PSS Sleman Nol Poin dari Tiga Laga, Fachruddin Aryanto Serukan Pembenahan di Jeda Kompetisi
Baca dalam 60 detik
- PSS Sleman menelan tiga kekalahan beruntun di awal BRI Super League 2026/2027 dan terbenam di peringkat ke-15.
- Fachruddin Aryanto menilai evaluasi menyeluruh selama jeda FIFA Matchday menjadi kunci untuk menghentikan tren negatif.
- Manajemen hanya memberi libur dua hari sebelum kembali berlatih, dengan laga kontra PSM Makassar pada 11 Oktober sebagai ujian berikutnya.

PSS Sleman menutup pekan ketiga BRI Super League 2026/2027 tanpa satu pun poin, memperpanjang awal musim yang buruk setelah takluk 1-2 dari Dewa United di Banten International Stadium, Minggu (20/9/2026). Kekalahan itu menempatkan Super Elang Jawa di posisi ke-15 klasemen sementara, sebuah posisi yang belum mencerminkan ambisi tim untuk bersaing di papan atas.
Bek senior Fachruddin Aryanto tidak menampik bahwa hasil tersebut jauh dari harapan. Menurutnya, persiapan menghadapi Dewa United sebenarnya sudah dilakukan secara maksimal, termasuk menjadikan dua pertandingan sebelumnya sebagai bahan evaluasi. Namun, ia mengakui ada faktor di luar kendali yang membuat tim kehilangan momentum.
"Kami sudah fokus sepekan terakhir, tetapi mungkin ada sedikit kehilangan konsentrasi sehingga hasilnya berbeda. Ini akan menjadi pelajaran berharga," ujar Fachruddin, dikutip dari Bola.com.
Sebelum kalah dari Dewa United, PSS juga menelan kekalahan dari dua tim berjuluk United lainnya: Bali United (1-2) dan Madura United (1-3). Tiga kekalahan beruntun ini menjadi sinyal bahaya bagi tim asuhan pelatih yang belum berhasil menemukan formula terbaiknya. Fachruddin menekankan bahwa evaluasi dari staf pelatih sudah dilakukan, tetapi dinamika pertandingan sering kali menghadirkan situasi tak terduga yang harus diantisipasi para pemain.
Jeda kompetisi akibat agenda FIFA Matchday menjadi berkah terselubung bagi PSS untuk melakukan pembenahan. Manajemen memutuskan memberikan waktu istirahat singkat, hanya dua hari, sebelum skuad kembali menggelar latihan pada Rabu (23/9/2026). Keputusan ini menunjukkan bahwa tim tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan segera fokus memperbaiki kelemahan.
Dalam konteks persaingan BRI Super League, start buruk seperti ini bisa berdampak panjang. Poin yang hilang di awal musim sering kali sulit dikejar, terutama jika tim pesaing terus konsisten. PSS dituntut segera bangkit agar tidak terjebak di papan bawah dan kehilangan dukungan suporter. Laga melawan PSM Makassar pada 11 Oktober nanti akan menjadi ujian krusial: apakah evaluasi selama jeda mampu mengubah nasib, atau justru memperpanjang mimpi buruk.
Fachruddin, yang pernah memperkuat Timnas Indonesia, menegaskan bahwa para pemain harus lebih peka terhadap situasi di lapangan. Ia berharap jeda ini dimanfaatkan untuk memperkuat mental dan taktik, sehingga kesalahan yang sama tidak terulang. "Hal-hal di luar prediksi bisa terjadi, dan itu harus jadi bahan introspeksi bagi kami sebagai pemain," tambahnya.
Dengan waktu persiapan yang relatif singkat, PSS Sleman harus segera menemukan keseimbangan antara pertahanan dan serangan. Tiga laga telah menunjukkan bahwa lini belakang rentan kebobolan, sementara produktivitas gol juga belum optimal. Pelatih dan staf akan dituntut untuk meracik strategi yang lebih solid, mungkin dengan mengubah formasi atau memberikan kesempatan kepada pemain muda.
Bagi publik sepak bola Indonesia, situasi PSS menjadi pengingat bahwa kompetisi domestik semakin kompetitif. Tim-tim promosi atau tim yang kurang diunggulkan mampu memberikan kejutan. PSS, dengan sejarah dan basis suporter besar, tidak boleh larut dalam keterpurukan. Dukungan dari manajemen, pemain, dan suporter akan sangat menentukan arah tim ke depan.
Jika evaluasi berjalan efektif, bukan tidak mungkin PSS kembali ke jalur kemenangan dan perlahan merangkak naik. Namun, jika tren negatif berlanjut, tekanan terhadap pelatih dan manajemen akan semakin besar. Akankah jeda kompetisi ini menjadi titik balik bagi Super Elang Jawa, atau justru mempertegas krisis yang sedang melanda?



