BPIP Perluas Pendidikan Paskibraka: Bukan Sekadar Baris-Berbaris, Melainkan Kader Pemimpin Bangsa
Baca dalam 60 detik
- BPIP menegaskan pendidikan Paskibraka HUT ke-81 RI tidak hanya berfokus pada keterampilan baris-berbaris, melainkan juga pembentukan karakter melalui pembelajaran aktif dan pelatihan bertahap.
- Pembinaan Paskibraka kini mencakup materi sejarah, Pancasila, dan wawasan kebangsaan, dengan dukungan Paspampres untuk meningkatkan semangat peserta.
- Ke depan, anggota Paskibraka akan terus dibina melalui program berkelanjutan sesuai Perpres 51/2022, termasuk keterlibatan dalam kegiatan sosial dan isu kebangsaan.

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menegaskan bahwa pendidikan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) untuk HUT ke-81 RI tidak lagi sekadar menekankan kemampuan baris-berbaris, melainkan lebih jauh membentuk karakter calon pemimpin bangsa. Wakil Kepala BPIP Rima Agristina mengungkapkan bahwa penguatan Paskibraka setiap tahunnya dilakukan melalui dua pendekatan utama: pembelajaran aktif dan pelatihan. Hal ini disampaikannya saat meninjau latihan gabungan di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Depok, Jawa Barat, Sabtu (8/8).
Rima menjelaskan bahwa sebelum memasuki tahap pelatihan, para calon Paskibraka terlebih dahulu mengikuti pembelajaran aktif berbasis pengalaman. Materi yang diberikan meliputi sejarah bangsa, keindonesiaan, Pancasila, wawasan kebangsaan, bela negara, ketahanan nasional, hingga kewaspadaan nasional. Setelah pembelajaran, peserta menjalani proses mancakrida sebagai refleksi sebelum melanjutkan ke pelatihan fisik. "Setiap hari semakin tangguh tentu saja adik-adik karena memang proses yang kami lakukan itu secara bertahap," ujarnya, menekankan pentingnya peningkatan porsi latihan secara progresif.
Deputi Pengkajian dan Materi BPIP Surahno menambahkan bahwa pembentukan karakter melalui nilai-nilai Pancasila menjadi fondasi utama dalam mempersiapkan calon Paskibraka. Sejak awal, peserta tidak hanya dibekali kemampuan kepaskibrakaan, tetapi juga pemahaman mendalam tentang ideologi bangsa. "Nilai Pancasila ini memang mempersiapkan mereka untuk menjadi calon kader, calon pemimpin bangsa," katanya. Surahno juga menggarisbawahi bahwa pembinaan tidak berhenti setelah upacara 17 Agustus. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2022, terdapat program pembinaan berkelanjutan yang melibatkan anggota Paskibraka dalam kegiatan sosial dan isu kebangsaan.
Kepala BPIP Yudian Wahyudi mengingatkan para pelajar yang bercita-cita menjadi Paskibraka untuk mempersiapkan diri sejak dini. Ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan, membangun kedisiplinan, bekerja keras, dan mempelajari Pancasila. Yudian juga mendorong pelajar untuk mempelajari buku teks utama Pendidikan Pancasila guna membangun pemahaman yang kuat tentang ideologi bangsa. "Bangun pemahaman tentang ideologi bangsa kita. Kemudian perlu latihan kesamaptaan, seperti push-up dan latihan lainnya, sehingga pada saat mengikuti tes tahun depan sudah siap," pesannya.
Kehadiran personel Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) dalam latihan gabungan dinilai turut meningkatkan semangat calon Paskibraka. Latihan tersebut juga melibatkan satuan musik dan seluruh peserta upacara, menciptakan suasana yang lebih hidup dan profesional. Pendidikan Paskibraka dirancang untuk menghasilkan peserta yang tidak hanya mahir secara teknis dalam upacara, tetapi juga memiliki kedisiplinan, pemahaman kebangsaan, serta kemampuan mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi masyarakat Indonesia, pendidikan Paskibraka memiliki relevansi yang lebih luas. Di tengah derasnya arus globalisasi dan ancaman degradasi moral generasi muda, program ini menjadi salah satu benteng untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Para orang tua dan pendidik dapat melihat Paskibraka sebagai model pendidikan karakter yang mengintegrasikan aspek fisik, mental, dan ideologis. Pertanyaan yang kemudian mengemuka: akankah model pendidikan seperti ini dapat diadopsi lebih luas di sekolah-sekolah untuk membentuk generasi yang tangguh dan berkarakter?



