Ipswich Ubah Strategi Rekrutmen demi Bertahan di Premier League: Dari 'All-Stars' Championship ke Petualangan Global
Baca dalam 60 detik
- Ipswich Town menggelontorkan dana 106,6 juta pound untuk 10 pemain anyar, menjadikannya klub dengan belanja bersih terbesar keempat di Premier League musim panas ini.
- Manajer anyar Gary O'Neil meninggalkan pendekatan domestik ala pendahulunya, Kieran McKenna, dan mulai berburu talenta dari Brasil, Jepang, dan Serbia untuk menambah variasi fisik dan teknik.
- Keberhasilan Ipswich bertahan di Premier League musim ini akan menjadi ujian apakah strategi global ini mampu mengatasi kegagalan musim lalu yang hanya mengumpulkan 22 poin.

Ipswich Town, yang baru saja promosi ke Premier League, telah mengubah total strategi rekrutmen mereka di bawah manajer baru Gary O'Neil. Setelah musim lalu terpuruk dengan hanya 22 poin, klub asal Suffolk ini kini berani membelanjakan 106,6 juta pound untuk 10 pemain baru, menjadikannya salah satu pembelanja terbesar di liga. Namun, yang lebih menarik adalah pergeseran dari pendekatan yang sebelumnya sangat bergantung pada pemain domestik menjadi perburuan talenta global.
Di bawah kepemimpinan Kieran McKenna yang sukses membawa Ipswich promosi beruntun, klub ini nyaris selalu merekrut pemain dari Inggris dan Irlandia. Dari 39 rekrutan permanen selama era McKenna, 32 di antaranya berasal dari Britania Raya atau Irlandia. Pendekatan ini memang efektif di Championship, tetapi terbukti gagal total di Premier League musim 2024-25. Ipswich finis di posisi kedua terbawah dengan selisih 16 poin dari zona aman, dan hanya mampu memenangkan enam pertandingan sepanjang musim.
Kegagalan itu menjadi pelajaran berharga. Ketika kembali promosi, Ipswich memutuskan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Mereka kini memboyong pemain-pemain seperti Emersonn dari Brasil, Daizen Maeda dari Jepang, dan Sasa Lukic dari Serbia. Ini adalah pertama kalinya klub memiliki pemain dari negara-negara tersebut. Hanya Chuba Akpom yang merupakan pemain Inggris, dan itu pun karena kewajiban membeli setelah masa pinjamannya.
Ketua klub Mark Ashton mengakui bahwa mereka harus lebih berani. "Kami harus berani mengambil risiko dan mencari pemain dengan atribut fisik yang berbeda," ujarnya. O'Neil, yang sebelumnya menangani Bournemouth dan Wolves, juga menegaskan bahwa timnya membutuhkan kualitas dari berbagai belahan dunia. "Dua musim lalu kami tidak mampu bertahan, kali ini kami harus lebih baik," katanya.
Salah satu alasan pergeseran ini adalah kebutuhan akan pemain yang lebih atletis. Musim lalu, lini tengah Ipswich kurang memiliki kekuatan dan kemampuan merebut bola. Florentino Luis dan Sasa Lukic diharapkan bisa mengisi kekosongan tersebut. Selain itu, O'Neil juga mencari ketajaman di lini depan, mengingat tidak ada pemain Ipswich yang mencetak lebih dari 10 gol non-penalti di Championship musim lalu. Emersonn, yang baru menonjol di Toulouse dengan tujuh gol musim lalu, diharapkan bisa menjadi jawaban, meski masih dianggap mentah.
Namun, strategi ini bukan tanpa risiko. Sejarah menunjukkan bahwa belanja besar tidak menjamin keselamatan. Fulham, Southampton, dan Burnley adalah contoh klub yang menghabiskan banyak uang namun tetap terdegradasi. Di sisi lain, Sunderland, Nottingham Forest, dan Aston Villa berhasil bertahan setelah belanja besar. Ipswich juga harus berhati-hati dengan keuangan mereka. Meskipun menghabiskan banyak uang untuk transfer, mereka berhasil mencatatkan laba 4 juta pound musim lalu berkat penjualan Liam Delap ke Chelsea dan penghematan gaji yang hanya 77 juta pound, terendah di Premier League.
Bagi Indonesia, strategi Ipswich ini menarik untuk diamati. Klub-klub Asia, termasuk Indonesia, sering kali kesulitan bersaing di liga Eropa karena keterbatasan finansial dan kualitas pemain. Namun, keberanian Ipswich merekrut pemain dari Jepang dan Brasil menunjukkan bahwa klub-klub kecil pun bisa bersaing dengan memanfaatkan pasar global. Ini bisa menjadi inspirasi bagi klub-klub Indonesia untuk lebih berani mencari talenta dari luar negeri, meskipun harus diimbangi dengan pembinaan pemain lokal.
Dengan manajer baru, rekrutan anyar, dan fasilitas latihan baru senilai 30 juta pound, Ipswich sedang berada di titik balik. Pertanyaannya, apakah strategi global ini akan membawa mereka bertahan di Premier League untuk pertama kalinya dalam 25 tahun? Atau akankah mereka kembali terdegradasi seperti musim lalu? Jawabannya akan terungkap dalam beberapa bulan ke depan.



