Menguak Jaringan Scam Global: Asisten Chen Zhi yang Mengendalikan Aliran Dana di Singapura
Baca dalam 60 detik
- Investigasi gabungan mengungkap identitas Chen Sokly, otak di balik pengendalian risiko sindikat penipuan internasional yang berbasis di Kamboja.
- Sokly, yang juga dikenal sebagai Martin Chen, mengelola aset senilai jutaan dolar di Singapura dan California, serta terlibat dalam pencucian uang melalui perusahaan cangkang.
- Kasus ini menyoroti kerentanan sistem keuangan Asia Tenggara terhadap sindikat kejahatan transnasional, dengan implikasi bagi pengawasan di Indonesia.

Investigasi gabungan yang dilakukan The Straits Times bersama Organised Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP) berhasil membongkar identitas tersembunyi di balik sindikat penipuan internasional yang dikendalikan Chen Zhi. Sosok yang selama ini hanya dikenal sebagai 'Co-conspirator 2' dalam dakwaan pengadilan New York pada Oktober 2025 itu adalah Chen Sokly, pria kelahiran Shanghai 1986 yang kini memiliki kewarganegaraan Kamboja dan Siprus. Pengungkapan ini membuka tabir jaringan pencucian uang senilai miliaran dolar yang berpusat di Kamboja dan menjangkau Singapura, Amerika Serikat, hingga Eropa.
Chen Sokly, yang di kalangan bisnis Singapura lebih dikenal sebagai Martin Chen, bukan sekadar kaki tangan biasa. Dalam struktur sindikat Prince Holding Group milik Chen Zhi, ia memegang peran krusial sebagai kepala fungsi pengendalian risiko. Tugasnya meliputi memantau penyelidikan aparat penegak hukum, melakukan negosiasi korup dengan pejabat asing, hingga memastikan kepentingan kelompok tetap aman dari gangguan. Dakwaan jaksa menyebutkan Sokly bahkan sempat berkomunikasi dengan pejabat China pada Mei 2023 yang berjanji akan membantu anggota Prince Group terhindar dari masalah hukum, dengan imbalan perhatian khusus untuk anak pejabat tersebut.
Jejak Sokly di Singapura mulai terlihat pada 2017 ketika ia membeli apartemen mewah di Leedon Heights senilai S$11 juta. Tak lama kemudian, ia mendirikan M Capital Global Holdings dengan investasi lebih dari S$5 juta bersama istrinya. Selama dua tahun berikutnya, namanya tercatat sebagai direktur di sedikitnya 16 perusahaan Singapura, meski sebagian besar telah dicabut antara 2020 dan 2023. Mantan karyawan yang enggan disebut namanya menggambarkan Sokly sebagai sosok yang gemar menghabiskan waktu di Singapura selama dua hingga tiga bulan per tahun, sering kali ditemani Chen Zhi, dan memiliki koleksi mobil mewah termasuk Bentley.
Investigasi juga mengungkap keterkaitan Sokly dengan Huione Group, perusahaan jasa keuangan yang dituduh menjadi pusat pencucian uang bagi organisasi kriminal transnasional. Melalui perusahaannya di Kamboja, LM Car, Sokly menjalin usaha patungan dengan Huione Technology pada 2022. Huione sendiri dituduh mencuci sedikitnya US$4 miliar dana ilegal antara Agustus 2021 dan Januari 2025. FinCEN, badan intelijen keuangan AS, menyebut Huione sebagai 'one-stop shop' bagi para penjahat untuk mencuci aset kripto hasil kejahatan, termasuk skema penipuan investasi yang dikenal sebagai 'pig-butchering'.
Jaringan Sokly tidak berhenti di Singapura. Catatan properti California menunjukkan ia membeli rumah dari Fang Zhizhen, anggota kelompok cybercriminal Knight Attack Group, pada 2019, kemudian menjualnya seharga US$4,5 juta pada 2024. Yang lebih mencurigakan, ia mentransfer kepemilikan properti senilai US$4 juta kepada istrinya pada November 2025, hanya beberapa minggu setelah sanksi dijatuhkan ke Prince Group. Properti tersebut kemudian ditempatkan dalam perwalian yang dikelola istrinya. Pola ini menunjukkan upaya sistematis untuk menyembunyikan aset dari jangkauan hukum.
Keterlibatan Sokly dengan tokoh-tokoh kunci lain juga terungkap. Bersama Dai An dan Xiong Huajun, ia tercatat sebagai pemilik manfaat dari Oceanic Opportunity Fund PCC yang berbasis di Mauritius, yang memberikan pinjaman jutaan dolar ke Prince Bank dan berinvestasi di Skyline Investment Management milik Chen Zhi. Ketiganya juga terlibat dalam Meritwise Group Public, bersama warga Singapura Karen Chen Xiuling dan Cliff Teo Kang Yeow, yang kini menghadapi masalah hukum di Singapura dan Taiwan. Catatan penerbangan menunjukkan mereka bertiga pernah terbang ke Palau menggunakan jet pribadi Hu Xiaowei, orang kedua di Prince Group yang juga telah dijatuhi sanksi.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketat terhadap aliran dana asing dan kerja sama internasional dalam memberantas kejahatan keuangan. Indonesia, sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi digital tercepat di Asia Tenggara, rentan menjadi sasaran sindikat penipuan daring yang memanfaatkan celah regulasi. Otoritas Indonesia perlu memperkuat koordinasi dengan lembaga seperti FinCEN dan OCCRP untuk mendeteksi pola serupa, terutama yang melibatkan aset kripto dan perusahaan cangkang di yurisdiksi dengan pengawasan longgar.
Pengungkapan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas sanksi internasional dan penegakan hukum dalam membongkar jaringan kejahatan yang telah mengakar. Dengan Chen Zhi yang telah diekstradisi ke China dan Li Xiong yang ditangkap, apakah kasus ini akan menjadi preseden bagi penindakan lebih lanjut terhadap sindikat serupa di kawasan? Atau justru akan memicu pergeseran modus operandi ke negara-negara dengan sistem hukum yang lebih lemah? Yang jelas, kolaborasi lintas negara seperti yang dilakukan ST dan OCCRP menjadi kunci untuk mengungkap kejahatan yang selama ini tersembunyi di balik lapisan perusahaan cangkang dan identitas ganda.



