Dari Mimpi 5.000:1 ke Liga Satu: Kenangan 'Cubit Aku' Leicester City
Baca dalam 60 detik
- Sepuluh tahun setelah keajaiban 5.000:1, Leicester City justru bersiap menapaki Liga Satu Inggris, sebuah kontras yang menegaskan betapa cepatnya roda sepak bola berputar.
- Di balik gelar juara 2016, tersimpan kisah-kisah personal yang jarang terungkap, mulai dari undangan rahasia untuk segelintir jurnalis hingga sosis spesial yang dinamai sang manajer.
- Kisah ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari trofi, tetapi juga dari kebersamaan dan momen-momen kecil yang membentuk ikatan tim.

Leicester City, klub yang sepuluh tahun lalu mencatatkan salah satu keajaiban terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris dengan mengangkat trofi Premier League di tengah odds 5.000:1, kini harus berhadapan dengan realitas pahit: bermain di Liga Satu, kasta ketiga sepak bola Inggris, setelah dua musim beruntun terdegradasi. Kontras yang menohok ini menjadi pengingat betapa rapuhnya puncak kejayaan dan betapa cepatnya roda nasib berputar.
Musim 2015-2016 adalah dongeng yang tak pernah berhenti diceritakan. Saat itu, Leicester yang diasuh Claudio Ranieri tampil di luar dugaan, menyingkirkan raksasa-raksasa seperti Arsenal, Manchester City, dan Manchester United. Mereka memastikan gelar pada 2 Mei 2016 tanpa perlu bermain, setelah Tottenham Hotspur hanya mampu bermain imbang 2-2 melawan Chelsea. Kemenangan 3-1 atas Everton di King Power Stadium menjadi pesta penutup yang manis, dengan keunggulan akhir 10 poin atas Arsenal di posisi kedua.
Kini, di bawah manajer anyar Russell Martin, The Foxes dihadapkan pada misi yang tampaknya jauh lebih mudah: kembali promosi ke Championship. Namun, bagi mereka yang pernah merasakan manisnya gelar, tantangan ini terasa hambar. โDulu itu mimpi, sekarang juga mimpi, terutama karena kami bersiap ke League One,โ ujar salah satu sumber yang terlibat dalam kejayaan tersebut, menggambarkan perasaan surreal yang masih melekat.
Di balik gemerlap trofi, tersimpan kisah-kisah personal yang jarang terungkap. Salah satunya adalah undangan rahasia yang hanya diberikan kepada delapan jurnalis untuk mewawancarai Ranieri di Belvoir Drive, markas latihan lama Leicester, sehari setelah gelar dipastikan. Sementara media dunia berkumpul di King Power Stadium, segelintir wartawan pilihan itu justru ditarik kembali ke tempat latihan untuk berbincang santai dengan sang arsitek kemenangan selama 45 menit. Ranieri, yang kala itu baru kembali melatih di Inggris setelah 12 tahun, menerima standing ovation dari para jurnalis yang menyaksikan langsung keajaiban tersebut.
Ranieri memang dikenal dengan pendekatan non-konvensionalnya. Salah satu yang paling dikenang adalah ajakannya membuat pizza bersama skuad setelah clean sheet pertama mereka melawan Crystal Palace pada Oktober 2015. Bek tengah kala itu, Robert Huth, menuturkan bahwa momen di luar lapangan seperti itu justru mempererat kebersamaan tim. โKami menjaga clean sheet, lalu pergi membuat pizza. Anda jadi berbicara dengan rekan yang mungkin tidak pernah Anda ajak bicara di latihan karena ada 25 orang. Anda bisa saling memberi masukan dengan cara yang lebih santai, tanpa harus berada di ruang rapat yang kaku,โ kenangnya.
Kebersamaan itu pula yang memungkinkan Jamie Vardy melesakkan 24 gol dan Riyad Mahrez bersinar, dengan Ranieri bahkan menyamakan duet penyerang sayapnya dengan pesawat tempur RAF. Namun, tidak semua pemain merayakan gelar itu dengan pesta. Nathan Dyer, winger yang datang dengan status pinjaman dari Swansea pada hari terakhir bursa transfer, justru berada di rumah sakit menemani istrinya yang baru melahirkan anak kedua mereka. โSaya menonton pertandingan lewat laptop di rumah sakit. Saya tidak bisa hadir di pesta, tapi saya tidak akan pernah melewatkan kelahiran anak saya,โ ujarnya. Dyer juga mengenang bagaimana ia diterbangkan ke Leicester dengan helikopter pribadi mendiang pemilik klub, Vichai Srivaddhanaprabha, demi memastikan transfernya selesai sebelum tenggat.
Keajaiban Leicester juga meninggalkan jejak budaya yang unik. Sosis โRanieriโ yang dibuat oleh tukang daging lokal W Archer & Son, dengan resep daging babi, adas, bawang putih, dan cabai, sempat menjadi fenomena. Sosis ini bahkan memenangkan penghargaan di Great Taste Awards dan terjual hingga 12 kilogram per hari. Pemiliknya, Sean Jeynes, masih ingat betapa surrealnya masa itu. โKami membuat sosis dua atau tiga kali sehari, bau bawang putih dan adas di mana-mana. Itu benar-benar gila. Tidak ada yang bisa menggantikan sosis Italia itu, dengan resepnya yang khas dan sedikit sentuhan Liga Champions,โ kenangnya.
Bagi para penggemar, keajaiban ini juga membawa berkah finansial. Lynn Wyeth, salah satu ketua Foxes Trust, mengaku bisa pensiun di usia 55 tahun berkat taruhan kecilnya. โSaya memasang ยฃ2 pada Leicester dengan odds 5.000:1 di awal musim. Saat mereka semakin dekat dengan gelar, saya justru stres. Saya hampir ingin mencairkan taruhan lebih awal. Ketika menang, akun bank saya sempat diblokir karena dicurigai pencucian uang, tapi akhirnya beres juga. Terima kasih, Leicester,โ tuturnya.
Kisah Leicester City adalah pengingat bahwa dalam sepak bola, tidak ada yang mustahil. Namun, di balik setiap keajaiban, selalu ada cerita manusiawi yang memperkaya narasi. Kini, saat The Foxes bersiap mengarungi kerasnya League One, pertanyaannya bukan hanya apakah mereka bisa segera bangkit, tetapi apakah mereka mampu mempertahankan semangat kebersamaan yang pernah menjadi fondasi kesuksesan mereka. Sebuah pelajaran berharga bagi klub mana pun, termasuk di Indonesia, bahwa kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari piala, tetapi dari bagaimana sebuah tim dan komunitasnya saling menguatkan.



