Bundesliga Cetak 137 Gol dalam Empat Pekan, Rekor 1983/84 Terancam
Baca dalam 60 detik
- Bundesliga musim ini meledak dengan 137 gol hanya dalam empat matchday, terbaik ketiga sepanjang sejarah kompetisi.
- Rata-rata 3,8 gol per pertandingan mengancam rekor 3,6 gol yang bertahan sejak musim 1983/84.
- Dominasi penyerang seperti Schick, Olise, dan Kane menjadi motor penggerak, dengan 11 pemain sudah mencetak minimal tiga gol.

Kompetisi Bundesliga baru berjalan empat pekan, tetapi jumlah gol yang tercipta telah menembus angka 137—sebuah capaian yang hanya dua kali terlampaui pada fase yang sama sepanjang sejarah liga. Jika tren ini berlanjut, musim 2026/27 berpotensi mengukir rekor baru sebagai edisi paling produktif.
Angka 137 gol tersebut menempati posisi ketiga tertinggi setelah matchday keempat, di bawah 140 gol pada musim 1984/85 dan 138 gol pada 2023/24. Ledakan gol sudah terlihat sejak pekan pembuka: dua laga masing-masing menghasilkan enam gol, termasuk kemenangan 5-1 Bayern Munich atas VfB Stuttgart dan drama imbang 3-3 antara Union Berlin dan Eintracht Frankfurt. Tiga pertandingan lain juga mencatatkan lima gol, yakni Köln 3-2 Hoffenheim, Elversberg 3-2 Bayer Leverkusen, dan Freiburg 4-1 Werder Bremen.
Pada matchday kedua, total 36 gol tercipta—satu gol lebih banyak dari pekan sebelumnya—menjadikannya matchday paling subur sejauh musim ini. Pekan lalu, dua laga kembali menyajikan tujuh gol: Bayern menghancurkan Union Berlin tanpa kebobolan, sementara Mainz menaklukkan Borussia Mönchengladbach 4-3. Secara keseluruhan, dari 36 pertandingan yang sudah dimainkan, rata-rata gol mencapai 3,8 per laga. Jika rata-rata ini bertahan hingga akhir musim, rekor Bundesliga akan terpecahkan; saat ini rekor tertinggi adalah 3,6 gol per pertandingan dengan total 1.097 gol dalam 306 laga pada musim 1983/84.
Di level individu, 11 pemain telah mencetak setidaknya tiga gol. Michael Olise, Yuito Suzuki, Phillip Tietz, Younes Ebnoutalib, dan Patrik Schick masing-masing mengoleksi empat gol, sementara Harry Kane dan lima pemain lain menguntit dengan tiga gol. Schick menjadi satu-satunya pemain yang mencetak gol di setiap matchday. Menariknya, 10 tim telah mencetak delapan gol atau lebih, menandakan lebih dari separuh divisi memiliki rata-rata minimal dua gol per pertandingan. Bayern memimpin dengan 14 gol, diikuti Freiburg (12) dan Augsburg (11) yang keduanya mencatat rekor klub setelah empat laga. Suzuki dan Igor Matanović menjadi bintang Freiburg, sedangkan Michael Gregoritsch dengan tiga golnya telah melampaui Alfreð Finnbogason sebagai pencetak gol terbanyak Augsburg di Bundesliga dengan total 38 gol.
Penyerang lain juga menunjukkan performa impresif. Niclas Füllkrug kembali ke Werder Bremen dengan mulus, mencetak gol dalam tiga laga terakhir, begitu pula Jonathan Burkardt untuk Eintracht Frankfurt. Maurice Krattenmacher dari Elversberg juga mencetak tiga gol, semuanya sebagai pemain pengganti—sebuah efisiensi yang luar biasa.
Bagi pembaca di Indonesia, fenomena ini bukan sekadar statistik. Bundesliga yang semakin agresif menyerang bisa memengaruhi lanskap taruhan bola dan fantasi sepak bola global, termasuk di pasar Asia Tenggara. Liga dengan rata-rata gol tinggi cenderung menarik lebih banyak penonton netral dan meningkatkan nilai hak siar, yang pada akhirnya berdampak pada pendapatan klub dan daya tarik kompetisi di mata sponsor. Selain itu, gaya permainan menyerang ini bisa menjadi referensi bagi liga domestik seperti Liga 1 Indonesia yang kerap dikritik karena produktivitas gol rendah. Meski demikian, ada pula kekhawatiran soal keseimbangan kompetisi: jika gol begitu mudah tercipta, apakah pertahanan menjadi sekadar formalitas?
"Rata-rata 3,8 gol per pertandingan adalah angka yang luar biasa. Ini menunjukkan kualitas serangan dan keberanian tim-tim Bundesliga, tetapi juga mengundang pertanyaan tentang soliditas lini belakang," ujar seorang analis sepak bola Eropa, seperti dikutip dari laporan Bundesliga.
Setelah jeda internasional selama tiga pekan, Bundesliga akan kembali bergulir. Dengan performa lini serang yang sedang panas, bukan tidak mungkin rekor 1.097 gol musim 1983/84 akan terlewati. Pertanyaannya, akankah tren gol ini bertahan atau justru meredup ketika intensitas kompetisi meningkat? Yang jelas, para penggemar sepak bola di seluruh dunia, termasuk Indonesia, patut menantikan apakah 'Torfabrik' benar-benar menggiling rekor baru.



