Logan Paul Gagal Total: 34 Jam Live Streaming Pokémon Shiny Onix Berakhir Tanpa Hasil
Baca dalam 60 detik
- YouTuber kontroversial Logan Paul mengakhiri siaran langsung perburuan shiny Onix setelah 34 jam tanpa hasil, meski telah berjanji tidak akan berhenti sebelum menemukannya.
- Upaya tersebut menuai kritik karena Paul terlihat kelelahan, meminta istrinya bermain, dan bahkan tidur saat siaran berlangsung, memicu spekulasi bahwa ini hanya gimmick untuk mempromosikan platform kartu digital.
- Kegagalan ini menimbulkan pertanyaan tentang etika dan keberlanjutan konten tantangan ekstrem di platform streaming, serta dampaknya terhadap kredibilitas influencer di mata penggemar.

Logan Paul, YouTuber yang dikenal dengan berbagai kontroversi, kembali menjadi sorotan setelah siaran langsung ambisiusnya untuk menangkap Pokémon shiny Onix berakhir sia-sia. Setelah 34 jam mengudara, ia menyerah tanpa hasil, meninggalkan ribuan penonton kecewa.
Perburuan shiny—upaya mendapatkan Pokémon dengan warna alternatif yang sangat langka—memang bukan tugas mudah. Peluang menemukan Onix shiny hanya 1 banding 8.192, dan meskipun ada metode untuk meningkatkan peluang, prosesnya bisa memakan waktu berhari-hari. Paul mengumumkan targetnya pada 18 September dan memulai siaran pada 19 September, berjanji tidak akan berhenti sampai berhasil.
Namun, semangat awal cepat memudar. Sekitar delapan jam setelah mulai, Paul meminta istrinya, Nina Agdal, untuk mengambil alih permainan. Dua jam kemudian ia kembali, tetapi kelelahan sudah terlihat. "Ini hal terbodoh yang pernah saya lakukan," ujarnya di tengah siaran. Pada jam ke-17, ia terlibat adu mulut dengan rekan-rekannya tentang rencana tidur, dan akhirnya meninggalkan siaran selama empat jam. Setelah kembali, ia menyerahkan kendali kepada Agdal dan akhirnya mengakhiri siaran pada jam ke-34.
Selama siaran, Paul juga menyempatkan diri mempromosikan platform kartu digital RipIt, memicu spekulasi bahwa acara tersebut hanya ajang komersial. Ketika seorang penonton mempertanyakan apakah ia benar-benar bermain, Paul bersikeras, "Saya tidak menonton orang lain melakukannya. Jika saya di ruangan ini, saya yang menekan tombol." Namun, sikapnya berubah drastis saat kelelahan memuncak.
"Ini gila, bro. Jari saya sakit," keluh Paul di tengah siaran.
Kegagalan ini bukan hanya soal permainan. Ini mencerminkan tren konten tantangan ekstrem yang semakin umum di platform seperti Twitch dan YouTube, di mana influencer berusaha menarik perhatian dengan aksi berlebihan. Namun, ketika antusiasme menguap, dampaknya bisa merusak kredibilitas. Komentar penonton seperti "wtf.. they gave up" dan "Larp" menunjukkan kekecewaan yang mendalam.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi cermin bagaimana konten kreator lokal juga kerap terjebak dalam perlombaan sensasi. Dengan basis penggemar Pokémon yang besar, penonton Indonesia mungkin merasakan kekecewaan serupa ketika janji tidak ditepati. Ini juga menyoroti pentingnya etika dalam bermitra dengan merek, agar tidak terkesan eksploitatif.
Ke depan, apakah Paul akan benar-benar melanjutkan perburuan seperti yang ia klaim? Atau ini menjadi pelajaran bahwa tidak semua tantangan layak untuk dipertontonkan? Yang jelas, penonton semakin kritis terhadap konten yang terasa dipaksakan.



