Harga Minyak Menguat di Tengah Kebuntuan AS-Iran, Asia Terombang-ambing
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI menembus level tertinggi sejak akhir Juli setelah negosiasi AS-Iran buntu, memicu kekhawatiran pasokan global.
- Kenaikan harga minyak menambah tekanan pada data inflasi AS yang akan rilis, mempengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed.
- Ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi membuat investor Asia waspada, dengan yen Jepang kembali melemah.

Harga minyak mentah dunia kembali melonjak pada perdagangan Selasa (11/8) setelah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran mengenai kesepakatan damai serta pembukaan kembali Selat Hormuz menemui jalan buntu. Brent tercatat naik ke level US$88 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menyentuh US$82,45—keduanya merupakan level tertinggi sejak 31 Juli. Eskalasi retorika antara kedua negara membuat pasar energi semakin tegang, sekaligus mengguncang sentimen investor di kawasan Asia yang masih diliputi ketidakpastian inflasi global.
Ketegangan ini bermula ketika Presiden AS Donald Trump merespons syarat-syarat yang diajukan Iran dengan tuntutan balik agar Teheran membayar kompensasi atas korban jiwa dalam perang, serangan, dan protes. Langkah tersebut dinilai analis sebagai eskalasi yang justru mempersulit upaya membuka kembali jalur pelayaran strategis yang mengangkut sekitar seperlima konsumsi minyak dunia. "Kita sekarang berada dalam situasi saling menunggu siapa yang lebih dulu mengalah," ujar Tony Sycamore, analis pasar dari IG, menggambarkan kebuntuan yang terjadi.
Kenaikan harga minyak ini menjadi pukulan tambahan bagi perekonomian global yang tengah berjuang melawan inflasi. Data indeks harga konsumen (CPI) AS untuk Juli yang akan dirilis Rabu (12/8) menjadi sorotan utama pelaku pasar. Konsensus memperkirakan inflasi headline naik 0,1 persen secara bulanan, sementara inflasi inti diproyeksikan naik 0,2 persen. Jika angka yang keluar lebih tinggi dari perkiraan, spekulasi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan depan bisa kembali menguat—saat ini peluangnya masih 50:50.
"Kami menilai risiko bergeser ke arah data yang lebih panas, yang berpotensi mendorong rebound ekspektasi suku bunga dan memicu kekhawatiran baru tentang stagflasi," kata Jonas Goltermann, kepala ekonom pasar di Capital Economics. Ia menambahkan bahwa ekonomi AS sebenarnya berjalan lebih panas dari kondisi ideal, yang mengindikasikan suku bunga masih perlu dinaikkan. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) bergerak naik tipis di pasar futures, meskipun perdagangan tunai tutup karena libur di Jepang.
- Brent naik ke US$88 per barel, tertinggi sejak 31 Juli.
- WTI menyentuh US$82,45, juga level tertinggi sejak akhir Juli.
- Kontrak minyak melonjak sekitar 5% pada Senin (10/8).
- Inflasi AS Juli diprediksi naik 0,1% (headline) dan 0,2% (core).
Di kawasan Asia, indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang bergerak fluktuatif dan terakhir menguat tipis 0,2 persen. Indeks KOSPI Korea Selatan naik 0,3 persen, namun sentimen pasar tetap rapuh akibat meningkatnya permusuhan di Teluk. Sementara itu, futures Nasdaq dan S&P 500 menguat masing-masing 0,28 persen dan 0,1 persen setelah Wall Street ditutup melemah pada sesi sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kombinasi harga energi yang tinggi dan perlambatan ekonomi global.
Di tengah gejolak pasar energi, Nvidia mengumumkan kemitraan dengan enam lembaga keuangan besar untuk meluncurkan platform pembiayaan komputasi yang menargetkan penggalangan dana lebih dari US$500 miliar untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Langkah ini menyoroti besarnya gelombang investasi di sektor AI, namun juga memicu skeptisisme. "Sebagian dari saya bertanya-tanya apakah ini yang dirasakan ketika subprime mortgage pertama kali menjadi produk mainstream—inovasi yang akhirnya memicu krisis keuangan global," kata Sycamore, merujuk pada potensi risiko gelembung aset.
Di pasar valuta asing, yen Jepang kembali menjadi sorotan setelah melemah ke kisaran 159 per dolar AS, jauh dari level tertinggi pekan lalu di 155,20. Pelemahan ini terjadi meskipun ada dugaan intervensi bersama oleh Jepang dan AS. Analis Nomura memperkirakan pasar akan tetap waspada terhadap intervensi lebih lanjut, sehingga peluang USD/JPY menembus 160 dalam waktu dekat tampaknya kecil. Namun, aksi beli saat harga turun cukup deras, menunjukkan masih banyak pelaku pasar yang memanfaatkan pelemahan yen.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak ini membawa implikasi ganda. Di satu sisi, pemerintah harus mengantisipasi beban subsidi energi yang semakin berat, sementara di sisi lain, harga komoditas ekspor seperti batu bara dan kelapa sawit bisa ikut terdorong. Namun, tekanan inflasi global yang berlanjut dapat memaksa bank sentral di kawasan, termasuk Bank Indonesia, untuk mempertahankan sikap hawkish guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Ke depan, pasar akan mencermati data inflasi AS serta keputusan kebijakan bank sentral Australia (RBA) yang diumumkan hari ini. Jika ketegangan AS-Iran terus berlanjut, analis memperkirakan harga minyak akan bertahan dalam rentang US$75–95 per barel. Pertanyaannya, apakah negara-negara konsumen seperti Indonesia siap menghadapi gejolak harga energi yang berkepanjangan, atau justru akan ada intervensi diplomatik yang meredakan ketegangan?



