Muse Meta Salip ChatGPT di Fase Awal, Sinyal Perang Baru AI Mobile
Baca dalam 60 detik
- Aplikasi AI terbaru Meta, Muse, mencatatkan unduhan lebih tinggi dibanding ChatGPT pada 12 hari pertama peluncurannya di pasar Amerika Utara.
- Dominasi Muse tak lepas dari strategi cross-promotion Meta yang menghubungkannya dengan Facebook, Instagram, dan WhatsApp.
- Keberhasilan ini berpotensi mengubah peta persaingan asisten AI mobile, termasuk di Indonesia yang merupakan pasar besar bagi aplikasi Meta.

Aplikasi kecerdasan buatan terbaru dari Meta, Muse, mencatatkan performa awal yang melampaui ChatGPT. Data dari lembaga riset pasar Apptopia menunjukkan bahwa dalam 12 hari pertama peluncurannya, Muse diunduh lebih banyak dibandingkan ChatGPT pada periode yang sama setelah debutnya. Perbandingan ini dilakukan khusus untuk pasar Amerika Serikat dan Kanada.
Apptopia mencatat bahwa Muse berhasil mengumpulkan 1,8 juta unduhan di iOS untuk wilayah AS dan Kanada, sementara ChatGPT hanya mencapai 1,3 juta pada rentang waktu yang setara. Secara global, Muse telah diunduh 2,8 juta kali dalam 12 hari pertamanya. Angka ini menunjukkan bahwa laju pertumbuhannya belum melambat, bahkan Muse kini menempati posisi teratas di App Store AS, naik dari posisi kedua saat pertama kali diluncurkan.
Perbandingan ini bukannya tanpa catatan. ChatGPT saat pertama kali hadir di perangkat mobile hanya tersedia di iOS dan diluncurkan secara global, sedangkan Muse tersedia di iOS dan Android namun hanya untuk AS dan Kanada. Untuk menyamakan perbandingan, Apptopia membatasi analisis pada data iOS di kedua negara tersebut. Meski demikian, Muse tetap unggul dengan 359.000 pengguna aktif harian di iOS, lebih tinggi dari capaian ChatGPT pada periode yang sama.
Keunggulan Muse tidak lepas dari strategi promosi silang yang agresif dari Meta. Sebelumnya, Meta sukses melakukannya pada Threads, yang kini memiliki lebih dari 500 juta pengguna berkat integrasi dengan Instagram dan Facebook. Muse juga terhubung dengan kedua platform tersebut dan dapat digunakan di dalam WhatsApp, sehingga potensi pertumbuhannya semakin besar. Apptopia mencatat lebih dari 95% pengguna Muse juga merupakan pengguna Facebook, dan 63% di antaranya adalah pengguna Instagram.
"Data ini menunjukkan bahwa Muse bisa menjadi aplikasi terbaru Meta yang paling menonjol," ujar pihak Apptopia, seraya menambahkan bahwa angka-angka tersebut merupakan estimasi pihak ketiga dan bukan data internal Meta.
Meta sendiri belum merilis angka resmi terkait adopsi awal Muse. Namun, jika estimasi Apptopia mendekati kenyataan, ini menjadi sinyal kuat bahwa Meta mampu menantang dominasi OpenAI di pasar asisten AI mobile. Persaingan di ranah AI konsumen semakin memanas, dengan Google, Microsoft, dan sejumlah startup juga berlomba menghadirkan aplikasi yang makin cerdas dan terintegrasi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Indonesia adalah salah satu pasar terbesar bagi aplikasi Meta, dengan ratusan juta pengguna Facebook, Instagram, dan WhatsApp. Jika Muse nantinya tersedia secara global, termasuk di Indonesia, potensi adopsinya sangat besar. Hal ini bisa mempercepat penetrasi AI dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari belanja online, layanan pelanggan, hingga pendidikan. Di sisi lain, dominasi platform asing dalam ekosistem AI lokal bisa menjadi tantangan bagi pengembang dalam negeri untuk bersaing.
Pertanyaannya, akankah Muse mampu mempertahankan momentumnya setelah euforia awal mereda? Sejarah menunjukkan bahwa banyak aplikasi viral mengalami penurunan setelah periode peluncuran. Namun, dengan dukungan ekosistem Meta yang raksasa, Muse berpeluang besar menjadi pemain utama jangka panjang. Yang jelas, persaingan di pasar AI mobile semakin sengit, dan konsumen di seluruh dunia, termasuk Indonesia, akan menjadi penonton sekaligus penentu arah tren ini.



