Google Earth dan AI: Ketika Peta Tak Lagi Bisa Dipercaya
Baca dalam 60 detik
- Fitur AI generatif Google Earth yang memicu kontroversi ditarik dalam 24 jam setelah pengguna membuat citra satelit palsu, menyoroti risiko misinformasi.
- Kepercayaan pada peta, yang dibangun selama berabad-abad, kini terancam oleh teknologi yang dapat memanipulasi citra satelit asli.
- Langkah Google mundur menegaskan bahwa kepercayaan tetap menjadi fondasi utama dalam pemetaan, namun masa depan verifikasi data geospasial menjadi tidak pasti.

Google Earth, platform citra satelit yang selama dua dekade menjadi andalan jurnalis dan pemeriksa fakta, baru saja mengguncang kepercayaan publik. Fitur kecerdasan buatan generatif yang disematkan ke dalamnya, yang dikenal dengan nama Nano Banana 2, memungkinkan pengguna membuat citra satelit fiktif yang tampak meyakinkan. Dalam hitungan jam, muncul gambar-gambar palsu seperti pinggiran kota yang dibom, landmark yang runtuh, dan kilang minyak yang terbakar. Gelombang protes, termasuk dari BBC Verify, memaksa Google menarik fitur tersebut hanya dalam sehari.
Kontroversi ini bukan sekadar kegaduhan teknologi, melainkan ujian atas kepercayaan yang telah dibangun Google Earth selama bertahun-tahun. Sejak diluncurkan sebagai EarthViewer3D pada 2001 dan diperkenalkan ulang pada 2005, platform ini menjadi alat vital bagi komunitas intelijen sumber terbuka dan jurnalis untuk memverifikasi peristiwa penting, mulai dari banjir hingga konflik bersenjata. Ketika fitur AI ditambahkan, risiko manipulasi citra menjadi nyata, dan hal ini langsung memicu kekhawatiran akan meluasnya misinformasi.
Yang membuat masalah ini lebih rumit adalah cara kerja AI tersebut. Berbeda dengan membuat gambar dari nol, Nano Banana 2 mengedit citra satelit yang sudah ada. Jika pengguna ingin meruntuhkan Menara Eiffel, titik referensi di sekitarnya akan tetap sesuai dengan citra asli, sehingga sulit bagi pemeriksa fakta untuk mendeteksi keanehan. Ini berbeda dengan uji coba yang dilakukan profesor kartografi James Cheshire, yang meminta ChatGPT membuat citra banjir London; hasilnya jelas terlihat cacat karena bangunan dan jalan tidak proporsional. Dengan mengedit citra asli, AI menciptakan ilusi yang lebih sulit dibongkar.
Sejarah pemetaan menunjukkan bahwa kepercayaan pada peta tidak pernah sempurna. Pada abad ke-18, Pegunungan Kong yang fiktif menghiasi peta Afrika selama lebih dari satu abad, bahkan setelah ekspedisi membuktikan ketiadaannya. Kasus hukum pada 1785 tentang hak cipta peta juga menegaskan bahwa perbaikan atas karya sebelumnya diperbolehkan, asalkan bukan sekadar tiruan. Namun, dengan AI, pertanyaannya menjadi: di mana batas antara perbaikan dan manipulasi?
Bagi Indonesia, isu ini memiliki relevansi yang mendalam. Di tengah maraknya berita palsu dan hoaks, kepercayaan pada citra satelit sangat penting untuk memantau bencana alam, kebakaran hutan, atau bahkan pelanggaran batas wilayah. Jika alat verifikasi seperti Google Earth dapat dengan mudah dipalsukan, maka upaya penegakan hukum dan respons kemanusiaan bisa terhambat. Regulator dan platform media sosial perlu mempertimbangkan kebijakan yang lebih ketat terhadap konten geospasial yang dimanipulasi.
Langkah Google untuk mundur menunjukkan bahwa bahkan perusahaan teknologi paling ambisius pun menyadari pentingnya kepercayaan. Namun, pertanyaan yang menggantung adalah: akankah fitur serupa muncul kembali dengan pengaman yang lebih baik, atau justru semakin canggih sehingga sulit dideteksi? Di era di mana AI semakin merasuk ke berbagai aspek kehidupan, integritas data geospasial menjadi taruhan besar. Apakah kita masih bisa mempercayai apa yang kita lihat di layar?



