Krisis Gas Bangladesh Mengguncang Industri Tekstil: Pelajaran bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran terminal LNG di Bangladesh memangkas pasokan gas hingga setengah dari kebutuhan, memaksa pabrik tekstil beroperasi di bawah kapasitas.
- Industri tekstil Bangladesh, yang menyumbang 80% ekspor negara, kini mencari alternatif energi seperti biomassa dan elektrifikasi di tengah ketidakpastian pasokan.
- Krisis ini menjadi peringatan bagi negara berkembang lain, termasuk Indonesia, untuk mempercepat diversifikasi energi dan investasi infrastruktur.

Kebakaran di salah satu terminal impor gas alam cair (LNG) milik Bangladesh bulan lalu telah memicu kekhawatiran baru di sektor tekstil negara itu, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi. Peristiwa tersebut memperparah situasi yang sudah genting akibat melonjaknya biaya energi sejak konflik di Timur Tengah. Para pengusaha tekstil kini dipaksa mencari sumber energi alternatif di tengah ketidakpastian pasokan gas yang semakin nyata.
Industri tekstil Bangladesh mempekerjakan sekitar 4 juta orang dari total 14 juta tenaga kerja industri, dan menyumbang hampir 80% dari total ekspor negara serta sekitar 13% dari produk domestik bruto (PDB). Namun, sektor ini sangat bergantung pada gas untuk proses basah seperti pencucian, pewarnaan, dan finishing pakaian. Ketergantungan yang tinggi ini membuat setiap gangguan pasokan gas berdampak langsung pada produktivitas dan daya saing industri.
Krisis gas Bangladesh bukanlah hal baru. Produksi gas domestik yang terus menurun dan biaya impor yang meningkat telah menyebabkan defisit pasokan yang berkepanjangan. Namun, situasi memburuk setelah Qatar, salah satu eksportir LNG terbesar dunia, mengumumkan akan memangkas pasokan ke Bangladesh sebagai dampak dari blokade Selat Hormuz oleh Iran dan serangan terhadap fasilitas ekspor LNG Qatar. Ditambah lagi, kebakaran di terminal LNG pada bulan lalu telah memangkas pasokan hingga hanya setengah dari permintaan, menurut data dari perusahaan minyak dan gas milik negara, Petrobangla.
Akibatnya, banyak pabrik di kawasan industri Savar, Ashulia, dan Narayanganj terpaksa beroperasi di bawah kapasitas, bahkan hingga 40% lebih rendah. Beberapa pabrik bahkan beralih ke gas alam terkompresi (CNG) yang biasanya digunakan untuk kendaraan bermotor, atau menggunakan diesel yang jauh lebih mahal untuk memenuhi pesanan mendesak. Langkah-langkah darurat ini tentu meningkatkan biaya produksi dan menggerus margin keuntungan.
"Negara ini tidak bisa membangun investasi industri masa depan di atas pasokan LNG yang tidak pasti dan gangguan pasokan yang berulang. Kita butuh keamanan energi, bukan pemadam kebakaran yang parsial," ujar Fazlul Hoque, direktur utama Plummy Fashions, salah satu produsen tekstil terkemuka di Bangladesh. Pabriknya di Narayanganj yang mempekerjakan lebih dari 1.000 orang telah bertahun-tahun menghadapi gangguan pasokan energi. Hoque kini tengah mempertimbangkan untuk beralih ke elektrifikasi dan bahan bakar alternatif seperti biomassa.
Biomassa, yang selama ini digunakan oleh hampir semua rumah tangga pedesaan di Bangladesh untuk memasak, mulai dilirik sebagai solusi. Beberapa pabrik tekstil telah mulai membakar biomassa untuk bahan bakar boiler mereka. Namun, Dr. Laxmikant Jawale, pimpinan regional untuk Asia Selatan dan Asia Tenggara di Apparel Impact Institute, sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada dekarbonisasi rantai pasok pakaian, mengingatkan bahwa sektor tekstil memiliki kebutuhan bahan bakar yang sangat besar dibandingkan dengan basis biomassa negara. "Biomassa tidak bisa menjadi strategi di seluruh sektor, melainkan lebih cocok sebagai opsi per kasus per pabrik," katanya. Infrastruktur logistik dan agregasi biomassa dalam skala industri juga masih belum berkembang, dan peralihan ke biomassa memerlukan investasi untuk retrofit boiler serta perubahan cara penanganan, penyimpanan, dan pembakaran bahan bakar.
Alternatif lain yang ditawarkan adalah pemasangan boiler listrik dan pompa panas yang dapat mengurangi penggunaan energi hingga 45%. Namun, laporan Apparel Impact Institute tahun lalu menyebutkan bahwa pemasangan pompa panas membutuhkan investasi modal besar, dan boiler listrik yang terhubung ke jaringan listrik tidak akan mampu menutupi defisit energi jika pasokan listrik tidak konsisten. "Meningkatkan akses dan keandalan jaringan listrik bagi pabrik-pabrik di seluruh negeri akan mengirim sinyal pasar yang jelas bahwa listrik dari jaringan - dan sebaiknya listrik terbarukan - adalah yang dibutuhkan industri," tegas Jawale.
Di tengah krisis ini, sebagian pengusaha mulai berinvestasi pada energi terbarukan. Mohd. Khorshed Alam, direktur BTMA yang juga menjabat direktur utama Little Group, perusahaan pemintalan benang, telah memasang panel surya atap dan baterai untuk menyimpan listrik di pabriknya, serta menggunakan motor hemat energi. Ia mendesak pemerintah untuk menghapus bea masuk teknologi hemat energi, memberikan dukungan bagi industri tekstil untuk mengadopsi energi terbarukan, dan secara agresif mengeksplorasi ladang gas domestik untuk meningkatkan pasokan lokal.
Krisis energi yang melanda Bangladesh ini memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia, yang juga memiliki industri tekstil besar dan ketergantungan pada energi fosil. Diversifikasi sumber energi, peningkatan investasi infrastruktur energi terbarukan, dan perbaikan tata kelola energi menjadi kunci untuk menghindari krisis serupa. Apakah Indonesia akan belajar dari pengalaman Bangladesh, atau justru mengulangi kesalahan yang sama? Hanya waktu yang bisa menjawab.



