harapan baru bagi program Sekolah Rakyat yang selama ini digadang-gadang sebagai kunci pemerataan pendidikan.
Perjalanan Ismi dimulai dari seleksi di sekolahnya, di mana hanya dua siswa yang berani mendaftar, termasuk dirinya. Ia kemudian lolos seleksi kabupaten, provinsi, hingga verifikasi di tingkat pusat. Keberhasilannya ini bukan hanya kemenangan pribadi, tetapi juga sinyal kuat bahwa program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto mampu melahirkan generasi berdaya saing. Ismi mengaku tak menyangka bisa melampaui target awalnya yang hanya sebatas tingkat provinsi.
Sejak duduk di bangku SMP, Ismi telah memendam mimpi menjadi bagian dari Paskibraka. Ia mempersiapkan diri dengan mengikuti bimbingan belajar, latihan baris-berbaris, dan mengasah minat bakat. Dedikasi itu kini membawanya ke Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di Depok, tempat ia menjalani latihan intensif bersama 75 anggota Paskibraka lainnya dari seluruh Indonesia. Rutinitas harian dimulai pukul 04.00 WIB dengan salat Subuh dan olahraga, diikuti latihan utama dari pukul 07.00 hingga 17.00 WIB.
Kehidupan di pusat latihan menjadi tantangan tersendiri bagi Ismi. Ia harus beradaptasi dengan disiplin ketat dan ritme yang jauh lebih cepat dibandingkan kebiasaannya di rumah. "Kalau kangen orang rumah, cuma nangis di kamar, tenangin diri," ujarnya, menggambarkan betapa beratnya berpisah dari keluarga untuk mengejar mimpi. Namun, semangat nasionalisme dan tekad untuk mengharumkan nama sekolah serta daerahnya menjadi bahan bakar yang membuatnya bertahan.
Keberhasilan Ismi tidak lepas dari dukungan program Sekolah Rakyat yang dirancang untuk memberikan akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Sekolah Rakyat Terintegrasi 22 Polewali Mandar adalah salah satu dari puluhan sekolah yang tersebar di Indonesia. Dengan adanya perwakilan seperti Ismi di ajang nasional, program ini menunjukkan dampak nyata yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama di daerah terpencil.
Bagi Indonesia, kisah Ismi menjadi cermin bahwa investasi di bidang pendidikan, terutama melalui program prioritas seperti Sekolah Rakyat, dapat menghasilkan sumber daya manusia yang unggul. Ini juga menjadi momentum bagi pemerintah untuk terus memperluas jangkauan program tersebut, memastikan tidak ada lagi anak Indonesia yang tertinggal hanya karena latar belakang ekonomi. Pertanyaannya, akankah kisah sukses seperti Ismi menjadi awal dari gelombang prestasi lain dari Sekolah Rakyat di masa mendatang?



