Mendag Ajak BRICS Perkuat Kolaborasi di Tengah Fragmentasi Ekonomi Global: Indonesia Pilih Jalan Keterbukaan
Baca dalam 60 detik
- Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong anggota BRICS untuk memperkuat kerja sama menghadapi erosi sistem perdagangan berbasis aturan.
- Indonesia memposisikan diri sebagai mitra yang terbuka dan solid, memanfaatkan pasar domestik, demografi muda, dan sumber daya alam.
- Langkah ini menegaskan komitmen Indonesia pada multilateralisme sambil tetap menjalin kemitraan praktis di tengah persaingan geopolitik.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyerukan penguatan kolaborasi antarnegara BRICS dalam menghadapi tergerusnya sistem perdagangan berbasis aturan dan meningkatnya fragmentasi ekonomi dunia. Seruan itu disampaikan dalam Pertemuan Tingkat Menteri BRICS (BRICS Trade Ministers' Meeting) di Jaipur, India, pada Jumat (7/8).
Budi menilai kebutuhan kerja sama semakin mendesak ketika banyak negara mulai menggunakan integrasi ekonomi, tarif, infrastruktur finansial, dan rantai pasok sebagai alat tekanan politik. Dalam dua dekade terakhir, krisis finansial, kesehatan, energi, dan geopolitik telah memperlihatkan kerentanan integrasi global yang selama ini dianggap stabil.
"Pertanyaannya adalah apakah kita akan beradaptasi dengan membangun tembok yang lebih tinggi, atau justru menemukan cara baru untuk berkolaborasi," ujar Budi dalam keterangan resmi yang dirilis di Jakarta, Sabtu. Ia menambahkan bahwa Indonesia menantikan kolaborasi dengan seluruh mitranya dengan mengedepankan keterbukaan, rasa percaya diri, dan komitmen yang solid.
Di tengah tekanan tersebut, banyak negara mengembangkan perlindungan strategis untuk mengamankan energi, pangan, mineral kritis, dan rantai pasok. Menurut Budi, respons ini alamiah untuk perlindungan diri, namun setiap negara perlu mewaspadai risiko perpecahan global yang semakin nyata. "Dunia bisa menjadi semakin terpecah, rapuh, dan sulit menghadapi tantangan bersama," katanya.
Indonesia sendiri tetap optimistis di tengah ketidakpastian. Budi menyebut pasar domestik yang terus tumbuh, tenaga kerja muda yang produktif, dan sumber daya alam melimpah sebagai modal utama. Pemerintah juga berkomitmen pada hilirisasi, ketahanan pangan, dan perluasan akses pasar. Sejumlah perjanjian perdagangan bebas dengan mitra strategis telah diselesaikan untuk memperluas perdagangan Indonesia dengan dunia.
Bagi Indonesia, langkah ini berarti memadukan kerja sama multilateral yang kuat dengan kemitraan praktis di bidang perdagangan. "Bersama-sama, kami dapat membangun jaringan perdagangan, investasi, dan ekonomi yang tangguh sehingga mampu menghadapi tantangan dan menyambut peluang di masa depan," kata Budi.
Di tengah rivalitas AS-China dan tekanan terhadap WTO, Indonesia berupaya menjaga keseimbangan. Dengan mengusung keterbukaan, Jakarta berharap dapat menarik investasi dan memperluas akses pasar tanpa terjebak dalam polarisasi blok ekonomi. Pertanyaannya, apakah BRICS mampu menjadi platform efektif untuk melawan fragmentasi, atau justru menjadi bagian dari polarisasi itu sendiri?



