Prabowo Turun Tangan: Instruksi Percepatan Pemadaman Karhutla Bromo, Luas Terdampak Capai 899 Hektare
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto memerintahkan percepatan penanganan kebakaran di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dengan dukungan penuh pemerintah pusat.
- Luas area yang terbakar mencapai 899,35 hektare, dan operasi pemadaman darat serta udara masih terus dilakukan oleh tim gabungan.
- Pemerintah menyiapkan opsi operasi modifikasi cuaca, namun pelaksanaannya sangat bergantung pada kondisi atmosfer yang mendukung.

Presiden Prabowo Subianto secara langsung menginstruksikan percepatan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, yang hingga Selasa telah melalap area seluas 899,35 hektare. Instruksi tersebut disampaikan melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, sebagai respons atas meluasnya karhutla yang mengancam ekosistem dan aktivitas wisata di kawasan tersebut.
Prasetyo menegaskan bahwa pemerintah pusat memberikan dukungan penuh terhadap upaya pemadaman yang dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Manggala Agni Kementerian Kehutanan, pemerintah provinsi, dan Balai Taman Nasional. "Pemerintah pusat mendukung penuh, apapun yang dibutuhkan oleh pemerintah daerah, oleh BNPB, oleh teman-teman Manggala Agni, kita dukung penuh," ujarnya, menegaskan komitmen penuh dari pusat.
Kebakaran yang terjadi di tengah musim kemarau yang diperparah oleh fenomena El Niรฑo ini memicu kekhawatiran akan terulangnya insiden serupa pada 2023 lalu. Saat itu, kebakaran di Bukit Teletubbies dipicu oleh penggunaan suar dalam sesi foto prewedding, yang menyebabkan kerusakan lahan yang luas dan penutupan sementara kawasan wisata. Prasetyo mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, mengingat kondisi cuaca yang sangat kering.
Pemerintah, lanjut Prasetyo, telah menyiapkan berbagai opsi penanganan, termasuk operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk memicu hujan buatan. Namun, ia menggarisbawahi bahwa pelaksanaan OMC tidak dapat dilakukan setiap saat karena sangat bergantung pada kondisi atmosfer. "Desainnya semua kita persiapkan, tetapi secara teknis, tidak selalu bisa didapati kondisi yang memungkinkan untuk operasi modifikasi cuaca itu menghasilkan hujan," jelasnya, merujuk pada penjelasan Kepala BMKG.
Bagi Indonesia, kebakaran di kawasan konservasi seperti Bromo bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Penutupan sementara kawasan wisata Bromo, yang menjadi salah satu destinasi utama Jawa Timur, berpotensi merugikan pendapatan daerah dan masyarakat sekitar yang menggantungkan hidup pada sektor pariwisata. Anggota DPR RI, Puan Maharani, sebelumnya telah meminta agar dampak ekonomi dari penutupan ini segera dihitung sebagai bahan evaluasi kebijakan.
Langkah cepat pemerintah pusat dalam merespons kebakaran ini menunjukkan keseriusan dalam melindungi kawasan konservasi dan mengantisipasi meluasnya dampak. Namun, efektivitas penanganan jangka panjang tetap bergantung pada kesadaran masyarakat dan penguatan sistem pencegahan. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: akankah pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan mampu belajar dari kejadian berulang ini untuk membangun ketahanan yang lebih baik di masa depan?



