Gubernur BI Baru di Ujian: Jaga Otonomi atau Kejar Target Pertumbuhan 8%?
Baca dalam 60 detik
- Destry Damayanti, calon tunggal gubernur Bank Indonesia, langsung menjalin koordinasi erat dengan Menteri Keuangan, sinyal perubahan gaya kepemimpinan dari era Perry Warjiyo.
- Pasar merespons positif pencalonan Destry, ditandai penguatan rupiah, namun tekanan eksternal dan kebijakan populis pemerintah masih membayangi stabilitas moneter.
- Tantangan utama Destry adalah menjaga kredibilitas bank sentral di mata investor sambil mendukung target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan Prabowo.

JAKARTA, LyndHub.com โ Dalam dua pekan terakhir, nama Destry Damayanti mencuri perhatian pasar keuangan. Hari pertama menjabat sebagai pelaksana tugas Gubernur Bank Indonesia, ia langsung menemui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelum bertemu Presiden Prabowo Subianto. Langkah ini dibaca sebagai sinyal kuat bahwa koordinasi kebijakan moneter-fiskal akan berjalan lebih intensif dibanding era pendahulunya.
Keakraban yang ditunjukkan Destry dan Purbaya dalam konferensi pers beberapa hari kemudian kontras dengan hubungan formal Perry Warjiyo, gubernur sebelumnya, yang cenderung menjaga jarak. Sepanjang kepemimpinan Warjiyo, pertemuan satu lawan satu dengan menteri keuangan hanya tercatat sekali, itupun di kantor bank sentral pada September 2025. Perbedaan gaya ini menjadi sorotan karena mencerminkan perubahan pendekatan dalam mengelola ekonomi di tengah tekanan global.
Presiden Prabowo resmi mengajukan Destry, yang menjabat deputi gubernur sejak 2019, sebagai calon tunggal gubernur BI. Keputusan ini dinilai sebagai upaya mencari figur yang mampu menyeimbangkan kepentingan pasar dengan agenda pertumbuhan ekonomi yang agresif. Namun, para ekonom mengingatkan bahwa tantangan terbesar Destry adalah membuktikan kepada investor bahwa ia dapat memenuhi target presiden tanpa mengorbankan independensi bank sentral.
Reaksi pasar awal cukup positif. Rupiah menguat ke level tertinggi dalam sebulan dan mengungguli mayoritas mata uang Asia setelah pengumuman pencalonan Destry. Meski demikian, penguatan ini rapuh. Sepanjang tahun berjalan, rupiah masih terdepresiasi sekitar 6% terhadap dolar AS, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan. Investor juga masih waspada terhadap kebijakan populis Prabowo, seperti program makan siang gratis dan peningkatan kontrol negara atas komoditas, yang memicu kekhawatiran fiskal.
Lembaga pemeringkat Fitch dan Moody's telah menempatkan peringkat utang Indonesia pada status negatif watch, sementara S&P masih mempertahankan outlook stabil. Kondisi ini menambah beban bagi Destry yang harus menjaga kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global. Di bawah Warjiyo, BI telah menaikkan suku bunga tiga kali sejak Mei dan melakukan intervensi pasar valuta asing untuk menopang rupiah, sambil mengandalkan instrumen non-suku bunga untuk mendorong kredit dan pertumbuhan.
Ekonom menilai koordinasi yang lebih erat antara BI dan pemerintah dapat menghasilkan kebijakan yang lebih akomodatif. Helmi Arman, ekonom Citigroup, dalam catatannya menulis bahwa komunikasi BI dengan pemerintah diperkirakan membaik, namun ia mengingatkan bahwa lingkungan kredibilitas institusional tetap dinamis. Senada, Irman Faiz, ekonom utama Bank Danamon, menegaskan bahwa koordinasi diperlukan, tetapi keputusan moneter harus tetap berdasarkan penilaian inflasi, nilai tukar, dan stabilitas keuangan. "Koordinasi itu perlu, tetapi subordinasi kebijakan tidak," tegasnya.
Destry bukan wajah baru di kalangan ekonom dan investor. Ia memegang gelar master dari Cornell University dan pernah menjabat ekonom utama Bank Mandiri serta komisaris di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), lembaga yang sebelumnya dipimpin oleh Purbaya. Rekam jejaknya yang dekat dengan pasar diharapkan mampu meredam kekhawatiran investor. Namun, tekanan eksternal seperti kenaikan suku bunga global dan penguatan dolar AS tetap menjadi momok, meskipun inflasi domestik relatif terkendali.
Fakhrul Fulvian, ekonom utama Trimegah Sekuritas, berpendapat bahwa bank sentral tidak boleh berpuas diri dengan stabilitas yang sudah dicapai. Menurutnya, BI perlu menerjemahkan stabilitas tersebut menjadi kondisi likuiditas yang lebih sehat, kurva imbal hasil yang normal, transmisi kebijakan moneter yang lebih kuat, dan pemulihan kepercayaan sektor swasta. Ini adalah pekerjaan rumah besar yang menanti Destry, terutama jika parlemen menyetujui pencalonannya.
Pertanyaan besarnya kini: akankah Destry mampu menjaga keseimbangan antara tuntutan pertumbuhan dari istana dan kebutuhan stabilitas pasar? Atau justru koordinasi yang erat dengan pemerintah akan mengaburkan independensi bank sentral yang selama ini dijaga mati-matian? Jawabannya akan menentukan arah ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan, dan semua mata tertuju pada langkah pertama Destry setelah resmi dilantik.



